Budaya

Harus Selalu Patuh Pada Orang Tua Merugikan Kesehatan Mentalku

Kebanyakan sistem keluarga di Asia mewajibkan anak agar berbakti sebagai bentuk balas budi. Sayangnya, tradisi ini kerap dijadikan alat pemuas ego orang tua.

oleh Doris Lam; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
07 Desember 2019, 3:00am

Foto milik penulis.

Saat muda dulu, aku hampir enggak pernah keluar kamar karena takut kena semprot orang tua. Rasanya apa saja yang aku lakukan selalu salah di mata mereka. Hal-hal sepele, seperti lupa menggantung handuk atau mengembalikan barang pada tempatnya, bisa jadi sumber amarah. Mereka tak jarang menghardikku pemalas dan bukan anak berbakti.

Aku dulu menurut saja setiap kali ayah ibu bilang mereka mendidikku dengan keras demi kebaikanku. Sebagian besar anak keturunan Asia dibesarkan melalui gaya asuhan otoriter. Mereka harus selalu mematuhi semua perintah orang tua kalau enggak mau dipanggil durhaka.

Dalam budaya Tionghoa, hal ini biasa disebut “filial piety” atau menghormati pengorbanan orang tua yang telah melahirkan kita ke dunia.

Tetapi, pada titik mana filial piety dianggap telah melampaui batas dan jatuhnya jadi penyalahgunaan kekuasaan untuk membentuk anak seperti yang diinginkan orang tua?

Segalanya aku korbankan untuk membahagiakan orang tua. Aku menjadi orang lain, mengubur cita-cita, enggan menyuarakan keinginan atau pendapat, dan putus dengan pacar beda ras karena tak mau mereka kecewa. Pada akhirnya, aku mengembangkan serangkaian coping mechanism tak sehat yang masih belum berhasil kuhentikan.

Beberapa bulan lalu, aku menulis esai tentang bagaimana seharusnya perilaku berbakti dilakukan atas dasar cinta, bukan karena kewajiban dan tradisi. Orang tua tak semestinya membuat anak merasa bersalah untuk “menguji” kasih sayang dan pengabdian mereka. Artikel ini memicu perdebatan sengit dalam kolom komentar.

Respons pembaca membuatku bertanya-tanya. Siapa sebenarnya yang salah di sini? Apakah aku terlalu lebay dan lemah sebagai anak telah menuduh orang tua seperti itu? Haruskah aku mencintai ayah ibu setulus hati dan menjadi seperti yang mereka inginkan—apalagi mereka telah banyak berkorban untukku? Apakah tradisi ini hanyalah bagian dari hidup yang mesti aku patuhi? Bodohkah aku jika ‘memaksakan’ budaya kebarat-baratan ke dalam sistem keluargaku?

Namun, aku tak menyangka banyak juga yang mendukung. Kotak masukku dibanjiri cerita-cerita dari para pembaca yang merasa terjebak dalam budaya filial piety. Mereka tak sanggup menampung semua tekanan dan beban tanggung jawab dari orang tua, tetapi juga tak berani mengungkapkannya karena takut dicap anak kurang ajar.

Bagi anak-anak generasi pertama yang tinggal di negara Barat sepertiku, perbedaan budaya antara orang tua dan anak terkadang menyebabkan kesenjangan akulturasi antar generasi. Akibatnya terjadi kesulitan komunikasi yang, menurut penelitian, dapat menciptakan konflik keluarga dan masalah psikologis pada anak karena harus beradaptasi di sekolah dan bidang lainnya.

“Ketika kamu sudah terbiasa dengan tradisi ini dan tiba-tiba bersekolah di lingkungan Barat, ekspektasimu akan berubah ketika pulang ke rumah. Kamu akhirnya dipermalukan oleh hal-hal yang kamu kira normal,” Mihoko Maru, mahasiswa program doktoral di Universitas Boston yang melakukan riset gaya pengasuhan orang tua keturunan Asia-Amerika dan kekerasan emosional dalam hubungan orang tua-anak, memberi tahu VICE. Dengan begitu, anak-anak jadi kesulitan mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan kepada orang tua.

Komentar-komentar tersebut mengajarkanku bahwa filial piety sangat mengakar pada tradisi Asia dan tampaknya akan terus berlanjut. Aku sebenarnya bangga dengan perilaku berbakti yang dijunjung tinggi budaya Tionghoa selama itu diterapkan pada tingkatan sehat. Untuk mewujudkannya, kita harus memahami perbedaan antara filial piety yang bersifat timbal balik dan otoriter.

Filial piety timbal balik adalah jenis hubungan yang sehat. Orang tua “akan mengarahkan, mendidik, memerintahkan, dan meminta anak menghormati mereka,” terang terapis perkawinan dan keluarga berlisensi Elizabeth Earnshaw, “tetapi mereka melakukannya dengan penuh kasih sayang dan menghargai individualitas anak.”

Pada jenis kedua, orang tua memaksakan kehendak mereka hingga anak kehilangan identitasnya. “Anak tetap akan menghormati dan mengikuti perintah orang tua, tapi mereka melakukannya murni karena kewajiban,” lanjut Elizabeth.

Dari penjelasannya, aku menyadari diasuh dengan jenis pertama. Aku konsultasi ke terapis untuk memahami alasan mendasar dari tindakan ayah ibu yang menyebabkan aku trauma secara emosional. Sakit memang mengenang kembali masa kecil, tetapi aku memahami mereka hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan terbaik untuk anaknya.

“Kamu perlu belajar menerima alasannya agar memahami orang tua bertindak seperti itu bukan karena masalah pribadi, meski pada akhirnya memengaruhimu secara pribadi. Ingat, menerima bukan berarti mewajarkan perilaku mereka,” Elizabeth menjelaskan.

Semasa muda dulu, aku memaklumi sikap kasar ayah ibu dengan mengulangi ucapan mereka—“ini untuk kebaikanku”. Seperti anak-anak lainnya, aku melihat orang tua sebagai pahlawan super yang patut dicontoh. Bagiku, mereka enggak pernah berbuat salah.

Aku membiarkan keinginan menyenangkan orang tua menghalangiku berpikir rasional. Aku selalu memaafkan perilaku kasar mereka karena filial piety. Sebagai orang yang tengah beranjak dewasa, aku berharap bisa kembali ke masa lalu dan mengajarkan diriku yang dulu untuk enggak memasukkan ucapan jahat ayah ibu ke hati karena ada yang salah dari gaya mengasuh mereka.

Aku belum memahami soal kesehatan mental ketika remaja, sehingga tak sadar kondisi psikologis aku memburuk. Elizabeth mengungkapkan dampak kesehatan mental yang terganggu dapat muncul kapan dan di mana saja, baik dalam hubungan, pekerjaan maupun kepercayaan diri. Jika dibiarkan, kondisinya dapat menimbulkan pikiran negatif atau dorongan untuk self-harm.

“Keadaan psikis kamu sudah enggak sehat kalau sampai berpikiran ‘Aku enggak sanggup memenuhi keinginan orang tua’, ‘Mendingan aku mati saja daripada bikin malu keluarga’ atau ‘Aku telah mengecewakan mereka,’” terangnya. “Bagiku, sudah kelewatan batas kalau tak ada keseimbangan lagi dan yang kamu lakukan cuma mematuhi semua kemauan orang tua.”

Apabila kalian terjebak dalam asuhan otoriter, Earnshaw menyarankan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri: Apakah orang tua mendengarkan pendapatku? Apakah aku benar-benar ikhlas saat menghormati mereka? Apakah aku melakukannya karena beneran sayang dan berbakti, atau karena takut dimarahi dan enggak dianggap anak?

Dalam bentuknya yang paling murni, filial piety berguna untuk membalas budi semua pengorbanan yang telah dilakukan orang tua. Nilai ini diturunkan dari generasi ke generasi untuk menghormati para leluhur. Ada baiknya tradisi tersebut dipraktikkan secara sehat dan timbal balik untuk memperkuat hubungan orang tua dengan anak mereka. Namun realitanya, filial piety lebih sering disalahgunakan untuk bersikap seenaknya kepada anak.

Sangat penting membedakan keduanya demi kebaikan anak dan orang tua.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.