Iklan
Malas Olahraga

Riset Mengonfirmasi Rahasia Umum: 81 Persen Pelajar Malas Olahraga

Kaum rebahan merajalela memang. Fakta lain: di Indonesia, 33,5 persen orang berusia di atas 10 tahun kurang olahraga. Lah, pada terakhir olahraga pas SKJ di halaman SD dong?

oleh Ikhwan Hastanto
25 November 2019, 9:49am

Foto ilustrasi pelajar SMA oleh Romeo Gacad/AFP

Ingat nggak sih dulu pas remaja kita seneng banget bangun subuh-subuh terus olahraga setiap pagi? Enggak kan? Makanya daripada itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) baru aja melakukan penelitian dan hasilnya bisa dianggap cukup wajar: 81 persen pelajar berusia 11-16 tahun di 146 negara terancam sakit-sakitan di masa tuanya karena kurang olahraga.

Studi tersebut dimuat dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health dan melibatkan 1,6 juta pelajar di seluruh dunia sebagai objek penelitian. Mayoritas remaja dinyatakan tidak melakukan aktivitas fisik sesuai rekomendasi WHO yang menganjurkan anak berolahraga dengan intensitas sedang hingga berat selama satu jam per hari.

Hasil studi ini juga mengungkap perempuan sedunia dinilai lebih mager daripada laki-laki. Pada 2016, 90 persen pelajar perempuan di 27 negara tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Sedangkan persentase laki-laki kurang olahraga yang mencapai 90 persen hanya ada di dua negara saja. Pelajar laki-laki di Filipina dan pelajar perempuan di Korea Utara merupakan pelajar yang paling tidak aktif. Sedangkan Bangladesh didaulat sebagai negara dengan pelajar paling mager sedunia.

"Tindakan kebijakan darurat untuk meningkatkan aktivitas fisik dibutuhkan sekarang, khususnya untuk mendorong dan mempertahankan partisipasi anak perempuan dalam aktivitas fisik," ujar peneliti WHO Regina Gulthold dilansir Republika. Menurut Regina, rajin olahraga bisa meningkatkan kesehatan organ tubuh dan kemampuan bersosialisasi. Nah, ayo teman-temanku yang antisosial, kayaknya kita harus sering-sering olahraga bareng.

Direktur Centre for Built Environment and Health di University of Western Australia Fiona Bull mengatakan perlu banyaknya dukungan dari pembuat kebijakan, perencanaan kota, sistem pendidikan, serta infrastruktur yang memadai untuk mendorong remaja lebih aktif bergerak.

"Studi ini menyoroti bahwa generasi muda memiliki hak untuk bermain dan perlu diberikan peluang untuk menyadari hak mereka terhadap kesehatan fisik dan mental serta kesejahteraan," kata Fiona.

Sifat mager dalam mencari keringat sulit dihilangkan karena dampaknya baru dirasakan bertahun-tahun kemudian. Pada 2016 lalu, WHO juga merilis hasil studi dalam jurnal The Lancel Global Health yang mengatakan lebih dari 1,4 miliar orang dewasa di seluruh dunia berisiko lebih mudah sakit karena masa mudanya kurang olahraga. Katanya, belum ada peningkatan aktivitas fisik oleh manusia di bumi selama 15 tahun terakhir.

Lalu, ternyata semakin mapan seseorang, semakin lupa pula ia untuk berolahraga. Penelitan dari tahun 2001-2016 tersebut menyatakan negara-negara berpendapatan tinggi lebih tidak aktif berolahraga ketimbang negara berpendapatan rendah. Jerman, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, Argentina, dan Brazil adalah enam negara paling mager orang dewasanya. Peringkat satu termager sejagat jatuh pada AS karena 40 persen orang dewasanya tidak cukup aktif, diikuti Inggris dengan 36 persen.

Mengerucut ke Indonesia, mengacu pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan Kartini Rustandi mengatakan 33,5 persen orang berusia lebih dari 10 tahun kurang olahraga pada 2018. Jumlah ini bertambah dari 2013 yang baru mencapai 26,1 persen.

"Jalan kaki salah satu aktivitas fisik yang murah dan mudah dilakukan. Semua kegiatan aktivitas fisik mudah dilakukan tanpa biaya mahal, yang penting mau," ujar Kartini dikutip MSN.

Nah itu dia, Bu. Masalahnya, daripada lari pagi di komplek perumahan, lebih menarik lari dari kenyataan sih....

Tagged:
indonesia
Budaya
penelitian
kesehatan
Sains
Olahraga
Pendidikan
Anak Muda
Pelajar