Iklan
LGBTQ

Mengintip Kehidupan Sehari-Hari Warga LGBTQ di Brunei

Dokumenter 'The Visible' adalah karya sutradara muda Atikah yang memberi ruang bercerita buat para perempuan queer di negara yang mengkriminalisasi minoritas seksual.

oleh Edoardo Liotta
08 Mei 2019, 11:51am

Di Kerajaan Brunei Darussalam, mejadi gay artinya sudah melanggar salah satu hukum paling berat. Orientasi seksual yang berbeda dianggap setara pelaku zina, sodomi, pemerkosaan, dan penistaan agama, sehingga dapat dijatuhi hukuman cambuk hingga hukuman mati dengan cara rajam alias dilempari batu.

Rencana Brunei mengkriminalisasi kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Trangender, dan Queer (LGBTQ) memang ditunda. Sultan Hassanal Bolkian mengumumkan moratorium hukuman mati bagi LGBTQ di negara kecil kaya minyak itu, setelah menuai kecaman internasional.

Tapi, sebelum ada perubahan sikap dari elit kerajaan, seorang sutradara queer muda Atikah—yang meminta agar nama keluarganya dirahasiakan—justru nekat membuat dokumenter tentang LGBTQ di Brunei. Adanya revisi hukum Syariat Brunei, yang berniat menghukum berat minoritas seksual, membuat Atikah merasa semakin tertantang untuk mengambil sikap. Proyek Atikah yang awalnya untuk dokumentasi pribadi saja berubah menjadi pernyataan politik bagi semua queer di Brunei Darussalam.

Atikah tumbuh besar di Eropa. Baru tahun lalu dia pulang ke Brunei pada usia 22 tahun. Setelah merasakan diskriminasi akibat seksualitasnya, dia menyalurkan pengalaman tak menyenangkan tersebut menjadi sesuatu yang lebih positif.

Atikah membuat video pendek berdurasi tiga menit yang bertajuk The Visible. Video ini menampilkan perjuangan para perempuan dan komunitas LGBTQ+ yang dikekang hak asasinya di Brunei. Reporter VICE berkesempatan ngobrol bareng Atikah membahas videonya.

VICE: Halo Atikah. Bisa jelaskan sedikit latar belakangmu?
Atikah: Saya lahir di Brunei, tapi sejak kecil tinggal di Paris. Jadi sebagian besar waktu saya ada di Eropa. Saya biasanya pulang ke Brunei tiap liburan musim panas. Saya sempat pindah ke London dan kuliah perfilman di sana, tapi terpaksa pindah karena ada masalah visa. Setelahnya saya memutuskan balik ke Brunei dan tinggal di sini sekarang.

Seperti apa sih perlakuan terhadap komunitas LGBTQ+ di Brunei?
Di luar pemberitaan media, sebenarnya kami agak bebas ya. Tapi memang ada konsekuensi sosial kalau kamu memutuskan berani mengungkapkan jati dirimu di ruang publik. Kamu harus siap dengan reaksi orang saat mereka tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu bisa menjalani hidup sesuai keinginanmu, tetapi orang-orang di sini bakal mengkriti sikapmu. Ada penyiar radio terkenal yang terang-terangan mengaku gay, tapi setelah itu semua akun medsosnya digembok. Itulah mengapa saya bilang kamu bisa mengekspresikan diri sendiri, tapi enggak bisa menyampaikannya langsung ke masyarakat.

Menurutku, keluarga menjadi pihak yang paling sulit dihadapi bagi queer di Brunei. Jarang ada orang tua yang toleran sama orietansi seksual berbeda di sini. Sepupuku gay. Dia sering dipukuli ayahnya. Kekerasan di rumah juga lumrah terjadi.

Jika lelaki LGBTQ mengalami kekerasan, apa perempuan juga mendapat perlakuan serupa?
Iya, sama saja. Kamu bisa berpakaian sesukamu sampai batasan tertentu, tapi kamu akan dihakimi. Saya sering diledekin kalau sedang mengenakan celana di bawah lutut.

Sejak hukum syariat diterapkan pada 2014, apa dampaknya bagi komunitas LGBTQ+ di negara ini?
Sebenarnya tidak banyak yang berubah. Saya pernah tanya ke sepupu saya yang lesbi, apa yang terjadi sejak hukum ini berlaku lima tahun lalu. Dia bilang tidak terasa ada perbedaan mencolok. Menurutnya, komunitas LGBTQ sudah dari dulu dipersekusi karena menjadi dirinya sendiri. Mereka sudah dikriminalisasi jauh sebelum hukum Syariah diterapkan. Orang queer selalu hidup dalam ketakutan di Brunei.

Kalau demikian, mengapa pemerintah Brunei merasa harus menerapkan Syariat?
Ada yang bilang karena tingkat kejahatan di Brunei meningkat, jadi Sultan ingin menakut-nakuti orang dengan memberlakukan hukum ini. Ada juga yang bilang kalau Sultan takut dengan tekanan kelompok muslim konservatif di negara ini, sehingga dia ingin menyenangkan mereka dengan mengimplementasikan hukum agama.

Apakah kalian punya komunitas? Apakah individu LGBTQ saling mendukung?
Ada komunitas kok. Kami punya party khusus gay, tapi tentunya cuma diadakan di rumah pribadi. Seenggaknya komunitas ini eksis. Grindr juga bisa diakses di Brunei. Terdengar aneh ya, tapi banyak juga kok yang menggunakannya.

Lantas, apa tujuanmu saat membuat film dokumenter ini?
Awalnya saya cuma membuat fashion shoot yang berfokus pada seni dan pakaian anak muda Brunei. Lama-kelamaan saya memerhatikan diskriminasi yang dialami perempuan dan sosok queer di Brunei. Saya mulai menyalurkan kegelisahan itu lewat video. Saya menjadikan proyek dokumenter ini sebagai sarana mengekspresikan apa yang saya yakini. Saya ingin orang-orang yang terdiskriminasi bisa menyuarakan pikiran mereka secara lebih terbuka.


Tonton dokumenter VICE Indonesia mengenai rangkaian sejarah penggambaran sosok LGBTQ di perfilman nasional:

Kamu sendiri kenapa berani bikin film politis yang kritis menyorot Brunei?
Film ini ditujukan untuk membuka mata semua orang mengenai isu-isu yang tak banyak dibicarakan dari Brunei. Tidak hanya terkait hak perempuan, tetapi juga hak LGBTQ dan hak asasi secara umum. Film ini tentang setiap perempuan, terlepas dari mereka gay atau tidak, serta perjuangan kolektif orang seperti kami di Brunei.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.