The Business of Babies

Seberapa Masuk Akal Ongkos Rp166 Juta untuk Persalinan dan Perawatan Bayi?

Kami bertanya kepada tiga ibu muda di Indonesia, untuk mengetahui pendapat mereka soal hitungan ongkos yang viral. *Spoiler: ada yang menganggap angka di medsos masih kurang.
17 Juni 2020, 10:21am
Perhitungan biaya persalinan bayi di Indonesia
Proses persalinan salah satu RS Jakarta di tengah pandemi Covid-19. Foto oleh Adek Berry/AFP

"The Business of Babies" adalah seri liputan VICE menelisik fenomena di Indonesia, seputar isu reproduksi yang kini menjadi bisnis bernilai miliaran Rupiah.


Jangankan para lajang, dokter aja kaget merespons unggahan akun firma penasihat finansial Jouska di Instagram. Jouska mengestimasi biaya melahirkan anak dan perawatannya di satu tahun pertama. Angkanya sebelas-dua belas sama ongkos renovasi rumah standar, mencapai Rp166 juta.

Tak pelak, postingan tersebut membuat cercaan netizen berdatangan. Alasannya, selain karena menakut-nakuti orang untuk punya anak, Jouska juga dituding menyamakan anak dengan aset.

VICE mencoba maju selangkah dari kontroversi ini, dengan mengonfirmasi seberapa masuk akal perhitungan tersebut buat para ibu. VICE berinisiatif menghubungi tiga perempuan: seorang ibu muda beranak satu, seorang calon ibu muda, dan seorang pengantin baru, demi mengetahui pendapat mereka terkait biaya persalinan dan perawatan bayi di tahun-tahun awal.

Leika*, 27 tahun, ibu satu anak, karyawan swasta, Jakarta

VICE: Lagi ramai nih anggaran melahirkan dan merawat bayi versi Jouska mencapai Rp166 juta. Menurut elo, masuk akal biaya persalinan yang dicatat sampai Rp88 juta ini?
Leika: Hahaha… jujur bisa malah banget lebih dari itu. Perlengkapan mama (di postingan Jouska) Rp1,2 juta? Hm, nipple cream itu Rp200 ribu bisa dipakai enam bulan. Kalau gue menyusui setahun aja udah butuh Rp400 ribu. Sisa cuma Rp800 ribu doang, padahal bra menyusui satunya paling murah Rp175 ribu, yang favorit start from Rp360 ribu.

Rata-rata temen gue yang di Jakarta kalau operasi caesar itu Rp40-60 juta. Kalau dia ada special condition, Rp88 juta itu wajar banget menurut gue. Belum kalau anaknya harus masuk NICU (ruang perawatan intensif kalau bayi baru lahir mengalami gangguan kesehatan) dan pakai sinar biru segala. Persalinan kan enggak bayarin ibu doang, tapi anak juga.

Kalau melihat anggaran berbagai perlengkapan di postingan itu, apa tanggapanmu?
Perlengkapan kesehatan cuma Rp570 ribu itu juga kurang masuk akal. P3K bayi yang standby di rumah itu rata-rata per buah Rp200 ribu. Padahal perlu provide dari Betadine, kasa, sampe rash cream. Termometer bayi aja Rp600 ribu sendiri. Perlengkapan baby activity mungkin bisa ketolong lewat kado-kado ya.

Tapi emang mahal banget, terutama ketika lo berkomitmen ngerawat anak dengan zero screen time. Jadi, selain beliin mainan, lo juga harus stimulasi perkembangan anak lewat activity di luar. Misalnya pakai jasa gym khusus bayi. Langganan 16 kali pertemuan gym kayak gitu aja udah Rp4,5 juta sendiri.

Seriusan, perlengkapan mandi bayi hampir Rp7 juta?
Yang gue inget, baju sama alat mandi itu sekitar Rp5-6 juta. Mungkin si ibu ini (sumber data Jouska-red) membeli bak mandi yang bisa atur suhu dan ada termometernya which is harganya udah Rp2 juta-an. Perlengkapan tidur kalau beli crib paling murah itu Rp999 ribu, rata-rata yang dibeli orang Rp3-4 jutaan. Kelambu, lemari, changing station, kalau dia beli selengkap itu Rp8,9 juta.

Kalau perlengkapan pergi bayi Rp8,7 juta di catatan Jouska oke-oke aja sih karena stroller harganya variatif banget kan. Paling murah ada Rp700 ribu-an, lalu Rp2 juta, Rp4 juta, Rp6 juta, sampai puluhan juta juga ada. Selain stroller, yang mahal itu diaper bag. Rata-rata kalau mau oke dan lengkap ya di harga Rp2 jutaan.

Ada lagi yang mau lo komentarin dari budget itu?
Biaya lain-lain di sana gue anggap contohnya popok. Misal, lo mau kasih yang menengah extra soft isi 42 harganya Rp120 ribu. Bisa dipakai 5-6 hari. Kalau satu tahun berarti perlu 60 pak udah Rp7,2 juta. Baru popok doang ya. Belum kalau mau d_aycare_ atau pakai b__aby s__itter atau c__aregiver lain. Ditambah akikahan Rp5 jutaan, udah Rp12 juta lebih buat biaya lain-lain.

Berarti serba opsional ya. Netizen banyak yang ngomongin perlu-enggaknya foto dan video lahiran…
Menurut gue balik lagi ke kemampuan ekonomi. Perihal video dan foto maternity lahiran, gue juga pake. Tujuan gue enggak lain enggak bukan ya buat kasih cerita ke anak gue soal proses. Yang ini subyektif banget sih karena bagi gue personal banget. Jadi, butuh enggak butuhnya dibalikin lagi ke kondisi ekonomi dan subyektifitas masing-masing orang. Oh, ada juga kan yang kena peer pressure kayak temen gue, jadinya maksain ada hal-hal yang sebenarnya enggak dia pengenin banget.

*Kesimpulan: Ada yang merasa anggaran Rp166 juta masuk akal, kecuali estimasi biaya beberapa komponen yang malah dirasa kemurahan.

Intan*, 27 tahun, sedang mengandung anak pertama, karyawan swasta, Blitar

VICE: Andai uang bukan masalah di hidupmu, anggaran hampir Rp170 juta untuk melahirkan dan merawat anak di tahun pertama masuk akal enggak sih?
Intan: Kalau uang bukan masalah ya masuk akal. Ibarat kata, misal kita ini bininya Harvey Moeis (suami pesohor Sandra Dewi-red), budget melahirkan dan merawat anak segitu mah mungkin masih dibilang standar. Aku juga mau nganggarin uang segitu buat anak. Kenapa? Namanya buat anak, apa sih yang enggak?

Sebesar itu juga dana yang kamu siapkan sekarang?
Kalau jawabnya pakai situasi kondisi finansialku, _budget_-nya Jouska enggak masuk akal sih. Di Blitar mana ada kontrol dokter 15 kali sampai Rp12,6 juta? Paling pol sekali kontrol di sini juga cuma Rp150 ribu. Enggak tahu kalau standar di Jakarta gimana. Dasarnya, kita bisa-bisa aja kok sebenarnya milih produk/layanan pengganti yang mungkin enggak semahal yang dibilang Jouska, dan dengan kualitas yang enggak jelek juga.

Contohnya, kayak biaya peralatan mandi anak. Kamu kalau tajir melintir terus mau beli bak mandi yang merk Rotho m__ade in Germany harga Rp3 juta, enggak apa-apa. Tapi, kalau anakmu mau kamu mandiin di bak biasa harga Rp200 ribu, kan juga enggak masalah. Begitu juga dengan biaya lainnya.

Kamu nyiapin nominal tertentu enggak buat menyambut kehadiran anakmu?
Jujur, aku sama suami enggak nyiapin nominal tertentu buat menyambut anak. Tapi, ya itu, kita anggarkan kira-kira yang esensial buat tumbuh kembang anak apa sih. Misal, aku mau beli peralatan mandi, cukup beli yang awet dan harganya terjangkau. Enggak perlu pake yang bermerek dengan harga yang enggak masuk akal.

Terus, gimana caramu soal milih-milih treatment yang mau kamu lakukan dan kasih ke anakmu?
Kalau aku, delivery video enggak penting. Lebih ke ngeri sebenarnya. Kalau orang mau bikin buat kenang-kenangan enggak salah juga. Maternal photoshoot kalau mau sah-sah aja. Aku rencana bikin maternal photoshoot buat kenang-kenangan. Tapi, kayaknya enggak akan nyewa fotografer [profesional] karena kurang nyaman kalau foto-foto sama orang yang belum akrab.

Mungkin, dasar utamanya kebutuhan. Kayak pijat bayi misalnya, kalau emang si bayi lagi enggak enak badan terus dipijat mah oke-oke aja. Tapi, kalau buat yang menjadwalkan rutin dua minggu sekali gitu sih aku enggak ya. Begitu juga dengan treatment lain, kalau enggak butuh kayaknya enggak akan diada-adain.

*Kesimpulan: Anggaran sebesar itu kurang masuk akal.

Nilam, 27 tahun, pengantin baru mengaku tidak ingin menunda punya anak, pengusaha perkebunan, Lampung

VICE: Pendapat lo soal biaya persalinan dan perawatan anak yang viral gimana?
Menurut gue kemahalan, hahaha. Biaya alat mandi Rp7 juta itu mandinya pake skin care gue apa ya? Persalinan Rp50 juta udah paling bagus.

Kenapa bisa bilang angka itu kemahalan?
Bulan lalu banget kakak ipar gue melahirkan di suite RSPI biayanya enggak sampai Rp50 juta. Kontrol dokter paling bagus sejuta per pertemuan. Biaya extra treatment ini kan enggak tahu, tergantung gimana keadaan ibu dan bayi nantinya. Gue ngitung kebanyakan dari pengalaman orang sekitar gue. Kayak kakak-kakak gue. Perlengkapan baju, mandi, makan, tidur ini banyak dikurangin karena dapat dari kado.

Kalau enggak dapat kado, apakah angka-angka Jouska jadi masuk akal?
Gue bikinin di Excel sekalian deh perhitungan gue.

(Dua puluh menit kemudian, Nilam mengirim perhitungan kasarnya soal kebutuhan biaya persalinan dan perawatan setahun pertama bayi. Total, hampir Rp100 juta)

Sekarang tuh banyak banget perlengkapan bayi yang sebenarnya enggak perlu, tapi dibeli aja karena marketing. Hahaha. Contoh, bottle holder, kursi goyang elektrik. Harganya Rp5 juta tapi cuma dipakai dua bulan. Kalau misalnya bayi gue gede, mana muat.

Sterilizer kakak gue canggih banget harganya juga Rp4 jutaan, tapi menurut gue yang Rp1,5 juta aja udah bagus, kok. Bak mandi bayi ada yang Rp3 jutaan cuma karena ada termometer pengukur suhu air dan bantalan kecilnya gitu. Opsional sih, tapi kalau di gue enggak esensial.

Kenapa kakak lo beli yang Rp4 juta kalau ada yang lebih murah?
Simpel, paling mahal sama dengan paling bagus. Hahaha. Gitu aja pertimbangannya.

*Kesimpulan: Buat orang dengan kemampuan finansial lebih, ada yang merasa anggaran itu masih terlalu mahal.


Sebagian narasumber meminta namanya tidak disebut lengkap atau diubah untuk melindungi privasi mereka

Iklan