Iklan
Tergila-Gila Alpukat

Jual Alpukat di Selandia Baru Potensial Nih, Pencurian Bibit Marak Sampai Ada Pasar Gelapnya

Harga satu buah alpukat di Selandia Baru mencapai NZ$7, atau sekitar Rp67.000. Jadi penyelundup buah ke Negeri Kiwi kayaknya menarik, ga perlu dagang narkoba.

oleh Lauren Rothman
15 Agustus 2018, 10:13am

Photo via Flickr user The LEAF Project

Alpukat adalah buah yang mendadak populer banget di negara-negara Barat atau yang mayoritas penduduknya kaukasian. Popularitas alpukat sempat mencapai titik puncaknya—sebagaimana ditunjukkan harga roti bakar alpukat seharga $22, semprotan berteknologi tinggi yang bisa memperlambat waktu matang alpukat, atau kafe yang menyajikan sereal di dalam kulit alpukat—dan akan terus menjadi buah kesukaan orang kulit putih.

Kita tak pernah kekurangan bukti betapa orang-orang rela melakukan banyak hal demi mendapatkan alpukat, misalnya, toko swalayan di Chile yang menjual ponsel Motorola baru kepada seorang laki-laki seharga 127 pon alpukat. Tapi kabar seputar alpukat di Selandia Baru baru-baru ini adalah yang terheboh.

Di Selandia Baru, sejumlah pencuri mencomot alpukat-alpukat senilai ribuan dollar dari pohonnya, lalu secara ilegal menjualnya di Facebook dan kepada toko swalayan tertentu yang tidak banyak tanya soal asal-usul pasokan ini. Petani kehilangan stok berharga mereka dan mengalami kerugian besar akibat sekumpulan kriminil tersebut.

"Bulan sedang purnama pada 2 Juni lalu. Seluruh kawasan Western Bay jadi terang, sehingga para pencuri bisa masuk dan keluar dengan mudah," ujar Dianne Cheshire, salah satu petani, kepada New Zealand Herald. "Maraknya pencurian ini membuat saya sakit hati sampai ke tulang-tulang. Kami mengenal pohon-pohon ini sebaik kami mengenal anak-anak kami."

Banyak warga Selandia Baru bersemangat menanam pohon alpukat mereka sendiri, baik untuk dikonsumsi keluarga sendiri atau untuk dijual. Awal tahun ini, harga satu buah alpukat mencapai NZ$7, atau sekitar Rp67,000. Banyak sekali warga yang menginginkan pohon alpukat, sampai-sampai toko-toko bibit dan tanaman tidak bisa memenuhi permintaan. Media setempat melaporkan ada lusinan daftar tunggu karena musim dingin mulai usai dan musim semi, yang tepat untuk menanam, tiba di Oceania.


Tonton dokumenter VICE soal minuman anggur campur kotoran manusia yang populer di Korsel:


Seorang pemilik toko tanaman di wilayah Waikato menyampaikan kepada Stuff bahwa dia menerima 86 permintaan untuk anakan Hass, ditambah 44 pohon alpukat Bacon (saya tidak tahu ada yang namanya pohon alpukat Bacon, tapi ini jelas terdengar sempurna), 58 pohon Fuerte, dan 29 pohon Reed.

"Pohon alpukat jelas menjadi incaran banyak orang, dan kini kita kekurangan pasokan," ujar pemilik toko tanaman lainnya, Andrew Grilli, kepada situs tersebut.

Calon petani alpukat tentu memimpikan guacamole dan bermangkuk-mangkuk roti bakar alpukat deconstructed. Tetapi, kalaupun mereka berhasil mendapatkan pohon alpukat dari salah satu pusat kebun di negaranya, mereka tak langsung bisa membuat hidangan lezat itu.

Dibutuhkan anakan alpukat rata-rata tiga sampai lima tahun untuk mulai berbuah. Dan sementara itu, mereka terpaksa membeli buah hijau ini dari pasar gelap.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES