Iklan
Fashion

Industri Fashion Sedang Menyukai Sneakers Jelek dan Norak

Jujur aja, siapa sih yang demen liat bentuk seri Ozweegos-nya Adidas, atau desain 'jenius' Balenciaga? Kami membedah alasan perancang busana belakangan rutin bikin sepatu butut.

oleh Douglas Greenwood
20 Agustus 2017, 9:30am

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.

Jujur deh, sekarang sepatu minimalis bernuasan elegan dianggap membosankan. Setengah dekade terakhir, makin sedikit saja beredar sepatu bermotif simpel dengan warna polos menghiasi runway atau pasaran streetwear dunia. Sneaker macam itu kalah pamor sama gelombang sepatu gemuk, jelek, dan berwarna ngejreng yang norak abis. Lalu bagaimana sebetulnya kita mendefinisikan gaya sepatu masa kini, yang 'saking jeleknya, malah dianggap keren' ini? Tren ini siapa yang mulai sih?

Kriterianya simpel. Hari gini, sepatu sneaker yang dicari adalah yang dulu sering anda lihat di rak diskon retail satu dekade lalu; model-model sepatu yang dicari nenek-nenek yang ingin memperbaiki postur tubuh. Di zaman itu, sepatu-sepatu ini dipandang 'nyaman tapi gak keren' karena memiliki sol tebal, kebanyakan panel, dan busa yang kelewat gemuk.

Dulu dianggap sebagai kejahatan fashion, kini sneaker jelek justru menjadi komponen vital industri modern. Dipopulerkan oleh para hypebeasts dan "anak-anak fashion goth", banyak brand mengambil kembali tren sepatu jelek 90an yang mencolok dan menciptakan ulang produk untuk generasi masa kini.

Secara esensi, gaya yang kini digemari banyak orang sesungguhnya adalah tren yang sangat dibenci dari masa lampau. Contohnya adalah sepatu Buffalo kesukaan pencinta musik rave, hingga sepatu boot jungle gothic. Dua sepatu itu marak era 90-an, karena pada dekade tersebut sepatu menjadi alat ekspresi diri. Elemen-elemen dari tren masa lampau tersebut, terutama sol sepatu yang lebay dan warna yang norak, kini menghiasi fashion masa kini. Bahkan, bisa dibilang satu sosok lelaki asal Belgia bertanggung jawab atas semua kenorakan dunia sneaker.

"Merek-merek ternama mengadopsi gaya 90-an, terutama desain sepatu yang dulu dianggap cupu, lalu menambahkan sedikit modifikasi supaya kesannya keren serta punya citra khas haute couture."

Perancang fashion kontemporer, Raf Simons, sejak lama menekuni dunia desain footwear jauh sebelum anak-anak hypebeast mulai ikut-ikutan. Awalnya, dia sekedar mengambil desain sepatu sederhana dan menempelkan motif-motif aneh seperti gesper dan tali tas anak sekolah. Di masa itu, inovasinya tidak mendapat banyak perhatian. Padahal sesungguhnya yang dirintis Simons merupakan awal dari inkarnasi baru dunia desain sneakers. Gara-gara terobosannya membuat sepatu norak, dia ditawari kontrak besar legendaris dengan Adidas. Biarpun dia juga mendesain sepatu klasik seperti Stan Smith dan the Spirit, inovasinya bersama sepatu lari Ozweego yang nantinya mengubah persepsi publik terhadap snakers butut.

Menggunakan sol platform depan belakang, skema warna menabrak-nabrak, dan panel dari kulit, silikon, suede dan jala, setiap produk Ozweego bikinan Raf yang dirilis mulai musim gugur/musim dingin 2013 terasa seperti karya seni ambisius layak pakai. Ini menjadi pola dasar banyak sneaker jelek masa kini: mudah dikenali dan dalam banyak hal, tidak tersaingi (karena desainnya lebay abis).

Tentunya ini tidak menghentikan banyak brand dan desainer berusaha mengikuti langkah Ozweego. Sebagai seorang influencer sejati, tidak heran produk baru Simon ini menyebar luas ke banyak fashion house Eropa. Nama-nama besar lain di dunia sportswear seperti New Balance, Nike, dan Asics menghidupkan kembali produk sepatu gemuk mereka guna memuaskan selera baru pelanggan. Sementara fashion house mewah justru mencoba memunculkan produk yang lebih berani dan indah.

Dulu, para modiste selalu menciptakan sneaker yang mudah ditebak, tidak menarik sebagai bahan diskusi. Sneaker-sneaker ini selalu simpel, bersih dan berfokus di material berkualitas tinggi agar menjadi sebuah investasi bagi para pembeli, tanpa keluar dari estetika brand. Produk fashion siap pakai seperti sneaker selalu menjadi titik tengah antara keinginan pemilik brand untuk sukses secara komersil dan gairah creative director untuk mewujudkan fantasi. Biasanya, keinginan pemiliklah yang menang.

Nyatanya respons positif tak didapatkan Balenciaga saat mempersembahkan sneaker Triple-S untuk koleksi musim gugur/musim dingin 17, di bawah pimpinan desainer provokatif Demna Gvasalia.

Gvasalia lebih dikenal sebagai pencipta tren, tapi interpretasinya terhadap sneaker jelek justru berhasil kembali membangkitkan tren ini di depan mata publik. Memiliki desain yang ramai dan ditampilkan dalam berbagai gaya yang mencolok, sneaker ini terlihat seperti diambil dari anime 2000-an. Saking noraknya, orang-orang di luar fashion mencemooh produk ini.

Tapi kenyataannya, Triple-S, yang sempat dibuka untuk pre-sale sebelum masuk ke toko Balenciaga sudah habis terjual dalam sesi pertama. Sneaker yang juga menuai banyak cemoohan, juga didesain oleh Gvasalia, adalah Insta Pump Fury rilisan Vetements x Reebok. Nasibnya pun sama, produk ini langsung dicap sebagai sell-out.

Berarti sekarang kita tinggal ngaduk-ngaduk gudang dan otomatis jadi keren kalau memakai kembali sepatu Sketchers jaman 90-an dulu dong? Ya mungkin juga—kriteria yang membedakan sneaker jelek tapi tetep stylish dengan sneaker jelek aja masih berada di area abu-abu. Untuk mengikuti tren ini, brand pencinta era 90'an seperti Fila telah merilis ulang produk sepatu platform ala Spice Girl, menyenangkan hati para pencinta nostalgia. Namun tetap saja tidak ada kejelasan apakah produk seperti ini dianggap sama kerennya dengan sneaker bikinan desainer dari fashion house kelas dunia.

"Obsesi kita sama sepatu yang ga enak dipakai, mahal, dan sebetulnya norak, menggambarkan keinginan kelas menengah buat terus ngikutin hal-hal yang dianggap ngetren."

Bukan berarti runway tidak mendapat kritik sama sekali. Coba tengok sneaker bikinan Prada: the Cloudburst, yang memiliki sol gemuk, panel empuk kayak spons, dan sebuah strap jempol kaki yang membuat sepatu panjat tebing bapakmu terlihat jauh lebih keren. Memang sih, semua tergantung selera. Produk ini bisa dianggap sebagai mahakarya atau sepatu teraneh yang pernah kalian lihat. Seorang anggota Reddit berkelakar ketika produk ini pertama kali ditampilkan ke publik, "Saya sudah pernah melihat masa depan, ternyata sneakers mereka kayak sepatu pasien ortopedi semua."

Mungkin obsesi kita dengan sepatu yang sesungguhnya tidak praktis dikenakan—dan mahal—adalah refleksi gairah kita untuk sekedar mengikuti tren. Kalau besok Simons dan Gvasalia mengumumkan sneaker dengan warna baru dan para sneakerhead langsung heboh di internet, mestinya kita ikutan beli dong?

Apa ini saatnya kita membuang sepatu Converse dan New Balance demi tren terbaru? Enggaklah. Biarpun mungkin sekarang sneaker jelek sedang digemari (sebagian pecinta sepatu berduit), siapa sih yang berani jamin tren kayak gini bisa tahan lama? Begitu satu desainer berpengaruh mengatakan sepatu elegan kembali ngetren, sneaker-sneaker jelek itu pasti langsung kembali dilempar ke gudang. Ya udah, kalo gitu nikmati aja tren ini selagi bisa. Pergilah keluar dari rumah mengenakan sepatu sneakersmu yang paling norak dan nyentrik, karena untuk sementara jadi norak justru dianggap keren.