Iklan
Cinta itu Indah

Tren Ruqyah LGBTQ: Tak Efektif Tapi Justru Tambah Populer di Indonesia

Kami ngobrol seorang biseksual yang dipaksa ikut ruqyah oleh keluarga, dan praktisi terapi alternatif tersebut, untuk memahami penyebab tren sia-sia ini makin marak.

oleh Vania Evan
14 Februari 2020, 8:18am

Ilustrasi ruqyah LGBT oleh Farraz Tandjoeng.

Artikel ini adalah bagian dari seri liputan VICE Asia Pasifik tentang cinta yang universal. Termasuk mereka yang memutuskan jujur dengan hasratnya, serta bagaimana kita mengatasi sekian hambatan untuk menjalin kasih sayang dengan orang-orang di sekitar. Alhasil, cerita cinta yang diliput VICE mencakup realitas kencan di dunia digital, pengalaman cinta komunitas LGBTQ, serta relasi pacaran yang tidak lazim. Baca cerita-cerita lain seputar cinta universal itu di tautan ini.


Sehabis salat maghrib berjamaah, Syifa* diminta kedua orang tuanya berbaring di sajadah. Mereka hendak "menormalisasi" orientasi seksualnya. Kedua orangtuanya khusyuk membaca surat-surat dari Al Quran. Sepanjang proses ruqyah yang berlangsung pertengahan tahun lalu itu, Syifa berusaha keras menahan tawa. "Menurut gue ini konyol banget, tapi gue mencoba menghargai prosesnya mereka," ujarnya kepada VICE.

Sebagai seorang muslim, Syifa tentu akrab dengan metode ruqyah: upaya menangkal sihir, gangguan mahluk halus, dan pengaruh buruk barang gaib lain lewat pembacaan doa dan ayat Al Quran. Tapi dia amat yakin yang sedang dia alami bukan perkara gaib sama sekali. Dia hanya berhasrat pada lelaki maupun perempuan—kita biasa menyebutnya biseksual. Tidak kurang, tidak lebih.

Proses itu berlangsung sekitar setengah jam. Syifa mengaku tidak ada yang berubah setelah diberi doa dan bacaan kitab suci. Perempuan berusia 33 tahun ini sampai sekarang masih menjalani hubungan dengan kekasihnya. Tapi Syifa melihat orang tuanya merasa lebih lega setelah mencoba melakoni ruqyah, sehingga dia diam saja.

Syifa memutuskan coming out ketika bercerai dari pernikahan dua tahun dengan lelaki yang tak pernah dia cintai, lantas memilih hidup bersama seorang perempuan—dan akhirnya membuat ayah ibu tahu soal orientasi seksualnya. Dia tak ingin menyakiti perasaan orang tuanya dengan menegaskan bahwa ruqyah mereka sebenarnya tak berguna sama sekali.

"[Orang tuaku] hanya enggak tahu gimana cara menghadapinya, tapi mereka mau melakukan sesuatu karena mereka kira [menjadi LGBTQ] itu hal yang salah," kata Syifa.

Syifa sempat juga mengalami prosesi serupa di salah satu pusat terapi ruqyah bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Syifa sendiri mengaku tidak mengalami hal aneh. Tapi, seingatnya, suasana ruqyah kala itu lumayan traumatik.

Pusat terapi yang sudah memiliki 32 cabang lain di kota-kota besar Indonesia itu terdiri dari beberapa kamar. Syifa mendengar suara teriakan dari bilik sebelah. Juga suara pukulan sapu lidi yang mengenai bagian tubuh. Ruqyah, pada praktiknya, bisa menyakitkan bagi yang harus menjalaninya. "Aku beruntung enggak diapa-apain," ujarnya.

Ruqyah sebagai solusi 'mengobati' orang yang memiliki orientasi seksual berbeda makin marak di Indonesia selama tiga tahun belakangan. Pemerintah Kota Padang, Sumatra Barat, termasuk yang mewacanakan program 'menyembuhkan' komunitas LGBTQ agar menjadi heteroseksual kembali lewat proses ruqyah.

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, sepanjang November-Desember 2019, mencokok 18 pasangan LGBTQ yang kemudian dipaksa mengikuti program ruqyah. "Di sini kita telah menyiapkan pakar ruqyah untuk mereka [komunitas LGBT]," kata Lucky Abdul Hayyi, anggota sebuah ormas di Padang, kepada Covesia. "Biasanya laki-laki dirasuki oleh jin perempuan, ini yang banyak kita jumpai terhadap pelaku LGBT. Selain itu, yang waria nanti juga akan dibina oleh TNI."

Sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki pandangan negatif terhadap kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ). Sebagian lainnya malah menganggap komunitas LGBTQ sebagai ancaman. Itulah kesimpulan hasil survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dua tahun lalu. Jumlah yang merasa sangat terancam atas keberadaan LGBTQ mencapai 87,6 persen dari total 1.220 responden di seluruh wilayah indonesia, saat survei digelar 2017.

Dampaknya, tekanan terhadap minoritas seksual muncul dari berbagai lini. Pemerintah daerah, polisi, hingga masyarakat saling berjejaring mempersekusi LGBTQ. Presiden Joko Widodo pernah mengklaim polisi harus siap melindungi komunitas rentan, termasuk LGBTQ, dari berbagai ancaman fisik. Tapi realitas berkata sebaliknya. Berbagai kebijakan anti-LGBTQ seringkali mencuat jelang pilkada.

Intensitas tekanan itu lantas membuat komunitas LGBTQ sendiri merasa rentan dan akhirnya memilih atau dipaksa mengikuti ruqyah untuk bisa diterima keluarga. Salah satu terapis di Bekam dan Ruqyah Center kawasan Santa, Jakarta Selatan, bernama Ailsa, menyatakan tiap pekan ada saja satu atau dua "pasien" yang datang dengan alasan menyembuhkan orientasi seksualnya. Dia enggan menyebut, berapa banyak pasien datang atas kemauan sendiri atau dibawa keluarga.

Praktisi ruqyah sebenarnya juga tidak yakin terapi Islami ini akan selalu berhasil, mengingat orientasi seksual bukan semata perkara pengaruh bisikan jin. "Ya wallahu a'lam," kata Ailsa pada VICE. "Tidak semua [ruqyah] bisa dikaitkan dengan hal mistis, dan tidak semua permasalahan merujuk kepada jin dan sebagainya."

Ailsa bilang, sesi ruqyah LGBTQ biasanya hanya berupa pembacaan doa dan diskusi bersama. Dari pengalaman sang terapis, pernah ada klien laki-laki remaja homoseksual yang datang untuk diruqyah bersama dengan ibunya. Setelah berkonsultasi, terapis menyimpulkan homoseksualitasnya disebabkan serial-serial drama Korea yang sering ia tonton dan kesukaannya akan seni tari yang kerap dibiarkan oleh orangtuanya.

"Perkiraan saya mungkin hormon perempuannya jadi lebih dominan dan hormon laki-lakinya jadi berkurang. Hormon perempuan yang bertambah itu kemudian berpengaruh ke perasaannya. Saya waktu itu menyarankan untuk mencari hobi lain yang lebih laki-laki," kata Ailsa. Sang terapis meyakini bahwa laki-laki hanya boleh melakukan kegiatan yang "sifatnya laki-laki", begitu pula perempuan hanya boleh melakukan kegiatan yang "sifatnya perempuan".

Penjelasan Ailsa berbeda dari keyakinan Aris Fathoni, ustaz yang selama 15 tahun biasa melakukan ruqyah. Aris menilai gay atau transgender "diganggu jin." Aris menjelaskan kepada ABC dia akan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an kepada pasiennya yang sedang diruqyah. Dia lalu memukul punggung mereka dengan sapu lidi. Dia yakin kalau praktik ini dapat "menyembuhkan" anggota komunitas LGBT.

"Memang beberapa kasus itu memang ada gangguan jinnya yang akhirnya dia berbuat seperti itu [homoseksual]," ujar Aris.

Beberapa prosesi ruqyah tidak sekadar pembacaan doa. New Naratif pernah meliput praktik ruqyah LGBT di Medan, Sumatra Utara, yang melibatkan tepukan, pijatan, hingga "pasien" dipaksa berendam dalam air yang telah dibacakan doa dan dicampur garam beserta daun bidara. Dalam video yang viral, peserta ruqyah LGBT itu ada yang berteriak. Ustaz yang menjalankan ruqyah mengklaim teriakan itu dari jin yang merasuki mereka.

Syifa termasuk yang beruntung, tidak sampai mengalami trauma apapun saat melakoni ruqyah. Namun di mata Yuli Rustinawati, maraknya praktik ruqyah ini berbahaya. Sebagai Ketua Arus Pelangi, organisasi swadaya yang mengadvokasi hak LGBTQ di Indonesia, Yuli menilai ruqyah yang dipaksakan pada minoritas seksual tidak masuk akal. Apalagi kalau sampai diwajibkan seperti yang terjadi di Padang.

"Sentimen menggunakan moralitas itu terjadi dan dampaknya adalah kekerasan yang cukup luar biasa di kawan-kawan LGBT ini. Kemudian Satpol PP ikut-ikut melakukan itu, rujukannya apa? Dan kemudian diruqyah, misalnya," ujar Yuli saat diwawancarai BBC Indonesia.

Secara umum masyarakat di Indonesia masih sering membenturkan LGBTQ dengan doktrin moral, di mana orientasi seksual berbeda dianggap mengundang bencana. Dari sanalah prasangka buruk terhadap minoritas LGBTQ muncul.

Peneliti SMRC, Sirojudin Abbas, saat diwawancari VICE, menilai masyarakat Indonesia sulit membedakan antara mendukung hak hidup dan perlindungan LGBT dengan menjadi bagian dari komunitas tersebut. Kebanyakan orang enggan diasosiasikan dengan gerakan LGBTQ, meskipun sebetulnya mereka sadar minoritas seksual adalah warga negara yang punya hak hidup dan wajib dilindungi aparat. Termasuk juga, hak untuk tidak dipaksa mengikuti terapi konversi orientasi seksual oleh keluarga atau pemerintah, tanpa kemauan sendiri.

"Mereka sebagai warga negara punya hak hidup, malah dicurigai sebagai orang jahat yang ingin menulari masyarakat dengan orientasi seksualnya," kata Abbas.

Syifa sendiri merasa sudah berdamai dengan keluarganya, sekalipun mungkin mereka tak pernah menerima kondisinya sebagai biseksual. Tapi, dari yang dia maknai, semua tetek bengek ruqyah itu sebetulnya bukan untuk LGBTQ sepertinya melainkan coping mechanism ayah dan ibunya. Begitulah barangkali cara mereka menerima keputusan Syifa coming out, dan dia menghormati itu.

"Mereka butuh meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka telah melakukan sesuatu," ujar Syifa. "Ruqyah sepertinya lebih ditujukan untuk mereka, bukan untuk saya."

*Nama narasumber disamarkan untuk melindungi privasinya

Tagged:
Budaya
Diskriminasi
Agama
LGBTQ di Indonesia
Konservatisme
Hak LGBTQ
Ruqyah
Kekerasan Simbolik
Ruqyah LGBTQ