Iklan
Utopia Transportasi Umum

Berbagai Skenario Perubahan Gaya Hidup Warga Setelah Ada MRT dan LRT

Kami ngobrol bareng ahli tata kota Yayat Supriatna, memprediksi potensi kereta bawah tanah dan Light Rapid Transit mengubah hidup warga Jakarta ataupun Palembang (dan kota lainnya).

oleh Yvette Tanamal
16 Agustus 2018, 1:31am

Foto oleh Beawiharta/Reuters

Saat ditanya tinggal di mana, saya harus mempersiapkan mental untuk menjawab serentetan komentar yang segera menyusul. “Kelapa Gading?! Gila jauh banget,” atau “Kantor emangnya di mana?!” Enggak mudah hidup di Jakarta Utara—terutama ketika pusat kegiatan letaknya di Selatan. Saya harus berangkat dari rumah dua jam sebelum waktu janjian, atau jam masuk kantor, atau apapun, serta harus bayar ongkos ojek online lebih mahal. Untunglah sekarang saya terbiasa dengan horornya naik TransJakarta. Minimal udah bisa ketiduran meski sesak-sesakan.

Jadi, waktu saya mengetahui soal stasiun LRT yang sedang dibangun di seberang tempat tinggal, yang jalurnya sampai Jakarta Selatan dan tarifnya murah, saya girang setengah mati. Apa ini artinya saya bisa tidur lebih lama? Keluar ongkos lebih murah? Enggak perlu naik Transjakarta lagi?

Saat menengok ke arah stasiun dari jendela kamar saya, saya bergumam, “Ini mimpi apa beneran, ya?” Tapi ini nyata. Jakarta akhirnya akan punya rapid transit system.

Jakarta dikenal atas banyak hal, tapi transportasi publik bukan salah satunya. Hanya 20 persen warga Jakarta yang menggunakan fasilitas ini, sebagian besarnya karena transportasi umum tidak nyaman dan tidak membantu kemacetan jalanan. Sejak 1985, memiliki rapid transits—sesuatu yang akan membantu meringankan kemacetan—sudah sering dibahas dan oleh banyak orang, meski tak pernah ada perkembangan konkret.

Setelah beberapa dekade perencanaan doang dan warga Jakarta tersiksa di jalanan, pembangunan LRT dan MRT akhirnya secara resmi dimulai Oktober 2013 di bawah pemerintahan (saat itu masih gubernur) Jokowi. Rapid Transit ini dijadwalkan beroperasi pada Februari 2019, meski beberapa stasiun dibuka tahun ini.

Rute untuk transportasi ini cukup ekstensif: dari Cengkareng ke Bekasi, Kelapa Gading dan masih banyak lagi. Kamu bisa mengikuti hitung mundur Grand Opening di sini.

Di seluruh dunia, sistem rapid transit sukses mengubah lanskap sampai pola hidup penghuni kota-kota yang memilikinya. Seven Train di New York, misalnya, mengubah kota pinggiran itu menjadi salah satu metropolitan tersibuk di dunia. Skytrain Thailand juga mengubah warga Bangkok, yang kini memilih gaya hidup kota metropolis nan sibuk.

Sistem transportasi cepat dan modern seperti L/MRT belum pernah ada di Tanah Air. Sebelum ini, TransJakarta selalu terlalu problematis untuk mendorong warga Jakarta meninggalkan kendaraan pribadi mereka—jadi tidak banyak yang berubah. Tapi, Rapid Transits, yang tepat waktu, bebas macet, dan nyaman, tentunya akan lebih berdampak.

Untuk memahami perubahan sosial apa saja yang akan dialami Jakarta dan Palembang (mengingat baru dua kota ini yang resmi punya LRT), saya memutuskan ngobrol-ngobrol dengan Yayat Supriatna, ahli tata kota dari Universitas Trisakti. Kami bicara panjang lebar membahas Rapid Transits dan perubahan pola hidup seperti apa yang bisa dibayangkan warga yang merasakan sistem transportasi umum ini dalam tahap awal maupun jangka panjang kelak.

Ini rencana rute jalur LRT dan MRT di Jakarta. Sumber: Pemprov DKI

Kemungkinan #1: Kita punya lebih banyak uang untuk beli martabak

Kayaknya semua orang bakal setuju. L/MRT tak hanya cepat, tapi juga murah. Pemerintah belum merilis harga resminya, tapi katanya tidak akan lebih dari Rp12,000.

“Menurut saya itu murah,” ujar Yayat. “Orang Jakarta banyak ruginya untuk transportasi. Misalnya, sebulan bisa 30 persen dari penghasilan. Di Singapura yang ada kereta hanya sekitar 3 persen, dan di Tiongkok 7 persen.”

Menghabiskan kurang dari Rp12,000 untuk berpergian jauh berarti warga Jakarta punya uang sisa untuk beli hal lain. Buat jajan lebih banyak. Dan tentunya, beli martabak lebih sering.

Kemungkinan #2: Kita punya lebih banyak tempat nongkrong dan nyantai

“Akan ada banyak TOD-TOD,” ujar Yayat. TOD, atau Transit Oriented Development, adalah jenis pengembangan yang secara khusus berkonsentrasi di tempat-tempat dengan akses transportasi umum. Artinya, rencana dan layanan infrastruktur tidak akan terpusat di area yang sudah padat, seperti Jakarta Selatan, melainkan akan tersebar di stasiun-stasiun Rapid Transit (yang berarti di mana-mana).

Dengan perkembangan yang kini berada di area yang bisa dikunjungi, yang tadinya tidak mendapatkan banyak perhatian, taraf kehidupan kita akan meningkat, dan akan ada lebih banyak tempat untuk nongkrong.

“Pastinya akan ada tempat-tempat baru yang bisa dikunjungi untuk jalan-jalan, untuk makan, untuk selingkuh juga. [tertawa] Misalnya, BNI City itu pasti bakal rame karena dekat bandara. Kalo nggak ada duit, ya udah ke Lebak Bulus aja lah ya.”

“Ya tergantung jaringan juga,” lanjutnya. “Ada juga ‘stasiun-stasiun gemuk’ yang pasti ramai. Misalnya Blok M, Ratu Plaza, BNI City, dan Bunderan HI.”

TOD-TOD ini bisa mengembangkan ekonomi lokal. Penduduk yang tinggal di sekitar stasiun bisa membuka usaha atau jasa yang menarik minat komuter.

Kemungkinan #3: Pengendara mobil jadi yang paling kerepotan

Tempat nongkrong gaul di Jakarta mungkin akan semakin menjamur, tapi perjalanannya ke sana akan semakin susah dan ruwet.

“[Jakarta] akan menjadi neraka buat yang punya mobil,” Yayat mengingatkan. “Yang pakai mobil akan semakin dipersulit. Misalnya, aturan ganjil-genap ini bisa jadi diperpanjang. Harga untuk parkir juga akan naik, jadi ribet dan lebih mahal.”


Tonton dokumenter VICE tentang pengakuan difabel di Jakarta yang belum dapat akses layak untuk mobilitasnya:


Peraturan lalu lintas ini sudah diterapkan di beberapa daerah di Jakarta. Di Kelapa Gading, jalan rayanya mulai dipersempit untuk dijadikan stasiun LRT, sehingga menyebabkan macet total. Jarak dari Mal Kelapa Gading ke Arion hanya 5 kilometer, tapi kamu bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk tiba di Arion saat jam sibuk.

Yah, semoga saja keribetan mobil justru menjadi solusi mengatasi polusi udara. Yayat pun sepakat. “Ini malah akan mengurangi masalah polusi negara,” kata Yayat bersemangat.

Kemungkinan #4: Kita jadi lebih peka

“Struktur yang membangun kultur,” kata Yayat. Orang bisa belajar peduli terhadap sesama ketika naik transportasi umum. “Kita ambil contoh PT Kereta Api. Ada budaya baru di kereta-kereta dan stasiun stasiun. Misalnya, budaya tertib. Budaya tepat waktu, karena harus ngejar waktu kalau naik kereta. Ada juga hilangnya merokok di stasiun karena mengganggu. Budaya kepedulian, karena ada bangku khusus yang disediakan untuk yang berhak,” lanjutnya.

Etiket naik transportasi umum memang bisa menyadarkan kita untuk lebih perhatian dengan sesama, misalnya tidak bawa durian saat sedang di Singapura, tetapi kita tidak bisa mengukur seberapa besar tingkat kepedulian dan ketepatan waktu seseorang hanya dari situ.

Kemungkinan #5: Menghabiskan waktu pagi dengan lebih optimal

“Orang-orang Jakarta tuh selama ini selalu dipersulit dengan ketidakpastian,” Yayat menuturkan. Jalanan rusak, kecelakaan dan penyempitan jalan bisa menyebabkan kemacetan parah. Akibatnya, orang Jakarta menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan. Mereka juga tidak bisa memperkirakan kapan bisa tiba di tempat tujuan.

“Nanti dengan kereta akan ada kepastian. Jadi kalau pagi orang bisa santai ngopi ngopi.. atau yang lain,” katanya. Artinya selain meningkatkan standar hidup, kebiasaan baru naik transportasi umum juga bisa memperbaiki kualitas hidup kita.

Kemungkinan #6: Punya badan langsing seperti orang Singapura.

Menurut The New York Times, Jakarta dinobatkan sebagai “kota dengan Penduduk Paling Malas Jalan Kaki.” Hal ini bukan tanpa alasan. Trotoar yang tak layak dan kurang luasnya rute transportasi umum membuat orang malas jalan kaki. (Misalnya, kamu harus naik ojek online atau kendaraan pribadi untuk menuju stasiun dan halte.) Kereta cepat, yang dibangun di sekitar perkantoran dan perumahan, diharapkan bisa menyelesaikan masalah ini. Sebagaimana diucapkan Yayat, “struktur yang membangun kultur.”

“Itu ojol-ojol [ojek online] harus diusir dari jalan-jalan depan stasiun,” Yayat said. “Orang Jakarta malas jalan, emang sekarang ada kereta mereka jadi suka jalan? Pas keluar liat ojol langsung malas. Kalo enggak ada kan harus jalan.”

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa naik kereta lebih kurus 2,9 kg daripada mereka yang menyetir kendaraan pribadi. (Meskipun korelasi tidak bermakna sebab-akibat.)

“Kita nanti jadi langsing langsing, kayak cewek-cewek Singapura,” guraunya.

Menurut Yayat, masih banyak yang perlu diperbaiki apabila ingin mewujudkan ini semua. Misalnya, memperlebar trotoar di sekitar stasiun. “Itu kan nanti bakal ada ribuan dan ribuan orang yang memakai. Jadi tempat untuk jalan itu harus dibuat lebar, banyak pohon biar adem. Kayak trotoar-trotoar di Sudirman, kecil banget, emprit!”

Kita hanya bisa menunggu sampai L/MRT benar-benar beroperasi untuk melihat dampaknya bagi ibu kota. Ingat, adanya kereta cepat tidak serta merta memperbaiki tata kota Jakarta. Masih banyak masalah lainnya yang perlu ditangani. Meski begitu, kita harus mengakui kalau pembangunan transportasi umum yang cepat, dapat diandalkan, dan terintegrasi, adalah langkah awal yang baik supaya hidup di megalopolis tak terasa seperti neraka saban hari.