Travel

Pahatan Batu di Gurun Ini Memuat Sejarah Peradaban Dunia

Seniman Jacques André-Istel menghabiskan 30 tahun menciptakan museum yang menurutnya bakal bertahan melampaui keberadaan umat manusia di muka bumi.

oleh Jamie Lee Curtis Taete
17 April 2018, 12:26pm

Semua foto oleh penulis, kecuali disebutkan berbeda.

Hanya beberapa kilometer dari gurun perbatasan California dan Yuma, Arizona, terdapat kota kecil bernama Felicity. Kota tersebut didirikan pada 1986 oleh lelaki yang kini berusia 89 tahun, Jacques André-Istel. Tak banyak hal menarik dari kota ini. Kalaupun, kamu mengunjungi kota ini, salah satu alasannya mungkin ingin melihat ciptaan Jacques lainnya: Museum of History in Granite.

Bagian luar museum itu tersusun dari sekumpulan panel bati granit sepanjang 3 meter yang diukir sejarah manusia untuk generasi masa depan. Semua catatan ini dikelompok dalam kategori tertentu, seperti sejarah California dan sejarah umat manusia. Menurut Istel, panel-panel ini didesain untuk bertahan sampai 4.000 tahun dan berfungsi sebagai catatan sejarah manusia bagi makhluk masa depan yang menemukannya. Entah makhluk itu berasal dari Bumi atau planet lain di semesta ini. Demikianlah gagasannya. Andai kelak manusia punah, meninggalkan bumi, museum ini tetap berdiri di Bumi, sehingga manusia tak akan dilupakan.

Tujuan mulia ini memaksa siapapun yang datang ke tempat ini membayangkan bahwa mereka di sebuah tempat yang sangat penting. Di sebuah piramid yang didirikan di ujung selatan Museum yang menurut Istel berada tepat di atas titik pusat Bumi (pemerintah kota setempat dan Institut Geographique National, Prancis mendukung klaimnya).

Turis berswafoto di penanda Pusat Bumi dalam museum.

Istel sendiri punya jalan hidup yang fantastis, yang kalau difilmkan bakal jadi mirip karya-karya sutradara nyentrik Wes Anderson. Menurut Istel, dirinya lari dari Perancis menghindari kejaran Nazi, mengelilingi Amerika Serikat dengan nebeng mobil pada usia 14 tahun, mendapat pelatihan sebagai banker investasi, cabut dari pekerjaan sebagai banker untuk mendirikan sekolah terjun payung komersil pertama di AS (dan mempopulerkan aktivitas skydiving di kalangan penduduk sipil), menikahi wartawan Sports Illustrated yang ditugaskan menulis profilnya, memiliki sebongkah bagian dari Menara Eiffel dan berkeliling dunia dengan pesawat dua tempat duduk.

Istel sepertinya terobsesi mengoleksi berbagai pencapaian. Saat saya ngobrol dengannta, Istel mengklaim kalau Felicity adalah “titik terakhir di Amerika Serikat oleh pasukan Eropa” dan “kota pertama di Amerika yang diberi nama perempuan Cina (lebih tepatnya nama istrinya) ” Website museum dipenuhi Istel dipenuhi dengan kutipan tentang Felicity dari LA Times, TIME, dan sosok-sosok ternama sepertu mantan perdana menteri Perancis dan “konsultan Library of Congress.”

Lalu, seperti ini Istel digambarkan dalam website Hall of Fame of Parachuting: "Jacques-Andre Istel - Ketua menciptakan dan mengedit MUSEUM OF HISTORY IN GRANITE di Felicity sebagai warisan umat manusia. Pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Negara bagian Massachusetts. Memperkenalkan parachuting di Amerika Serikat. Kapten Tim Terjun Payung AS pada 1956 dan pemegang rekor dunia 1961. Presiden Kehormatan Seumur Hidup IPC Federation Aeronautique Internationale, Co-Leader National Geographic Society Vilcabamba expedition 1964, Pendiri Kota Felicity, Water Commissioner Imperial County, CA. Lt. Col. USMCR, Hon.Res.."


Sejarah dunia yang diukir Istel dalam panel-panel marmer adalah sepenuhnya hasil riset yang ditulis oleh pendiri museum tersebut, dengan beberapa editan dari sang istri. Meski koleksi museum ini masih jauh dari lengkap (Istel sekarang berusah menuntaskan seksi dunia binatang), menurut Istel semua yang tertera di sana bisa dibaca habis kira-kira dalam enam jam saja.

Jadi, sejarah yang tercatat di sini adalah rangkuman dari sejarah dunia—tepatnya, versi ultra komprehensif dari sejarah dalam lirik lagu “We Didn’t Start the Fire.” Obyek yang dipilih sifatnya abritrer, namun begitu dikelompok bersama-sama menunjukkan rangkuman sejarah dunia mulai dari 14 miliar tahun lalu.

Sejarah yang dimaksud Istel bermula dari Big Bang hingga Barack Obama, dan sempat menyentuh beragam subyak seperti Gregorian chanting, Mickey Mouse, ajaran Budha, Konfusius, Roe v. Wade, letusan gunung Vesuvius, monster-monster gila, Dolly Parton, TerusanPanama, minuman keras ilegal, drone, Maya Angelou, penemuan api, Sesame Street, Viking, Stonehenge, bayi Lindbergh, roller coaster, piramida, teori permainan, perlombaan menjelajahi angkasa, sistem pertanian peradaban Mesopotamia, dan seterusnya.

Sebagian besar, sejarah yang tercatat di Museum ini ditulis dengan sangat kaku, tapi jangan lupa, itu sengaja dilakukan karena Istel menulis untuk audiens ribuan tahun dari sekarang. Konsekuensi lainnya dari penulisan sejarah macam ini adalah informasi yang dikumpulkan disajikan dengan cara yang unik dan kadang cantik. Saya ambil contoh deskripsi Istel tentang riwayat film: “Mulai tahun 1940, beberapa film menekankan tindakan penganiayaan, beberapa lainnya memancing pemikiran tertentu.” lalu, ini catatan Istel tentang dibolehkannya perempuan menjadi personel militer. “Kesetaraan yang hakiki, malangnya, kadang mencakup keseteraan di muka maut.”

Saya tak sempat ngobrol dengan Istel secara pribadi saat berkunjung ke Museumnya (Istel bilang sebagai mantan Angkatan Bersenjata dia ingin berpenampilan sekeren mungkin. Hari saya berkunjung rupanya bertepatan dengan hari-hari ketika dirinya merasa kurang keren). Namun, saya berhasil ngobrol dengannya lewat sambungan telepon beberapa minggu kemudian. Berikut cuplikan obrolan kami.

Istel di halaman depan Museum of History in Granite. Foto dari arsip pribadi Jacques André-Istel

VICE: keberatan enggak kalau rekam pembicaraan telepon ini buat catatan saya?
Jacques André-Istel: Tidak kok. Rekam saja karena saya punya kutipan buat kamu yang saya katakan secara menyeluruh dengan benar.

Baiklah.
Yang ingin pertama kali saya katakan, kalau boleh sih, adalah saya sudah membaca semua artikel tajam yang kamu tulis dengan penuh semangat. Saya jadi berharap kita ketemuan waktu itu. Dulu yang bikin saya agak kurang sreg adalah kata “VICE.” saya mikirnya kamu wartawan sebuah majalah porno.

Waduh sayangnya bukan tuh Pak. saya bukan wartawan majalah porno, cuma jurnalis majalah berita dan budaya.
Yah namanya juga enggak tahu, boleh dong ngarep sedikit. Eh kamu sudah menerima beberapa lembar yang saya email ke kamu tadi malam?

Sudah kok
Di halaman 17, kamu sudah baca komentar dari Elizabeth Starr McClintock?

"Tak ada satupun citra digital yang mempersiapkan saya dari sensasi tenang dan agung saat berada di antara monumen-monumen ini,” yang itu maksudnya?
Iya itu, saya cuma pengin membandingkannya dengan impresi atas apa yang kamu lihat di Museum.

Sama kok seperti yang saya rasakan. Saya googling dulu tentang Museum bapak, saya tak punya ekspektasi akan apa yang saya lihat di sana. Museum bapak jauh lebih impresif jika dilihat dengan mata kepala sendiri ketimbang lihat dari gambar google doang.
Saya enggak bisa menebak apa ada perbedaan berarti setelah kamu melihat semua sisi museum, 30 panel marmer dan seluruh bagian tentang marga satwa. Menurut saya, itu akan menambah sebuah dimensi baru, ngerti kan? Saya cuma penasaran..seperti apa sih impresi secara menyeluruh (tentang museum saya)?

Dalam hal apa nih?
Asal kamu tahu New York Times pernah mengirim reporternya untuk bikin sebuah artikel nanggung tentang titik pusat dunia. Kamu pasti pernah membacanya.

Liputannya nanggung di sebelah mananya sih Pak?
Masa mereka pakai istilah “absurdist joke.”

Itu mengacu ke semua hal di museum bapak atau cuma bagian titik pusat Bumi saja?
Ke bagian titik pusat Bumi sih. Cuma ya itu, New York Times enggak mengomentari tentang monumen-monumen dalam museum atau teks apapun di sana. Nah, sekarnag kamu bisa mengutip ini langsung dari saya dan saya akan katakan dengan pelan: New York Times, injilnya kaum yang memiliki privilese dan puas dengan dirinya sendiri, gagal mengerjakan PR dan, seperti yang dikomentari banyak orang, melewatkan poin penting titik pusat Bumi.

Kalau boleh tahu poin apa yang mereka lewatkan?
Yang jelas meraka menyebutnya sebagai guyonan absurd. Bagi mereka titik pusat bumi ini cuma becandaan. Padahal, ini dibuat dengan perhitungan penting pendekatan valid terhadap pendidikan untuk waktu yang sangat-sangat lama. Saya sendiri sangat menghargai penilaian A+ dari beberapa sejarawan setelah mereka dikirimi salinan ukiran teks (sejarah Amerika Serikat). Apa yang diukir di sana sudah tak bisa diubah lagi. Ini adalah nilai A+ pertama dalam hidup saya dan saya mendapatkanya setelah lewat usia 65 tahun. Penilaian seperti bakal saya dapatkan setengah abad dari sekarang. Lihat saja. Semoga kamu menyukai Museum saya.

Saya sih beneran suka sama museum anda.
Orang sering menanyakan saya kenapa melakukannya. Sebagai penerjun payung, saya suka tantangan. Ada persamaan antara terjun payung dan memiliki museum. Saat terjun payung, kamu harus bisa bertindak cepat kalau tidak ingin mati. Mengukir sejarah memang tidak bikin mati, tapi kamu bakalan dikira orang bego seumur hidup kalau sampai salah.

Ada 14 tahap yang harus kamu lakukan saat mengukir di batu. Saya tidak akan menjelaskan semuanya, tapi yang paling penting setelah memilih topik yaitu kamu harus menggunakan program CAD untuk menyusun tulisan dan bingkainya. Kamu harus mengecek ulang supaya tidak ada yang salah tulis. Saya akan minta istri melakukannya karena dia sangat teliti. Setelah selesai dicek, kami akan memotong dan mencabut stensilnya. Kami akan baca ulang lagi, buat pastiin udah benar. Setelah itu saya menyalin inisial nama dengan “OK to paste” ke batu. Salinan baru bisa dipotong kalau saya sudah memilih “OK to cut.” Jadi saya harus baca dengan teliti lagi.

Saya memilih OK to cut dalam sejarah kuda nil. Kami semua memeriksanya, termasuk pengukirnya. Saudaranya ikut membantu, dan beberapa saat sebelum kami mencetaknya, kami baru sadar kalau membuat kuda nil setinggi 13,7 kaki (4,1 meter). Padahal harusnya sepanjang 4,1 meter. Kami hampir saja mempermalukan diri karena membuat patung kuda nil setinggi itu.

Pernahkah bapak nemuin kesalahan ketik atau faktual setelah batunya jadi?
Selama 14 tahun ini, hanya ada satu orang yang nemuin salah eja, dan itu kata yang biasa kita temui sehari-hari. Kejadiannya sembilan tahun lalu. Saya langsung mengecek dan membaca tulisannya. Awalnya saya tidak sadar ada yang salah, tapi setelah menyentuh katanya satu per satu, baru deh ketemu. Kalau kita sudah terbiasa melihat suatu kata, kita selalu ngiranya sudah benar saja, padahal sebenarnya salah. Kamu sendiri ngelihat ada yang salah, gak?

Sepertinya ada typo huruf besar, tapi saya bisa salah baca juga kok. Kalau bapak mau, saya bisa kirim catatan kemarin lewaat email.
Wah boleh banget! Saya sudah bacain kutipannya Gibbons yang sudah saya modifikasi belum?

Kayaknya belum deh.
Ya udah saya bacain ya sekarang. Saya melakukan ini bukan karena peninggalan. Kamu pernah dengar tentang Jean d'Ormesson dari Academie Francaise, penulis terkenal yang baru meninggal?

Belum tuh.
Mereka dijuluki ilmuwan abadi. Menjadi anggota Academie Francaise di Perancis itu sebuah pencapaian puncak, seperti dianugerahi Nobel Prize. Tapi intinya, si lelaki ini diwawancarai ketika berumur 90 tahun, dan tentu saja dia ditanyai tentang kematian dan sebagainya. Dan dia menjawab, “Saya sudah banyak membaca tentang Ibu Teresa, dan dia bertarung melawan keraguan diri seumur hidupnya, jadi saya penasaran apakah pasca kehidupan tidak akan ada apa-apa ataukah ada Tuhan, dan saya berharap Tuhan itu ada karena rasanya tidak benar kalau banyak perbuatan buruk di Bumi tidak dihukum nantinya.”

Saya tidak melakukan ini demi meninggalkan jejak, karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah saya meninggal. Tapi saya melakukan ini demi tantangannya, itu nomor satu. Dan nomor dua, kamu boleh mengutip ini, saya terinspirasi oleh Edward Gibbon, 1737 - 1794, kamu pasti sudah tahu siapa dia.

Maaf nih sebelumnya, saya enggak tahu Edward Gibbon itu siapa.
Dia lelaki yang sangat penting—dia menulis Decline and Fall of the Roman Empire, yang merupakan sebuah teks klasik dalam sastra dan sejarah. Nah bagian berikut bisa kamu kutip, dan ini adalah alasan saya melakukan apa yang saya lakukan, berkat inspirasi dari Gibbon: Tidak diberikan pendidikan, tidak terbentuk dalam pemikiran, tidak berkemampuan dalam seni komposisi, saya bertekad mengukir sejarah dalam granit.


Tonton dokumenter Motherboard tentang gereja sekaligus laboratorium yang menyimpan ambisi besar membuat manusia abadi:


Jadi intinya semua pemikiran Anda tadi berdasarkan kutipan dari Gibbon?
Iya. Semua dia yang mulai, tapi saya adopsi ke dalam situasi saya. Yang menarik tentang tempat ini adalah kami tidak pernah beriklan. Kenapa? Pertama, karena ini adalah work in progress, dan kedua, kami harus mencapai sebuah titik ketika kami bernilai tinggi, dan mungkin nantinya bisa beriklan. Kota Felicity memiliki beberapa sumber pendapatan, salah satunya pertanian seperti yang kamu lihat sebelumnya. Kami memiliki lebih dari 2.800 hektar lahan, termasuk pertanian, yang dilakukan oleh eksportir melon terbesar di dunia. Ada juga beberapa apartemen yang disewakan, jadi turisme akan menjadi sesuatu yang penting nantinya. Namun di tahap ini, kami hanya menyewa seorang pemandu wisata selama empat bulan dalam setahun dan berkonsentrasi menulis panel di granit mengenai binatang. Kami juga harus menyelesaikan sejarah tentang manusia, dan ini tugas yang besar.

Yang menarik tentang tempat ini adalah edukasinya. Karena ini adalah motif besar lainnya—dan saya ingin menggunakan sebuah kutipan di sini: Bentuk pendidikan paling murni adalah pencarian pengetahuan yang dilakukan oleh diri sendiri. Kesimpulan dari berbagai subyek mendorong upaya seperti ini. Selama beberapa tahun, kami sempat tidak dianggap serius, dan kami tidak peduli juga karena sibuk, tapi dalam tiga tahun terakhir, University of Northern Arizona menggunakan panel kami sebagai materi pengajaran, dan ini membuat kami sangat bahagia. Sekolah-sekolah juga mulai ikut. Ada yang dari Meksiko, dan ada yang dari AS. Satu sekolah menerapkan sebuah program dii mana mereka menaruh kertas di atas panel tertentu, dan menggunakan pensil untuk mendapatkan kata-kata yang kemudian harus digunakan untuk menulis sebuah esai.

Itu proyek yang keren kok.
Hal-hal macam inilah yang membuat kami bahagia.

Apakah ada bagian yang terasa seperti tugas, yang kamu merasa harus dimasukkan padahal tidak menarik?
Pertanyaanmu menarik. Di bagian pengenalan [di panel Sejarah Binatang], saya menulis bahwa mereka dibagi menjadi binatang bertulang belakang dan tanpa tulang belakang. Dan kemudian kalimat berikutnya bertuliskan, “Binatang bertulang belakang, mencakup mamalia, ikan, burung, reptil, amfibi, hanya mewakili sebagian kecil total binatang, sekitar 5 persen. Sisanya adalah binatang tak bertulang belakang, mencakup moluska, serangga, dan 6.000 spesies ulat.” Saya memikirkan bagaimana membuat panel untuk binatang tak bertulang belakang, masak mau semuanya berisikan kecoa dan kutu? Tapi akhirnya kami menemukan solusi, seperti biasanya.

Sebelumnya kamu menyebutkan bahwa kamu tidak peduli tentang meninggalkan jejak lewat museum ini, tapi jejak seperti apa hendak anda tinggalkan untuk dunia?
Saya tidak memikirkan jejak seperti itu, karena begitu kamu sudah tiada, ya kamu tiada. Itu nomor satu. Nomor dua, seperti yang kamu bisa lihat, kami memiliki terlalu banyak proyek. Saya tidak merasa berumur 89 tahun, tapi, tantangan menghitung panel yang tersisa dari peradaban manusia yang harus ditulis dan jumlah panel binatang… Bagaimana bisa kami menyelesaikan ini, dan bagaimana juga kami harus memilih mana yang harus ditulis dan sebagainya?

Apa anda pernah khawatir internet akan menggantikan peran arsip fisik sejarah seperti museum?
Satu, ada pepatah lama mengatakan “bantu saya mengubah hal-hal yang bisa saya ubah dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa saya ubah,” itu kutipannya enggak akurat sih, tapi intinya, apapun yang ditulis dalam granit akan selamanya ada.

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas

Follow Jamie Lee Curtis Taete di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.