Iklan
Konflik AS-Iran

Trump Rupanya Ngibul, Ada Belasan Tentara AS Dirawat di RS Karena Serangan Rudal Iran

Pentagon sendiri yang mengakui ada personel militer AS di Irak yang harus dilarikan ke Jerman. Sebelumnya, Presiden Trump mengklaim tak ada warga negaranya terluka akibat serangan balasan Iran.

oleh Paul Blest
23 Januari 2020, 8:06am

Prajurit AS di Irak memantau lubang bekas hantaman rudal Iran yang menerjang pangkalan mereka di Ain al-Asad, Provinsi Anbar. Foto oleh Qassim Abdul-Zahra/AP

Iran sempat membalas pembunuhan jenderal mereka dengan mengirim puluhan rudal ke markas militer Amerika Serikat di Irak awal bulan ini. Serangan itu disepelekan oleh Presiden Donald Trump, yang mengklaim dalam jumpa pers bila tak ada satupun warga negara AS terluka dalam insiden tersebut. Nyatanya, Kementerian Pertahanan AS (biasa dijuluki Pentagon) akhirnya mengakui fakta lain. Minimal belasan prajurit mereka terluka akibat serangan rudal itu, dan jumlahnya bisa bertambah.

Pengakuan ini pertama kali disampaikan Pentagon jumat pekan lalu, setelah juru bicaranya kepada wartawan mengklarifikasi bila ada 11 prajurit AS yang terpaksa dirawat di rumah sakit atas gejala mirip gegar otak. Mereka semua bertugas di markas yang dihujani rudal oleh Iran. Dua hari lalu, Pentagon membuat pengumuman lain, bahwa ada personel militer mereka yang terpaksa harus dievakuasi ke Jerman untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Pentagon kali ini menolak merinci berapa orang yang kondisi kesehatannya memburuk sehingga harus dibawa keluar dari Irak.

Trump, saat dikonfirmasi terpisah sesudah menghadiri pertemuan World Economic Forum di Davos, tetap berkukuh kalau cedera para prajurit itu sepele. "Saya dengar mereka cuma sakit kepala atau sejenis itu. Sakit biasa, bukan sesuatu yang serius," ujarnya. Salah satu wartawan mengejar lagi, sembari mengutip data kalau beberapa dari mereka mengalami gegar otak dan gangguan kesehatan serius.

Trump hanya merespons kalaupun info tersebut benar, maka sakit mereka tetap tak bisa dianggap berbahaya. "Minimal tidak sebahaya cedera lain yang biasa dialami personel militer," tandas sang presiden AS.

Pentagon masih menutup-nutupi jumlah total personel militer yang terluka akibat serangan rudal Iran. "Yang bisa kami sampaikan, dari evaluasi tim medis di Irak, kemungkinan jumlah prajurit yang harus dirawat karena cedera dan gangguan kesehatan lain masih bisa bertambah," kata Mayor Jenderal Beth Riordan, jubir Pentagon, dalam keterangan tertulis. Riordan juga mengingatkan, bahwa gejala gangguan kesehatan korban serangan rudal Iran itu bisa lebih serius dari tinjauan awal.

Konflik AS-Iran bermula pada 3 Januari lalu, ketika Trump memerintahkan serangan drone yang berhasil membunuh Jenderal Qasem Soleimani, petinggi Garda Revolusi Iran, sekaligus menewaskan Abu al-Muhandis—tokoh milisi Irak yang disegani. Negeri Paman Sam membunuh keduanya, karena Soleimani dan al-Muhandis dianggap menggerakkan massa untuk merusak Kantor Kedutaan AS di Irak.

Lima hari setelah pembunuhan sang jenderal, Iran membalasnya, dengan menghujani rudal ke dua markas militer AS di Irak. Sehari setelah serangan itu dilaporkan media, Trump menggelar konferensi pers yang mengklaim tak ada warganya jadi korban dari serangan misil tersebut.

Petinggi Iran berjanji akan terus membalas AS. Konflik kedua negara sejauh ini belum meningkat, karena militer AS juga menahan diri setelah serangan rudal di Irak. Meski begitu, potensi Perang Dunia III masih belum berhenti sepenuhnya. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada khotbah Jumat pekan lalu, menyebut Trump sebagai "badut" yang tindakannya mengguncang stabilitas Timur Tengah.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Tagged:
davos
Trump
iran
Amerika Serikat
Berita
Timur Tengah
perang
Ayatullah Ali Khamenei
Soleimani
Prajurit AS