Iklan
kesehatan

Dunia Kedokteran Kerap Mendiskriminasi Perempuan

Banyaknya mitos seksis mengenai kesehatan dan rasa sakit membuat perempuan sulit mendapat diagnosa dan perawatan layak untuk penyakit-penyakit serius.

oleh Emalie Marthe
14 Februari 2017, 7:04am

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Kebijakan-kebijakan konservatif terkait isu kesehatan yang sedang dirancang pemerintahan Donald Trump membuat perempuan-perempuan Amerika Serikat khawatir akan kesulitan mengakses jasa layanan kesehatan. Kini, mereka punya satu lagi hal yang akan memperburuk kondisi ini: sikap dokter yang kerap seksis ketika menangani perempuan.

"Sayangnya, dokter sering menangani pasien perempuan tidak seserius terhadap pasien lelaki," ungkap Jennifer Wider, ahli kesehatan perempuan dan juru bicara Society for Women's Health Research saat diwawancarai Broadly. "Riset menunjukkan bahwa dokter, tidak peduli gender mereka, kerap menganggap remeh rasa sakit yang dialami pasien perempuan dan akibatnya tidak memberikan mereka obat yang sesuai dengan segera." Penelitian yang dirilis di Journal of Law, Medicine & Ethics tahun 2001 menyatakan dokter sering termakan paham tidak benar "perempuan secara alami lebih tahan rasa sakit" dan perempuan sanggup melawan rasa sakit karena stres yang mereka derita ketika melahirkan anak. Penelitian yang dilakukan National Institute of Health juga menunjukkan bahwa perempuan cenderung harus menunggu 16 menit lebih lama dibanding laki-laki sebelum diberikan obat penahan rasa sakit di ruang gawat darurat. Dalam penelitian tersebut diungkap juga bahwa perempuan mempunyai peluang 13 hingga 25 persen lebih kecil untuk diberikan opioid (obat penahan rasa sakit) ketika sedang menderita.

Banyak dari perempuan-perempuan muda yang kini sadar bahwa dokter kerap memandang pasien perempuan dengan berbagai stereotipe. Saya pertama kali sadar bahwa dokter menyepelekan rasa sakit ketika kista ovarium saya pecah. Dokter saya sebelumnya memberi resep sejenis pereda nyeri untuk saya minum ketika rasa sakit melanda, namun dokter saya yang baru (yang saya yakin belum pernah mengalami rasanya kista ovarium pecah) malah tersenyum jijik ketika saya meminta obat tersebut. "Saya tak terlalu suka memberi resep painkiller untuk penyakit semacam ini," katanya. "Kamu sudah pernah coba meditasi untuk melawan rasa sakit?"

Saya yakin bukan hanya saya sendiri yang mengalami perlakuan seperti ini. Rasa sakit akibat datang bulan dan proses reproduktif seringkali tidak dirawat dengan layak dan kurang didanai pemerintah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Research Gate, ada lima kali lipat lebih banyak studi mengenani disfungsi ereksi dibanding tentang PMS, padahal hanya 19 persen laki-laki dilaporkan mengalami disfungsi ereksi sepanjang hidup mereka. Coba bandingkan ini dengan 90 persen perempuan yang mengalami gejala PMS.  Penelitian yang dilakukan tahun 2001 tersebut juga membeberkan bagaimana rasa sakit yang dialami perempuan cenderung dianggap "Psikogenik" atau "karena emosi" dan bukan karena faktor-faktor biologis.

Foto oleh Miquel Llonch via Stocksy

Saya sempat ngobrol dengan seorang perempuan yang minta dipanggil Inga (bukan nama asli demi menjaga identitas) yang menderita rasa sakit permanen di rahang. Dokter gigi langganannya sering bertanya apabila Inga stres dan mendiagnosanya dengan temporomandibular joint disorder (TMJD) yang disebabkan oleh kegelisahan berlebihan. Bertahun-tahun, Inga dirawat namun tidak pernah sembuh. Akhirnya suatu hari Inga menjalani X-ray dan menemukan bahwa sepotong gigi geraham bungsunya nyangkut di rahang. Diagnosa yang tidak akurat—bahwa penyebab penyakit adalah stres dan bukan faktor lain—dapat menyebabkan pasien menghabiskan bertahun-tahun menjalani perawatan yang tidak sesuai. "Stereotipe seksis sudah lama ada dalam dunia kesehatan," ungkap Wider

Adakah alasan lain kenapa dokter kerap mendiagnosa pasien perempuan secara tidak layak? Sebuah penelitian yangdilakukan pada 2010 oleh Cardiovascular Quality and Outcomes menemukan bahwa perawatan untuk mencegah penyakit kardiovaskular ditemukan lewat sebuah uji coba di mana hanya 34 persen pesertanya adalah perempuan. Ada juga penelitian yang menyimpulkan mahasiswa-mahasiswi kedokteran cenderung salah mendiagnosa perempuan dengan gejala penyakit jantung koroner, lalu mengatakan bahwa mereka disebabkan oleh stres. Kesimpulan para dokter ini berbeda saat meeka memeriksa pasien laki-laki dengan gejala yang sama.

Selain sulit mendapatkan diagnosa yang layak, banyak perempuan mempunyai masalah dengan sikap dokter yang kerap menyepelekan mereka. Perempuan bernama Beth harus menghabiskan berbulan-bulan menderita sakit perut yang luar biasa. Dia berkali-kali harus pergi ke dokter, termasuk ahli gastroenterologi yang berkali-kali mengatakan bahwa dia 'hanya' mengidap perut mulas. "Saya menangis karena rasa sakitnya luar biasa dan saya hampir tidak bisa makan makanan keras sama sekali," kata Beth. "Ketika saya menangis, si dokter malah bertanya, 'Bagaimana kehidupan rumah tangga kamu?' dengan nada yang merendahkan." Tidak puas dengan diagnosa ini, Beth memaksa dokternya mendaftarkan CAT scan. Hasilnya? Ternyata dia memiliki tumor.

Bagaimana perempuan bisa mendukung dirinya sendiri dengan lebih baik ketika banyak staf kedokteran profesional bahkan tidak serius menanggapi mereka? Jelas dokter-dokter harus bisa membebaskan dirinya dari mitos bernada seksis seputar kesehatan dan rasa sakit perempuan. Namun, Dr. Wilder juga mengatakan bahwa perempuan harus berani bersuara agar suaranya didengar. "Perempuan harus menjaga diri mereka sendiri dan mempercayai naluri mereka" jelasnya. "Apabila mereka menderita rasa sakit yang akut, mereka harus langsung bersuara."

Tagged:
seksisme
Budaya
Kedokteran
Dunia Medis
Rasa Sakit