Penyebab Pacaran di IKEA Lagi Ngetren Banget
Foto oleh Ardila Ramadan.
Budaya Pop

Penyebab Pacaran di IKEA Lagi Ngetren Banget

Di tengah kejenuhan penduduk sekitaran Jakarta sama mal, siapa sangka toko furnitur berukuran raksasa bisa menjadi oase bagi pasangan yang ingin memadu kasih.
12 Januari 2018, 8:43am

Jauh sebelum shopping mall bertebaran di kota-kota besar Indonesia, kencan sambil makan bakso atau nonton di bioskop menjadi semacam ritual setiap weekend. Lambat laun, ritual kencan berubah. Pusat perbelanjaan dipenuhi pasangan yang ingin berbagi quality time. Lebih mengejutkannya lagi, setahun belakangan, lokasi favorit untuk pacaran adalah toko furnitur. Yup, kalian tidak salah baca.

Beneran lho. Salah satu tempat favorit buat para pasangan muda di sekitaran Ibu Kota buat merajut kemesraan adalah IKEA. Cabang dari raksasa furnitur asal Swedia yang terletak di Alam Sutera, Banten ini buka pada 2014. Berselang tiga tahun, IKEA justru menjadi tujuan jalan-jalan buat pasangan yang bosan dengan pusat perbelanjaan konvensional.

Kami menduga-duga, apa sih enaknya pacaran sambil window shopping perabot untuk rumah impian? Barangkali, salah satu jawaban paling masuk akal, adalah harga rumah semakin tak terbeli di Tanah Air. Maka enggak ada salahnya cuma memandang perabotan sambil bermimpi kapan bisa membeli rumah untuk diisi dengan sofa Ektorp dan meja kopi Liatorp.

Minimal berkencan di IKEA bisa memicu dialog romantis sepanjang zaman, “Mas, kapan kira-kira bisa beliin aku rumah?” yang kemungkinan bisa dijawab dengan “Nanti ya dik, kalau komputer desktop Mas udah kuat buat mining bitcoin.”

Pemilihan lokasi IKEA sebagai ajang berkencan ternyata enggak cuma monopoli pasangan di Indonesia. Di Cina, pihak manajemen IKEA sampai mumet lantaran kafetarianya kerap dipakai para lansia untuk berkencan buta. Parahnya kebanyakan cuma numpang kencan tanpa membeli apapun. Yassalam…

Sementara di Amerika Serikat, beredar mitos supaya para pasangan menghindari berbelanja bareng di IKEA. Memang belum ada bukti saintifik soal berapa banyak hati yang hancur sehabis jalan-jalan di IKEA, tapi terapis kehidupan percintaan Ty Tashiro, dikutip majalah GQ mengatakan showroom IKEA yang mirip labirin dapat menimbulkan kecemasan secara psikologis. Dampaknya pasangan terdorong putus setelah mampir ke sana. Waduh.

Oke, jadi kenapa ya banyak pasangan di Indonesia justru menikmati momen mesra sambil jalan-jalan di IKEA?

Salah seorang staff IKEA yang saya temui mengatakan bahwa showroom IKEA - yang penuh perabot warna-warni dan tata letak yang jarang ditemui di rumah-rumah lokal pada umumnya- tampaknya justru menjadi alasan kenapa banyak anak muda betah berlama-lama memandangi interior. Lagi pula lokasi swalayan perabotan di area dekat dengan kasir sangat Instagramable buat OOTD.

“Mungkin suasana di showroom kami menawarkan sesuatu yang lain dibandingkan mall atau kafe pada umumnya,” ujar staff tersebut. “Jadi enggak cuma orang pacaran saja kok, banyak juga keluarga yang memang hendak berbelanja perabotan.”

Staff tersebut mengaku tak mengetahui berapa rata-rata jumlah pasangan yang berkencan (tanpa membeli perabotan) setiap harinya. Namun ketika saya menghabiskan tiga jam berkeliling showroom, gudang dan kafe IKEA siang itu, cukup banyak pasangan muda kuliahan yang jalan-jalan dan keluar kasir tanpa menggotong perabotan.

Ya memang, enggak selamanya berkencan itu identik dengan menggelontorkan duit bulanan buat belanja barang. Yang terpenting kan soal berbagi pengalaman, meski itu berarti cuma menghabiskan waktu buat keluyuran di showroom sambil ngelamun di sofa pajangan.

Teori lain kenapa mitos di Amerika Serikat enggak berlaku di Indonesia adalah, banyak pasangan yang suka dengan pembicaraan soal masa depan, meski itu cuma soal model bantal kursi apa yang nantinya cocok untuk mengisi rumah ketika sudah menikah. Dalam survei kecil-kecilan yang saya lakukan menunjukkan bahwa pasangan enggak terlalu suka berdebat sengit soal pemilihan perabotan. Mereka lebih suka menyelesaikannya secara welas asih. Jika salah satu pasangan enggak suka dengan tirai warna kuning buat menghias kamar tidur, ya sudah mengalah saja.

Saya menemui beberapa pasangan yang ‘kedapatan’ lagi pacaran di IKEA saat berkunjung awal pekan ini. Ada yang ngaku ke IKEA cuma buat makan, ada juga yang ngaku cuma beli gantungan baju. Wahai pasangan yang memilih IKEA jadi tempat kencan, nikmatilah kondisi saat ini. Pacaranlah (di IKEA) sebelum pacaran di sana terlarang.

SELSI DAN PANDU

VICE Indonesia: Seberapa sering kalian ke IKEA buat pacaran sambil jalan?
Selsi: Bisa tiga-empat kali dalam sebulan. Biasanya karena nyuri waktu di sela-sela kelas kuliah.

Apa yang bikin betah di IKEA?
Penataan display-nya sih bikin betah. Semuanya udah rapi aja jadi suka liat-liat. Kalau mau beli sih tergantung kebutuhan. Paling beli perabotan kecil doang, atau barang lucu-lucuan kayak boneka, pot bunga.

DIDIT DAN RAISA

Foto oleh Regan Reuben

VICE Indonesia: Seberapa sering ke IKEA buat pacaran?
Raisa: Kalau ke sini enggak sering-sering amat sih. Kalau pas dulu kuliah di Australia kami sering ke IKEA. Bisa lima kali dalam setahun.

Kenapa memilih IKEA sebagai lokasi buat pacaran?
Kalau di Australia karena sering dapet voucher makan gratis, jadi lumayan kan sekalian makan gratis plus pacaran. Kalau di sini ya mungkin karena udah bosen sama mall aja, jadi mending ke IKEA.

Jadi kepikiran soal masa depan enggak setelah jalan-jalan?
Sedikit sih, kayak ‘wah ini bagus nih buat rumah nanti’.

Pernah debat soal perabotan di IKEA?
Belum pernah dan ngapain juga.

BIAN DAN NATASHA

Misalkan enggak ada lagi tempat buat nge-date di Jakarta, apa kalian mau kencan tiap Sabtu malam di IKEA?
Bian: Kalau memang udah enggak ada tempat lagi, ya mau-mau aja sih. Cuman ya pasti bosen juga kalau keseringan.

Berapa lama waktu dihabiskan di IKEA?
Paling 3-4 jam tiap kunjungan. Tapi enggak sering-sering juga.

Ada mitos kalau di IKEA pasangan itu rentan putus, kalian percaya enggak?
Kalau perselingkuhan bikin putus baru percaya. Kayaknya selama jalan ke IKEA baik-baik aja enggak ada ribut-ribut. Kan sama-sama enjoy jalan.

FARAH DAN NATA

Foto oleh Regan Reuben

VICE Indonesia: Ritual apa yang biasa dilakukan kalau ke IKEA?
Makan di kafenya dulu, baru abis itu muter-muter.

Apa yang bikin kalian suka kalau kencan di IKEA? Apa jadi mikir buat buru-buru punya rumah?
Enggak ngebosenin soalnya. Banyak yang bisa diliat. Kalau soal rumah belum dipikirin. Cuma suka liat doang.

Suka liat-liat doang atau belanja juga nih?
Belanjanya enggak terlalu yang wow sih. Kalau pun beli paling cuma perintilan atau pernak-pernik aja. Intinya kan cuci mata sambil jalan-jalan.

ADIT DAN CINDY

VICE Indonesia: Pernah enggak ke IKEA cuma buat jalan-jalan doang tanpa beli?
Adit: Paling ke IKEA cuma buat makan siang sih. Itu juga jatohnya udah nge-date. Kalau nge-date emang biasanya jarang beli. Ya biasalah liat-liat barang doang, terus abis itu envisioning masa depa kalau punya rumah bareng nanti pengen barang-barang kayak gimana.

Pernah berantem gara-gara hal sepele pas lagi jalan-jalan?
Enggak banget lah. Menyedihkan banget kayaknya lagi rame-ramenya di IKEA terus berantem.

Jadi pengen buru-buru nikah enggak kalau liat-liat furnitur di IKEA?
Kalau nikah buru-buru enggak juga. Pengennya justru pengen punya rumah buru-buru.