Iklan
kesehatan

Waduh, Keseringan Makan Fast Food Diduga Menurunkan Kualitas Sperma Lelaki

Pizza dan kentang goreng memang enak buat basian, tapi enggak bagus buat mutu sperma. Yang bilang peneliti lho.

oleh Jelisa Castrodale
30 Juni 2019, 6:06am

Foto ilustrasi fast food dari Getty Images 

Tahun lalu, tim peneliti dari Australia menerbitkan sebuah studi yang menjelaskan kaitan antara semakin banyak makanan cepat saji yang dikonsumsi perempuan, berdampak pada semakin sulit bagi mereka bisa hamil. Dalam penelitian ini, 5.568 ibu baru diminta mendeskripsikan pola makan mereka sebulan sebelum mereka hamil. Ternyata, makanan kurang sehat mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk mengandung.

Perempuan yang "jarang atau tidak pernah" mengkonsumsi makanan cepat saji mempunyai risiko ketidaksuburan sebesar 8 persen, sedangkan perempuan yang rutin mengkonsumsi makanan cepat saji empat kali seminggu atau lebih, ternyata dua kali lebih mungkin mengalami periode ketidaksuburan. Artinya, semakin sering mengkonsumsi makanan cepat saji rata-rata butuh sebulan lebih lama untuk hamil dibanding perempuan hamil yang mengonsumsi panganan sehat.

"Meskipun komponen pola makan dan hubungannya dengan kesuburan belum diteliti secara spesifik bagi manusia [...] kami percaya makanan cepat saji mungkin merupakan faktor yang mempengaruhi ketidaksuburan melalui pengubahan fungsi indung telur," kata penulis penelitian ini, Jessica Grieger saat diwawancarai kantor berita Reuters.

Kabar buruk juga buat kalian yang laki-laki: makanan kurang sehat tidak hanya mempengaruhi perempuan. Menurut studi dari Harvard University, terlalu sering makan makanan cepat saji juga dapat mempengaruhi kesuburanmu juga.

Dalam penelitian tersebut ini, para peneliti menguji "diet, kualitas sperma, hormon reproduktif, dan faktor gaya hidup" 2.935 laki-laki asal Denmark yang menjalani uji medis sebelum masuk militer. (Kami juga bingung apa hubungannya "kualitas sperma" sama Angkatan Darat Kerajaan Denmark).

Para peneliti memisahkan para laki-laki berdasarkan pola makan mereka: diet "Barat", yang mengandung banyak pizza, makanan olahan, gandum, daging merah, cemilan, permen, dan minum yang "tinggi akan energi"; diet "Prudent" yang terdiri dari ikan dan ayam, buah dan sayur, dan air putih; lalu, diet "Smørrebrød" yang terdiri dari gandum, ikan dingin, mayones dan produk susu lainnya, dan daging olahan dingin; dan diet vegetarian tetapi masih mengandung telur dan kacang kedelai.

Para peneliti menyimpulkan laki-laki yang mempunyai sperma paling sehat dan jumlah sperma tertinggi mengikuti pola diet sehat, sedangkan yang memiliki sperma paling tidak sehat dan jumlah sperma paling kecil gemar makan yang tidak sehat.

Para peneliti menegaskan bahwa laki-laki yang mengikuti diet ala Barat mempunyai lebih sedikit hormon inhibin-B. Itu bisa berarti mereka juga kekurangan sel Sertoli, yang mempengaruhi produksi sperma. Kini sudah diperdebatkan apakah sel Sertoli yang mengalami stres dapat pulih--atau apakah studi ini dapat mengukurnya secara akurat. "Itu tidak bisa ditentukan kecuali kami melihat kulit testis melalui biopsi," kata Dr. Bobby Najari, ahli urologi di New York University, kepada Men’s Health. "Data kami masih belum mampu menangani kesehatan sel Sertoli."

Yang tampaknya tidak dapat diperdebatkan adalah bahwa diet--apalagi diet kurang sehat--dapat mempengaruhi kesuburan perempuan baik laki-laki. Hasil studi Harvard ini belum melalui penilaian sejawat, tetapi hasilnya akan dipresentasikan di konferensi European Society for Human Reproduction and Embryology (ESHRE) tahun ini.

"Sebagian besar laki-laki merasa tak terkalahkan sebelum mereka mengalami komplikasi medis untuk pertama kalinya, biasanya keguguran atau ketidaksuburan," ujar presiden ESHRE Dr. Roy Farquharson kepada The Telegraph. "Lalu pasangan mereka akan bertanya, 'Kamu ngapain aja?' karena sperma itu sama pentingnya seperti telur."

Hmm, kami jadi penasaran apa saja yang berlangsung di ujian medis Denmark.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES