Iklan
Pekan Fiksi VICE

Apa Kata Para Ahli Tentang Kemungkinan Kehidupan di Mars

Kalau pemeluk Muslim tinggal di Mars, ke mana harus menghadap ketika salat? Harus berapa pekan menunggu tanggal gajian?

oleh Adi Renaldi
04 Januari 2018, 8:00am

Foto permukaan Mars yang diambil oleh NASA via Wikimedia Commons

Artikel ini dibikin untuk jadi penyanding dari cerita pendek karangan Rizaldy Yusuf yang ia tulis untuk Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038. Cerpen berjudul 'Suatu Hari Ketika Profesor T Lupa Memberi Makan Anjingnya' itu mengambil Mars sebagai latar. Berhubung itu tulisan fiksi, tulisan Rizaldy tentu hanya dibatasi oleh imajinasi. Lewat artikel ini, kami berusaha menjawab apakah imajinasi Rizaldy tentang kehidupan di Mars kelewat liar atau sebenarnya secara ilmiah bisa dibenarkan? Simak apa kata pengamat dan ahli tentang kemungkinan kehidupan di Mars.


Mars adalah salah satu lingkungan terkeras yang pernah ada dalam sistem Tata Surya. Ia telah menjadi sumber rasa penasaran sejak manusia mengenal astronomi. Beragam pertanyaan muncul di benak manusia. Salah satunya adalah, bisakah Mars jadi tempat tinggal baru ketika Bumi sudah terlampau padat?

Pertanyaan tersebut memicu imajinasi. Setidaknya 34 film tentang Mars telah dibuat sejak 1910 saat film bisu pendek A Trip to Mars dirilis ke publik. Penggambaran Mars dalam fiksi ilmiah telah membentuk persepsi kita sampai sekarang. Berapa banyak bocah percaya ada alien bersembunyi di Mars gara-gara film Mars Attacks? Atau mungkinkah ada koloni orang-orang buangan di Mars seperti di film Total Recall? Apapun imajinasi kita tentang Mars, perlombaan antariksa untuk tinggal di Mars dalam sebuah koloni hanyalah soal waktu.


Baca cerpen Suatu Hari Ketika Profesor T Lupa Memberi Makan Anjingnya


Perusahaan transportasi luar angkasa Space X bikinan taipan bisnis Elon Musk terus berinovasi mengembangkan sistem transportasi antar planet (Interplanetary Transport System) sejak 2015. Sistem tersebut adalah bagian dari Mars One, sebuah rencana kolonisasi Mars pada 2032.

Tentu kolonisasi enggak bisa cuma dengan modal berkemas dan angkat kaki. Banyak aspek yang mesti dipikirkan. Misalnya bagaimana caranya tinggal dalam atmosfir yang sama sekali enggak mendukung. Belum pertanyaan-pertanyaan sepele tapi krusial seperti, di mana arah kiblat jika mau salat di Mars? Atau apakah kita perlu tinggal di shelter sepanjang hari menggunakan baju luar angkasa agar bisa bertahan? Yang jelas jawaban dari semua pertanyaan itu tampaknya masih mengawang dalam cakrawala pikiran kita.

“Kolonisasi bukan buat generasi kita,” ujar pengamat astronomi Adly Rahmat Renhoran dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta. “Tapi untuk dua generasi setelah kita. Mungkin anak cucu kita nanti.”

VICE Indonesia memutuskan berbincang dengan pakar soal bagaimana jika kita bisa benar-benar tinggal di Mars, meninggalkan Bumi yang kerap dirundung masalah buatan manusia.

Adly Rahmat Renhoran, Pengamat Astronomi

VICE: Seberapa mungkin manusia bisa tinggal di Mars?
Adly: Amat mungkin. Yang pertama harus dipecahkan adalah soal transportasi tentu saja. Bagaimana cara memindahkan koloni manusia pertama beserta semua keperluannya. Kedua membuat lingkungan yang habitable. Karena kondisi Mars sangat enggak layak, terutama soal atmosfer. Terlalu banyak karbondioksida di atmosfernya dan ini enggak layak tinggal. Karena enggak ada atmosfer Mars enggak bisa menangkal badai matahari. Dan ini jauh berbahaya lagi. Kalau soal tanah di Mars sebenarnya bisa banget ditanami karena ada magnesium, potasium dan klorin.

Jadi film The Martian itu bisa sedikit menggambarkan kondisi Mars dengan akurat ya?
Sedikit akurat meski tentu ada beberapa kelemahan juga. Badai pasir Mars yang ditampilkan di awal film itu juga kayak faktanya. Tanah di Mars juga bisa ditanami selama ada oksigen yang cukup.

Kayaknya banyak banget penyesuaian yang harus dilakukan jika manusia bisa tinggal di Mars
Jelas banyak. Kondisi Mars itu kan dingin banget bisa minus 143 derajat celcius. Revolusi Mars itu 668 hari. Jadi butuh dua tahun Bumi agar Mars bisa menyelesaikan revolusinya. Rotasi Mars sendiri enggak beda jauh dengan Bumi, 24 jam lebih sedikit lah. Manusia juga pasti butuh beradaptasi dengan gravitasi Mars karena lebih ringan, jadi nanti mungkin kita bisa lari lebih kenceng atau lompat lebih tinggi. Mungkin…

Jika Muslim mau salat di Mars kira-kira ke arah mana harus menghadap?
Nah, ada beberapa perdebatan sih. Ada yang bilang bisa menghadap ke mana saja asal niatnya. Ada juga yang tetap harus menghadap ke arah kiblat di Bumi. Kalau begitu berarti kita harus selalu mengubah posisi. Mungkin bisa ditanyakan kepada yang lebih berkompeten.

Bisa jadi kita bakal memakai sistem penanggalan berbeda dengan Bumi. Bakal repot juga ya
Bakal repot kalau masih menggunakan sistem penanggalan Bumi untuk dipakai di Mars. Misalnya ada perayaan keagamaan yang jatuh di tanggal tertentu sewaktu di Bumi. Kayak Natal misalnya yang selalu jatuh di Desember. Itu kan dengan perhitungan revolusi Bumi yang 365 hari (setahun). Apakah nantinya kita bakal menyesuaikan dengan kalender bumi atau enggak menutup kemungkinan juga kalau memakai sistem penanggalan baru? Itu yang mesti dipikirin juga. Apakah nantinya perlu membuat nama bulan baru? Kalau tanggal gajian sih masih bisa disesuaikan hehehe.

Mars punya dua satelit alam, ada perbedaan enggak dengan Bulan?
Phobos dan Deimos secara ukuran itu kecil, masing-masing enggak sampai 30 km diameternya. Ada kemungkinan dua satelit tersebut adalah pecahan asteroid yang terperangkap di orbit Mars. Jelas ada perbedaannya dengan Bulan dong. Daya tarik satelit Mars sangat rendah, dan enggak bisa memantulkan cahaya matahari seperti Bulan. Secara estetika masih jauh lebih indah Bulan.

Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN

VICE Indonesia: Seberapa mungkin manusia bisa tinggal di Mars?
Thomas: Kondisi Mars di masa lalu memang mirip Bumi. Hangat dan memiliki air. Namun kondisinya berubah setelah terjadi tumbukan meteorit. Ada beberapa kemungkinan Pertama, kehidupan pernah ada di Mars pada saat masih hangat dan basah, kemudian punah pada saat lingkungannya berubah. Kedua, kehidupan masa lalu tidak semuanya punah, tetapi mungkin masih ada di beberapa daerah yang masih hangat dan basah seperti di bawah tanah atau di dekat gunung berapi yang masih muda. Ketiga, mungkin juga sejak dahulu Mars kering dan dingin, tetapi kehidupan ada di daerah-daerah yang basah dan hangat saja yang mungkin masih bertahan sampai sekarang.

Jika di bawah tanah ada kemungkinan air, apa itu berarti koloni Mars bakal hidup di bawah tanah?
Masih jauh untuk memikirkan hal tersebut. Bisa saja dengan membuat kubah yang bisa ditinggali atau mungkin membangun ruang-ruang bawah tanah untuk penyimpanan atau tempat tinggal. Yang jelas jika manusia tinggal di permukaan Mars akan butuh perlindungan ekstra karena badai matahari di Mars bisa sangat berbahaya karena radiasinya.

Tagged:
Mars
kehidupan di Mars
Indonesia 2038
Rizaldy Yusuf
VICE Fiction Week Indonesia 2038