Menakar Mahalnya Mahar Pernikahan Adat di Indonesia

Pernikahan dengan adat Sumba bisa menghabiskan biaya yang amat tinggi karena calon pengantin harus menyediakan puluhan kerbau, kuda, atau babi sebagai mahar. Sebagian orang memilih untuk tetap menjalaninya.

oleh Sattwika Duhita; foto oleh Rizky Rahad
24 Juni 2018, 5:47am

Menikah di Indonesia tidaklah murah. Setidaknya itu yang dirasakan oleh mereka yang harus mengikuti aturan adat dalam menjalankan pernikahannya. Mahar, dengan berbagai sebutannya, menjadi salah satu alasan mengapa biaya pernikahan bisa melonjak begitu tinggi.

Inilah yang diupayakan Melati Nasional Rambu Bangi. Ia baru saja menikah. Darah Sumba kental mengalir dalam tubuhnya. Karenanya, ia memilih untuk menjalankan pernikahan dalam adat Sumba. Untuk memenuhi peradatan, Melati lantas mensyaratkan belis-sebutan untuk mahar dalam budaya Sumba- sebagai pengesahan dan prasyarat pernikahan. Walau sudah bekerja dan tinggal di Jakarta, darah Sumba itu nyatanya tetap kuat terjaga dan tak luntur sedikit pun.

Melati menceritakan bagaimana ia menjalani pernikahan adat Sumba dan apa arti belis bagi perempuan Sumba.

Melati Nasional Rambu Bangi

VICE Indonesia: Apa arti belis bagi perempuan dan masyarakat Sumba?
Melati: Memang kalau dilihat dari perspektif orang luar ya menganggap belis sangat besar, lalu keterlibatan laki-laki yang sangat dominan, dan itu mungkin dilihat bahwa perempuan dijadikan transaksi bisnis. Tapi kalau saya pribadi melihat belis ini adalah proses penghormatan terhadap perempuan.

Ketika laki-laki ini meminang si perempuan yang notabene dibesarkan kemudian diberikan pendidikan oleh orang tuanya, belis menjadi bentuk rasa terima kasih pihak laki-laki dan penghormatan terhadap pihak keluarga perempuan. Jadi kalau saya pribadi tidak melihat itu sebagai salah satu transaksi jual beli. Saya yang mengalami proses adat ini sama sekali tidak merasa dijadikan objek. Saya menghargai, mengapresiasi proses adat ini dan menikmati menjadi bagian dari tradisi atau kebudayaan Sumba.


Simak video dokumenter VICE tentang pernikahan Sumba di bawah ini


Faktor apa saja yang menentukan banyak belis dalam sebuah pernikahan?
Kalau pada saat itu kalau dilihat dari generasi sebelumnya memang belis didasarkan pada status sosial dan juga latar belakang keluarganya. Kita tidak memungkiri bahwa pada jaman dahulu jumlahnya didasarkan pada ketersediaan hewan. Kemudian ketersediaan barang-barang atau benda-benda adat itu masih banyak begitu. Jadi pada saat itu Belis secara konservatif memang kalau dalam tanda kutip jumlahnya bisa sangat besar.

Semakin tinggi kelas sosialnya dan terhormat latar belakang keluarganya, maka akan semakin besar pula belisnya. Status sosial biasanya ditentukan oleh garis keturunan keluarganya. Biasanya ada yang bangsawan, kemudian rakyat biasa dan hamba atau budak. Kalau misalnya perempuan di kasta maramba (bangsawan), belisnya pasti akan sangat besar dan sangat banyak dari segi ukuran dan jumlah hewannya. Kalau rakyat biasa, tetapi misalnya status sosialnya itu dia di hormati di kampungnya atau mempunyai kondisi ekonomi yang bagus, itu juga akan mempengaruhi seberapa besar belis yang diberikan kepada anak perempuan dari keluarga tersebut.

Kalau prestasi atau pendidikan dari perempuan bisa mempengaruhi juga tidak?
Prestasi juga sangat mempengaruhi seberapa besar belis yang diberikan kepada anak perempuan itu. Misalnya prestasi atau pendidikannya lebih tinggi, maka belis itu pun akan mengikuti. Namun memang latar belakang keluarga paling banyak mempengaruhi seberapa besar belis yang diberikan kepada perempuan.

Apa cuma laki-laki yang memberikan belis dalam pernikahan?
Belis juga melibatkan pihak perempuan, karena ia akan memberikan balasan kepada pihak laki-laki. Balasannya berupa hal berbau feminim, misalnya babi. Kenapa babi? Karena biasanya babi itu kan dipelihara oleh perempuan. Jadi nanti babi akan diberikan sebagai balaasan kepada pihak laki-laki. Kemudian ada juga dalam bentuk kain. Itu juga ketika misalnya laki-laki membawa kerbau, kuda, atau sapi, pihak perempuan akan memberikan balasan dalam bentuk kain.

Bagaimana peran perempuan dalam diskusi dan negosiasi belis?
Kalau untuk jumlah belisnya sendiri sebenernya pada umumnya ditentukan oleh pihak perempuan, tapi juga berdasarkan kesepakatan bersama juga. Kalau dalam proses adat saya dan suami, dari tahap pertama sampai tahap kedua itu sekitar 25 ekor, baik itu kuda, kerbau ataupun sapi. Selain itu juga ada beberapa perwakilan benda-benda adat seperti misalnya kain arang tombak ataupun mamuli ya. Itu semuanya akumulasi dalam proses adat tahap pertama dan tahap kedua kami gitu.

Ada dampak negatif harga belis terhadap budaya Sumba sendiri?
Dari segi adat istiadat menurut saya tidak ada karena kita menjunjung tinggi adat, menghormati dan menghargai warisan begitu, warisan leluhur. Tapi mungkin dari sisi ekonomi ketika misalnya seorang laki-laki harus dibebankan dengan sejumlah hewan tertentu yang harus dibawa ke perempuan tentu akan membutuhkan biaya. Untungnya proses adat saat ini tidak sekonservatif dulu. Kalau generasi terdahulu, semuanya harus berbentuk hewan. Artinya kuda, kerbau, sapi tuh dalam bentuk hewan yang real. Tapi kalau sekarang, misalnya katakanlah mereka diminta 20 mungkin dua ekornya hewan hidup, sedangkan sisanya bisa dalam bentuk uang amplop. Jadi untuk sekarang sih tidak terlalu memberatkan dan masih bisa dinegosiasikan antar kedua belah pihak.

Apa sih konsekuensinya kalau tidak melakukan adat?
Konsekuensinya bisa langsung bisa tidak langsung, bisa dalam jangka pendek bisa dalam jangka panjang gitu. Kami percaya dengan konsekuensi yang akan timbul dari misalnya kami tidak melakukan proses adat, jadi kami tidak mengambil resiko. Istilahnya pamali lah kalau tidak melaksanakan proses-proses adat yang memang sudah diharuskan itu.

Banyak generasi milenial yang menikah dan tidak memakai cara adat. Kenapa kamu mau pakai?
Pertama, karena saya bangga menjadi orang Sumba. Saya bangga memiliki adat istiadat seperti itu, dan saya sangat menghormati dan menghargai warisan dari leluhur saya. Karenanya, saya harus mengikuti apa yang menjadi tradisi atau adat istiadat dari leluhur saya.

Kedua, keluarga saya memang berasal dari adat istiadat dan budaya yang masih cukup kental ya. Jadi selama kami masih berstatus sebagai orang Sumba, itu kami harus melaksanakan adat. Kami sadar bahwa akar budaya kami itu berasal dari Sumba yang menjujung tinggi adat istiadat, penghormatan terhadap orang tua, penghormatan terhadap warisan leluhur begitu. Kalau dikatakan bahwa apakah kami memiliki opsi lain untuk menikah di luar adat? Tentu bisa. Tapi kami tidak memilih itu.