Bagi-Bagi Kambing dan Berbagai Trik Lain Bikin Ongkos Pemilu di India Termahal Sedunia

Mengangkut alat pemilihan butuh gajah di beberapa daerah, sampai pesta ayam biryani menambah mahal biaya penyelenggaraan pemilu.

|
15 Maret 2019, 8:11am

Sumber foto (kiri) Kantor Perdana Menteri India; (kanan) Al Jazeera English

Menjelang pemilihan umum India yang akan berlangsung sepanjang 11 April sampai 19 Mei mendatang, redaksi VICE lumayan deg-degan menanti hasilnya. Setidaknya, menurut laporan yang baru-baru ini terbit di Bloomberg dan disusun Pusat Studi Media (CMS) berbasis di New Delhi—sebuah organisasi yang pernah menasehati pihak-pihak pemerintah sebelumnya dan menyediakan riset mengenai proses pemilihan—memperkirakan ongkos pemilu melonjak jadi setara Rp100 triliun.

Artinya, harga pemilihan India melebihi biaya pemilu presiden Amerika Serikat 2016, yang menghabiskan Rp9,3 triliun, menurut OpenSecrets.org—situs web yang melacak uang yang dikeluarkan di jagat politik AS. Dengan kata lain, pemilu di India adalah pemilu termahal di dunia.

Seharusnya sebuah ekonomi dengan pertumbuhan GDP yang berkurang dan angka pengangguran yang terus naik lebih mengirit anggaran untuk pemilihan. Faktanya, politiku dan calon pemilih di India lebih suka yang megah-megah. Yang bikin tambah heran—meskipun ada kenaikan biaya 40 persen dari dana Rp7,2 triliun yang dihabiskan untuk pemilu sebelumnya. Sebagian besar dari anggaran tersebut dihabiskan untuk iklan media sosial dan ongkos transportasi, merujuk keterangan dari Ketua CMS N Bhaskara Rao.

Selain taktik iklan politik memakai medsos, biaya pemilu banyak dibelanjakan untuk fenomena yang benar-benar aneh. Berikut sebagian taktik kampanye yang bikin ongkos pemilu di India mahal banget:

Kampanye Dengan Menyediakan Kari Ayam dan Nasi Biryani untuk Ratusan Orang

Selain dipaksa jago main Instagram demi menarik simpati anak muda, banyak calon anggota parlemen mengadakan kampanye berupa makan-makan. Mereka menyediakan sajian biryani ayam dan kari, sekaligus mengumbar janji-janji kampanye di tengah pesta. Karena cara terbaik memperoleh suara penduduk awam adalah lewat acara makan bareng.

Bagi-Bagi Kambing ke Warga Miskin

Kalau bikin pesta makan dirasa belum cukup, taktik kampanye lainnya termasuk menghadiahkan kambing, blender, dan televisi kepada calon pemilih. Laporan Bloomberg menyingkap fakta jika lebih dari 90 persen politikus India di tingkat federal merasa harus memberi hadiah seperti uang, alkohol, dan barang-barang pribadi lainnya ke pemilih, merujuk survei yang digelar Jennifer Bussell, guru besar di University of California, Berkeley.

Banyak Calon Dengan Nama Mirip, Bikin Bingung Pemilih

Dari nasih biryani, hingga taktik-taktik mahal untuk merebut suara, ada fenomena yang aneh sering terjadi saat India menggelar pemilu. Muncul banyak caleg palsu dengan nama dimiripkan sosok-sosok populer demi membingungkan calon pemilih. Pemerintah India berupaya mengatasi ini dengan mempersyaratkan foto calon demi mencegah kebingungan massal seperti pada kasus munculnya banyak caleg bernama Hema Malini pada 2014. Pencalonan caleg palsu menelan dana sebesar Rp24 triliun, menurut sebuah penyelidikan oleh India Today pada 2016.

Perang Opini di Media

Walaupun sudah ada upaya mengurangi penyebaran berita palsu, sekitar 26 miliar rupee (setara Rp5,3 triliun) masih dibelanjakan untuk kampanye di media. Dana ini didapat dari kajian Zenith India, yang mengelola slot TV dan surat kabar yang diperlukan untuk pemilu. Masalahnya, kekurangan transparansi di sistem iklan yang mengatur dari mana uang ini berasal, membuat banyak partai dan caleg menghabiskan dua kali lipat dana dari belanja iklan pada 2014.

Butuh Gajah dan Helikopter untuk Menjangkau Kawasan Terpencil

Akses mendirikan tempat pemungutan suara di negara yang berkisar dari Himalaya di utara hingga Laut India sangat sulit. Makanya, Komisi Pemilihan India mengalokasikan 2,62 miliar rupee (setara Rp540 miliar) dari anggaran negara demi menjangkau para pemilih.

Salah satu taktinya adalahmenyuruh gajah membawa mesin pemilihan elektronik ke daerah-daerah yang paling terpencil dan sulit diakses; serta kapal feri membawanya ke kawasan timur laut; helikopter dan bus untuk membawa para calon dan pekerja partai keliling; serta membangun tempat pemungutan suara di titik 15.000 kaki di Peunungan Himalaya. Bahkan ada satu TPS khusus untuk seorang pertapa yang tinggal di pedalaman hutan India Barat.

Siapapun pemenangnya, hasil pemilu ini akan sangat menarik—sekaligus mahal banget.

Ikuti Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India.