'Climax'

2018 Adalah Tahunnya Film Penuh Koreografi Tari Bernuansa Horor

Salah satunya tentu saja 'Suspiria' yang trailernya saja sudah bikin kita terkencing-kencing.

|
Ags 31 2018, 10:18pagi

'Climax'

Tarian, entah itu Soul Train dance, gerakan yang dibikin striker sepakbola setelah mencetak gol, atau twerking yang kamu lakukan di dalam kamarmu, umumnya dianggap sebagai perayaan. Namun, tidak demikian dengan tarian-tarian dalam banyak fim. Tarian dalam kasus ini menjadi katarsis berbeda dan lebih mirip ritual eksorsisme dan umumnya diiringi dengan raungan synthesizer yang bikin merinding. Kecenderungan seperti ini kembali muncul dalam sejumlah film horor yang tayang tahun ini. Salah film yang paling dinanti-nantikan tahun ini adalah film musikal sinting Climax, yang oleh The Guardian dideskripsikan sebagai “gambaran proses menjadi gila dan dirundung keputusasaan yang menghebohkan.” I-D menyebut film ini sebagai “oplosan Paris Is Burning dan The Shining.” Jadi jelas ya, kita enggak sedang ngomongin film macam Step Up 2: The Streets.

Sementara itu, Luca Guidagnino—sutradara film keren Call Me By Your Name—tengah mengerjakan remake film ballet yang bikin penonton terkencing-kencing ketakutan karya Dario Argento, Suspiria. Tahun ini. Jennifer Lawrence juga berhasil menghidupkan karakter mata-mata Rusia yang memikat mangsanya dengan kemampuan menari ballet. Tren film horor yang unsur tarian yang kuat juga bakal diramaikan oleh sebuah horor musikal.

Ceritanya mungkin bikin kamu geleng-geleng kepala: sekelompok muda-mudi dari sebuah desa kecil terpaksa harus “bertarung, membacok zombie sambil bernyanyi” untuk menyelamatkan diri. Nah, kalau kamu doyan film-film macam ini—atau Black Swan gagal bikin kamu semaput, berikut lima film horor yang sepertinya wajib kamu tonton tahun ini:

Climax

Hanya enam penonton yang memutuskan keluar dari premier Climax—film terbaru Gaspar Noe—di gelaran Sundance tahun ini. Penonton yang tetap bertahan mencap Climax sebagai capaian terbaik Gaspar Noe sejak debutnya, I Stand Alone, pada 1998. Bintang utama film yang memecah belah publik film ini adalah penari-penari muda dari kancah street voguing Paris yang menampilkan gerakan-gerakan menakutkan setelah berlatih di sebuah bangunan sekolah kosong dan menenggak sangria. Salah satu aktris yang memerankan penari ini adalah bintang/penari berdarah Prancis-Aljazair Sofia Boutella. Walau namanya melambung berkat peran-perannya di film dengan anggaran besar, Boutella berani mengambil peran dalam film-film dance yang liar. Climax juga memiliki soundtrack yang ciamik, salah satunya adalah lagu baru karya anggota Daft Punk Thomas Bangalter yang berjudul Sangria.

Madeline’s Madeline

Pendatang baru Helena Howard berperan sebagai seorang bintang remaja jenius dalam film tentang masa akil balik yang akan menjungkirbalikkan otak penontonnya itu. Film ini bercerita tentang latihan teater eksperimental yang mengangkat tema bipolar disorder dan kegelisahan. Kebetulan, Howard adalah penggemar bedary Black Swan, dan melihat bahwa dirinya melalui metamorfosis yang dilalui Nina serta punya keinginan untuk memuaskan orang lain yang sama kuatnya. Madeline’s Madeline diakhiri dengan gerakan tarian interpretatif paling menyeramkan dalam sejarah film belakangan ini. Adegan-adegan itu melibatkan bagian tubuh penari yang menggapai-gapai dan topeng babi yang sureal. Performa Howard yang bikin merinding membuatnya menderita dissociative disorder selama proses syuting. “Tiap kali saya jalan-jalan keluar dengan orang lain, mereka selalu bertanya apa saya baik-baik saja,” katanya kepada I-D awal bulan ini. “Saya enggak sadar waktu itu karena saya terlalu masuk dalam karakter saya perankan.

Red Sparrow

Enam tahun setelah mempertontonkan kemampuan balletnya bersama Bradley Cooper dalam film Silver Linings Playbook, Jennifer Lawrence bertansformasi menjadi seorang penari ballet Bolshoi bernama Dominika Egorova dalam film garapan Francis Lawrence Red Sparrow. Setelah cedera mengakhiri karir baletnya, Egorova menjelma menjadi mata-mata yang memikat musuhnya dengan kejagoannya menari ballet. Tak ayal, untuk memerankan Egorova, Jennifer Lawrence harus berlatih 4 jam selama lima hari dalam seminggu untuk melancarkan gerakan kakinya di bawah bimbingan koreografer Kurt Froman dalam garasi rumahnya di Los Angeles. Mungkin gara-gara latihan ini, Jennifer tak lagi keserimpet dan jatuh dalam perayaan Oscar tahun ini.

Suspiria

Film terbaru garapan Luca Guadagno punya corak yang jauh berbeda dari Call Me By Your Name. Kali ini yang digarap Gudagno adalah remake film thriler klasik keluaran tahun 1977 karya Dario Argentio, Suspiria. Tokoh utama film ini adalah Suzy (Dakota Johnson) yang bertualang ke Berlin guna menimba ilmu di sebuah sekolah ballet bergengsi. Tanpa Suzy sadari, Kedatangannya ke Berlin memicu serangkaian kejadian supernatural yang menyeramkan. Syuting Suspiria ternyata jadi pengalaman yang traumatis bagi Johnson hingga sampai harus menjalani terapi psikologis, seperti yang diungkapkannya kepada Ellle awal tahun ini. Suspiria juga disambut dengan sejumlah reaksi ekstrem dari pengunjung CinemaCon setelah melihat trailer film ini yang bikin bulu kuduk berdiri.

Anna and the Apocalypse

Film yang satu agak sedikit berbeda. Jika yang empat film berikutnya adalah film horor betulan—atau setidaknya thriller Anna and The Apocalypse lebih mirip seperti versi musikal dari Zombie Apocalypse. Ceritanya tentang sekelompok anak SMA yang harus “bertarung, membabat zombie sambil bernyanyi” di sebuah kota kecil di Skotlandia. Variety dengan sangat cerdas menggambarkan film ini sebagai “anak kawin silang High School Musical dan Dawn of The Dead.” Berbekal deskripsi ini saja, kita bisa menebak kalau film ini penuh dengan koreografi tarian di atas rata-rata dan lagu-lagu pop ballad yang manis abis, termasuk remake seksi hit Eartha Kitt dari tahun 1953 Santa Baby. Semua koreografi yang hidup banget dalam film ini diciptakan oleh Sarah Swire, yang juga berperan sebagai salah satu teman Anna yang lesbian yang update dengan banget dengan isu-isu kekinian.

More VICE
Vice Channels