Foto ilustrasi pasangan berantem via pexel.com

Penyebab Orang Mengabaikan Fakta Hubungan Mereka Tak Lagi Layak Dipertahankan

Kamu wajib menyadari tanda-tanda hubungan sudah mulai tidak sehat. Alam sadarmu lebih jujur daripada rasa takutmu jadi jomblo...

|
14 Januari 2019, 9:28pagi

Foto ilustrasi pasangan berantem via pexel.com

Kebanyakan orang baru menyadari bahwa hubungannya tidak berjalan baik setelah putus dengan pasangan. Kalian jadi bertanya-tanya mengapa selalu memaklumi perilaku mantan yang menyebalkan. Kalian juga heran dengan orang-orang yang mengabaikan tanda bahayanya.

Tapi, yah, kita semua punya pengalaman masing-masing. Kita bisa saja mempertimbangkan semua tanda-tanda itu untuk mengakhiri hubungan, tapi nyatanya kita malah bertahan. Karena itulah, kita perlu bertanya pada diri sendiri, “ mengapa kita tidak melakukannya?”

Psikoterapis Kimberly Hershenson mengungkapkan bahwa orang biasanya mengenali tanda bahaya, baik secara sadar maupun tidak. Golongan pertama menyadari ada yang aneh, tapi tidak tahu apa yang salah. Sedangkan kelompok kedua, mereka lebih pilih bertahan karena tingkat percaya dirinya rendah.

Itulah yang dirasakan Ellen*, 27, saat menikah dengan mantannya yang posesif. “Naluri ingin saya memerhatikan tanda-tanda ini,” katanya, “tapi saya malah memakluminya. Saya sengaja mengabaikannya.”

Setelah bercerai, Ellen kembali “mengabaikan tanda-tanda yang sangat jelas” ketika berpacaran lagi. Kali ini, kekasihnya pecandu kokain. Jika dipikir-pikir kembali, dia sengaja menghindari kenyataan karena “saya mendambakan gagasan berpacaran, bukannya hubungan itu sendiri. Saya enggak mau hidup sendirian.”

Caty, 24, juga takut sendirian ketika dia berhubungan dengan laki-laki yang pernah dua kali kencan dengannya. Dia sebenarnya tidak mau menemui lelaki itu lagi, karena “ada yang tak beres dengannya.” Sebelum mereka bertemu, Caty pernah dikuntit sampai rumah dan dirampok oleh pecandu meth, makanya dia merasa mudah terancam sekarang. “Dia misterius, tapi saya pernah melalui masa-masa kelam,” katanya, “jadi saya mau saja berpacaran dengannya.”

Hubungan mereka penuh tanda bahaya: manipulasi seksual, pelecehan emosional, dan eksploitasi trauma yang dialami Caty setelah perampokan. Akan tetapi, dia sangat takut pacarnya akan meninggalkannya. Mau tidak mau, dia menghindari masalah dalam hubungan karena adanya anggapan kalau “pecundang lebih tertarik dan mau berpacaran dengan perempuan bodoh dan polos.”

Menyadari tanda-tanda mengkhawatirkan dalam hubungan sayangnya mengharuskan seseorang mengakui kenyataan bahwa mereka adalah seorang korban yang naif. “Saya tidak mau menerima bahwa lagi-lagi saya seorang korban.”

Psikolog Dr. John Paul Garrison menerangkan bahwa ada banyak fungsi kognitif yang dapat mengubah persepsi kita. “Korban kekerasan pada masa kanak-kanak mungkin lebih sulit mengidentifikasi tanda-tanda pelaku kekerasan, tetapi itu bukan prasyarat.” Salah satu penyebab umumnya yaitu disonansi kognitif, “ketidaknyamanan mental yang muncul ketika seseorang menghadapi dua sikap yang tidak kompatibel.”

Kita bisa ambil contoh orang yang percaya dengan anggapan “orang baik diperlakukan dengan baik”. Mereka akan bingung dan kewalahan ketika berhadapan dengan kekerasan yang tidak terduga. Akibat disonansi kognitif, mereka akhirnya mengabaikan kebiasaan kasar dalam hubungannya.

“Secara tidak sadar, orang-orang berpikir kalau mereka bisa mengubah dan memperbaiki sifat orang lain,” kata Hershenson. Menurutnya, orang merasa cemas atau takut saat memikirkan “harus mengulang semuanya dari awal” bersama orang lain. “Kita yakin kalau pasangan akan menyayangi dan memerhatikan kita sebesar perlakuan kita kepadanya.”

Bagi sebagian orang, kebingungan bisa menambah rasa takut untuk mengulang dari awal. “Ada pasien yang pernah bilang, ‘Kata cowokku, saya enggak akan menemukan orang lain. Dia benar atau enggak sih, Dok?’” kata Hershenson, yang mengingatkan kita semua bahwa hubungan sudah tidak sehat kalau kita sampai bertanya “ini wajar enggak, sih?”

Hubungan manipulatif dapat mengubah persepsi orang akan perilaku “normal”. Saat masih 13 tahun, Jesse berpacaran dengan Matt yang lebih tua darinya. Matt membelokkan pemahaman Jesse seputar apa yang wajar dan tidak dengan memancing rasa tidak percaya dirinya sebagai remaja dan penyandang autisme.

“Saya senang saja gitu pas tahu ada orang yang tertarik denganku,” kata Jesse.

Hubungan mereka berakhir tiga tahun kemudian ketika Matt mencoba membunuh Jesse, yang sekarang dapat menunjukkan tanda bahaya besar. Matt yakin kalau dia bisa membaca aura dan pikiran. Dia juga memanipulasi Jesse secara seksual, dan memaksanya menjadi orang yang sempurna kapan saja dan di mana saja. “Saya kayak terima saja dimanipulasi olehnya,” kata Jesse, “karena saya pikir itu satu-satunya kesempatanku bisa merasakan yang namanya berpacaran.”

Menurut Garrison, setiap orang rentan melihat kondisi hubungannya secara samar-samar. “Kita sering beranggapan kalau orang lain merasakan hal yang sama dengan kita. Jadi, kalau kita benar-benar menyayangi dan memedulikan seseorang, dan mereka menunjukkan kasih sayangnya, kita yakin kalau perasaannya timbal balik. Itu cara yang sehat dalam memandang orang lain, dan bisa membuat kita percaya dengannya."

"Orang cenderung menjalin hubungan dengan niat baik," kata Hershenson mengamini. "Kamu selalu mengharapkan yang terbaik, makanya kamu suka mengabaikan sesuatu yang tidak beres karena pengin hubungannya berjalan lancar."

Itulah sebabnya mengapa banyak orang memulai ceritanya dengan, "Dari awal, saya merasa ada yang salah dengannya."

Pada akhirnya, menurut Garrison, kalian harus memercayai diri sendiri. “Bukan hanya kebetulan kalau kamu merasa seseorang ‘menyeramkan’ atau ‘aneh.’"

Follow Micaela di Twitter

More VICE
Vice Channels