Iklan
The VICE Guide to Right Now

McDonald's di India Kena Ancaman Boikot Gara-Gara Sembelih Daging Secara Halal

Keputusan McDonald’s menyembelih hewan secara islami dianggap penistaan terhadap mayoritas warga hindu di sana oleh kalangan sayap kanan radikal.

oleh Shamani Joshi; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
28 Agustus 2019, 5:34am

Foto ilustrasi via  Pexels (kiri) dan Maxpixel

(kanan) 

Warganet India sedang dibuat geram oleh makanan. Setelah sebelumnya tidak terima dengan aplikasi pesan antar makanan Zomato yang membedakan antara restoran “berdaging halal” dan tidak, sekarang mereka melampiaskan amarah kepada McDonald’s—yang sempat ngetwit kalau produk dagingnya sudah bersertifikat halal.

Usai memahami apa maksudnya, pengguna Twitter membanjiri kolom balasan McDonald’s dengan ungkapan kekecewaan restoran ini menyembelih hewan dengan menggorok lehernya—yang sering diperdebatkan aktivis hewan asing karena dianggap lebih menyakitkan.

Di saat sebagian besar orang memperdebatkan antara berhenti makan daging atau memotong hewan dengan cara lebih manusiawi, yang lain—khususnya kaum ekstremis sayap kanan Hindu—malah lebih meributkan restoran cepat saji favorit mereka mementingkan agama minoritas.

Selain melarang rantai makanan ini menjual daging sapi, warganet India kini marah karena daging yang bisa mereka makan disembelih sesuai ajaran agama Islam. Mereka sontak menjadikan tagar #BoycottMcdonald trending di Twitter. Banyak yang mengancam baru akan kembali ke McDonald’s jika restoran ini menyembelih hewan dengan metode ‘jhatka’ atau sekali potong.

Beberapa menuding McDonald’s tidak peduli dengan orang Hindu, sementara yang lain mengkritik metode ini lebih menyiksa.

Sementara itu, para aktivis mengatakan kelompok sayap kanan Hindu sengaja memanfaatkan momen ini untuk menyerang umat Muslim. “Sentimen Islamofobia semakin meningkat di India, sehingga sayap kanan Hindu menggunakan segala kesempatan untuk menyerang orang Islam,” Shabnam Hashmi, aktivis di New Delhi, memberi tahu Al Jazeera.

Meskipun demikian, masih banyak orang yang tidak peduli dengan masalah boikot ini. "Aku nonmuslim, tapi tidak peduli ayamnya disembelih dengan cara apa. Aku lebih mementingkan pengolahannya, pengemasan, nutrisi dan seberapa besar jumlah karsinogen dalam makananku," ujar peneliti Sushmita di New Delhi.

"Mengadu domba komunitas tertentu, untuk sesuatu yang awalnya bersifat pribadi dan bukan jadi masalah publik, lambat laun akan menanamkan kebencian di masyarakat dan membuat sejumlah orang merasa semakin tidak aman."

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India