Iklan
Menyunting DNA

Peneliti Jepang Mencoba Bikin Tikus Tidur Tanpa Mimpi, Target Selanjutnya Manusia

Mekanisme molekuler yang membuat tubuh kita bermimpi masih tidak diketahui ilmuwan sampai sekarang. Lewat uji coba di tikus, peneliti ingin tahu hubungan manipulasi DNA dan gerak bola mata saat tidur.

oleh Daniel Oberhaus
30 Agustus 2018, 5:29am

Foto ilustrasi via Shutterstock

Manusia menghabiskan setengah hidupnya untuk tidur. Kendati demikian, aspek psikologis yang mengatur kegiatan tubuh satu ini masih jadi misteri bagi ilmuwan. Aspek dalam tidur yang paling bikin ilmuwan penasaran adalah mekanisme molekuler di balik Rapid Eye Movement (gerak cepat bola mati) saat manusia terlelap, ditandai meningkatnya aktivitas otak kita yang berujung pada mimpi.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dimuat dalam Jurnal Cell Reports 28 Agustus, sekelompok ilmuwan dari Jepang berhasil mengidentifikasi dua gen penting yang mengatur REM. selain itu, saat para ilmuwan ini memakai teknologi pengedit gen CRISP untuk "menidurkan" gen-gen itu pada tikus, mereka menemukan REM bisa dikurangi "sampai nyaris tak terdeteksi lagi."

Seperti yang sudah lama diketahui sebelumnya,sebuah neurotransmitter—senyawa yang menyampaikan informasi dari satu sel otak ke sel otak lainnya—bernama acetylcholine punya peran penting mengatur REM. lantaran saking banyaknya acetylcholine yang dilepaskan saat kita sadar dan tidur serta rumitnya jaringan syaraf yang mengatur tidur. Hanya saja selama ini belum jelas reseptor acetylcholine mana yang berperan dalam REM.

Untuk mengatasi kebuntuan pemahaman, para periset memanfaatkan perangkat pengedit gen CRISPR, yang menggunakan enzim bernama Cas9. Enzim tadi digunakan memotong sedikit bagian DNA, lantas memulai perubahan genetik di titik yang sama. Teknologi CRISPR digunakan untuk secara selektif menonaktifkan gen yang menyandi reseptor acetylcholine.

Saat para periset berhasil menidurkan gen-gen yang menyandi dua reseptor acetylcholine bernama Chrm1 dan Chrm3, mereka menemukan bahwa ini memicu "short sleep profile." Dengan kata lain, aktivitas otak tikus dalam percobaan tersebut mengindikasikan kalau mereka hanya berputar-putar dalam siklus tidur tanpa melewati REM.

Penelitian tentang tidur menyimpulkan REM sebagain komponen penting kesehatan kita saat tak tidur. Wabil khusus, REM kerap dikaitkan dengan performa kognitif dan terbukti penting dalam perkembangan otak pada bayi. Mengacu kepada kesimpulan yang diambil oleh para ilmuwan dalam makalah mereka, penemuan gen yang mengatur REM membuka kesempatan penelitian lebih mendalam guna, "memastikan apakah REM memainkan peranan krusial dalam sejumlah fungsi fundamental sebuah organisme, seperti pembelajaran dan pembentukan ingatan."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard