Iklan
Gempa Palu 2018

Berpacu dengan Waktu, Menyelamatkan Mereka yang Mengetuk di Balik Reruntuhan

Korban selamat mengetuk-ngetuk reruntuhan memberi kode pada penyelamat mereka masih terjebak. Evakuasi masih berlangsung hingga hari keempat pasca gempa dahsyat yang melanda Palu dan sekitarnya.

oleh Iqbal Lubis
02 Oktober 2018, 8:06am

Basarnas fokus mengevakuasi korban yang terjebak dalam reruntuhan hotel Roa Roa, Palu. Semua foto oleh Iqbal Lubis

Rasa gundah yang bercokol di hati Pak Ica sejak gempa dahsyat melanda Palu dan sekitarnya hilang. begitu ia mengetahui semua keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Butuh waktu tiga sampai empat jam bagi Ica, 41 tahun, mengontak sana-sini, memastikan sanak famili yang sedang tak bersamanya itu selamat dari gempa 7,4 magnitudo—disusul tsunami—yang melanda Palu dan Donggala 28 September lalu.

Kini Ica yang merasa beruntung karena selamat nyaris tanpa cidera ingin menolong mereka yang barangkali masih terjebak di reruntuhan. Saat kejadian ia sedang berada di dekat Hotel Roa Roa, penginapan favorit wisatawan yang jaraknya hanya 2,5 kilometer dari bibir pantai. Hotel tujuh lantai itu luluh lantak sampai tak berbentuk dihajar lindu yang muncul tanpa peringatan di saat maghrib.

Di benak Ica, mestilah di dalam reruntuhan hotel itu ada banyak orang terjebak. "Apalagi sedang ada semacam festival di Palu sini, pasti banyak yang menginap di sana," katanya kepada VICE.

Malam itu, pukul 22.00 WITA, bermodalkan senter dari telepon seluler Ica dan warga yang selamat menyisir reruntuhan Roa Roa. Dengan hati-hati ia menapak di antara puing-puing sambil memanggil siapapun yang menjawab. Ia terus melangkah sampai ada di puncak reruntuhan. "Saya pertama langsung injak-injak saja di atas bangunan ini. Saya kira ini lantai enam hotel," katanya.

Ekskavator dikerahkan untuk memudahkan evakuasi. Foto oleh Iqbal Lubis
Penolong mencari tanda kehidupan dalam reruntuhan hotel Roa-roa. Foto oleh Iqbal Lubis

Tak berapa lama, ia mendengar suara ketukan. Ketukan itu bunyi berulang-ulang, pertanda kuat itu berasal dari korban terjebak. Pak memutar-mutar senter, berusaha menyorot cahaya ke sumber suara, tapi ia belum tahu persis dari mana suara ketukan itu berasal. Beberapa warga di sekitar Ica juga mendengar ketukan yang sama. Mereka berusaha mendekat.

Ica memekik singkat, "Halo… ada orang?"

Ketukan yang mereka dengar berulang. Seruan Ica direspons.

Ica berseru-seru lagi meminta korban di dalam reruntuhan memberi kode yang lebih lantang dari sebelumnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. "Sudah saya berteriak kecil-kecil begitu baru muncul lagi itu suara seperti ada ketukan lagi. Tapi mulai pelan-pelan itu ketukannya, seperti tidak cepat-cepat macam pertama itu," ucapnya.

Ica terkejut bukan kepalang ketika ia menyorot senter ponselnya ke bawah, ia melihat ada tanda-tanda kehidupan. "Saya senter ke bawah ada pegangan pintu. Pas saya buka, ternyata ada ibu yang sedang memeluk anaknya," ujarnya.

Melihat si ibu dan anaknya, para penolong segera berkerumun dan membopong korban keluar dari reruntuhan. Keduanya yang ditemukan dalam kondisi luka-luka segera dibawa ke posko pengungsi dekat hotel. Ibu dan anak itu adalah orang-orang pertama yang diselamatkan dari reruntuhan Roa-roa. Setelah itu, bantuan dengan skala lebih besar dikerahkan. Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) diterjunkan agar fokus menggelar operasi evakuasi di lokasi yang dulunya berdiri Hotel Roa Roa.

Basarnas mengevakuasi jenazah yang ditemukan di reruntuhan Roa-roa. Foto oleh Iqbal Lubis

Hingga hari ini, pencarian korban di Hotel Roa-roa masih terus berlangsung. Arie Djukifli, staf Basarnas, menyatakan dalam hotel yang hancur itu, ada 50 dari 115 kamar yang statusnya terisi. Tiga hari setelah gempa, baru 24 kamar sudah berhasil disisir oleh tim penyelamat. Penyisiran kamar-kamar sisanya masih terus diupayakan.

Pada hari ketiga bencana, Basarnas berhasil mendatangkan ekskavator untuk memudahkan pencarian. Setidaknya ada dua ekskavator disiapkan di sana untuk mengangkut material-material berat. Basarnas dan relawan penolong menduga masih banyak korban selamat terjebak di dalam.

Mereka paham betul semakin lama pertolongan datang, semakin kecil pula korban terjebak keluar dengan selamat. Pada saat yang sama, mereka juga harus menerima kenyataan bahwa tak semua korban ditemukan dalam keadaan bernyawa. Senin kemarin tim Basarnas menghabiskan waktu yang lama untuk mengevakuasi dua korban tewas. Jenazah mereka, yang terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan, segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

Seorang petugas SAR bernama Ardi, menduga banyak korban terjebak di lorong-lorong hotel. "Kita masih terus pencarian untuk evakuasi lanjutan."

Hingga Selasa (2/10), tragedi gempa dan tsunami Sulawesi Tengah menewaskan 925 orang, melukai 799 lainnya. Angka terbesar masih berasal dari Kota Palu. Yayasan Aksi Cepat Tanggap merilis data pembanding, menyatakan 1.203 orang di Palu dan sekitarnya tewas. Semua perhitungan tersebut sama-sama menyimpulkan jumlah korban sangat mungkin melonjak. Apalagi jika nanti datang data termutakhir dari Donggala ataupun Sigi.

Di tengah hiruk pikuk pascabencana, petugas evakuasi di Roa Roa terus bekerja. Mereka hanya bisa berharap di bawah timbunan beton akan ada suara ketukan berikutnya.