LGBTQ di Indonesia

Kumpulan Manusia Pemberani Berjuang Menciptakan Zona Aman Bagi Transpuan

Rumah singgah Mami Yuli untuk menampung transpuan lansia di Depok, adalah ikhtiar kecil untuk melawan diskriminasi dan intoleransi yang terus mewabah.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja; foto oleh Muhammad Ishomuddin
28 Februari 2019, 8:43am

Mami Yuli berpose di rumah singgah bagi transperempuan yang dia dirikan. Foto oleh Muhammad Ishommudhin

Rumah mungil itu anomali, demikian pula sosok Mami Yuli.

Kali pertama bertemu sosok Mami Yuli, ia sedang memberi pidato sebuah podium di atas panggung, dalam ajang unjuk bakat transpuan yang digelar rahasia di Jakarta. Tidak banyak hal yang aku ingat dari pidato Mama Yuli di podium, kecuali soal perjalanannya menempuh jenjang pendidikan hingga strata 3 dan bagaimana penolakan yang diterimanya saat akan maju sebagai komisioner lembaga negara mengurusi hak asasi manusia.

Atas undangan kawan, aku datang ke perayaan hari kasih sayang di rumah singgah bagi transpuan di Depok, dan bertemu untuk kedua kalinya dengan Mama Yuli.

Mengingat pilihan lokasinya, tak keliru rasanya menyebut rumah singgah Mami Yuli sebagai anomali. Depok memiliki predikat sebagai salah satu kota paling intoleran di Indonesia, terutama terhadap komunitas Lesbian Gay Biseksual Transgender, dan Queer (LGBTQ). Di kota ini, ada berbagai macam aturan diskriminatif terhadap kelompok seksual minoritas yang tentunya bukan kota yang aman bagi mereka. Depok juga tengah merancang Perda anti-LGBT.

Siapa sangka, rumah singgah ini sanggup berdiri hampir sembilan tahun, sejak 2010. Bangunan tusuk sate bercat biru itu persis terletak di ujung sebuah gang yang hanya cukup dilewati satu mobil. Bangunan satu lantai ini jauh dari kata mewah, tapi kehangatan sudah terasa sesaat seorang perempuan bergaun brokat biru menyapa.

"Halo kakak, selamat datang silakan masuk," sapa perempuan bernama Intan, ia tersenyum ramah sambil sesekali sibuk menyibak gaunnya yang menjuntai ke lantai.

Saat aku masuk, Mami Yuli sedang duduk di sofa kulit sintetis berwarna coklat. Ia tidak bisa diam, dan terus bercerita soal nostalgianya di masa lalu. Siang hari itu adalah akan menjadi pertemuan keduaku dengan Yulianus Rettoblaut yang biasa dipanggil Mama Yuli, setelah hampir dua tahun lalu kami berdua terakhir bertemu. Aku datang bersama dua kawanku atas undangan Mama Yuli yang hari itu hendak merayakan hari kasih sayang bersama dengan seluruh penghuni rumah singgah.

Di ruangan tersebut, belasan transpuan lansia yang rata-rata sudah berambut pendek duduk memanjang berpasangan sambil saling memijat satu sama lain. Sisanya sibuk mengurusi bahan makanan dan sebagian lagi terlihat berdandan sambil kegerahan.

Walau penghuninya bahagia, Mami Yuli mengaku rumah singgahnya sering diterpa isu miring. Rumor-rumor negatif itu mematahkan hatinya.

"Coba saja teman-teman lihat ke sini, apakah tempat ini dipakai prostitusi? Enggak, tempat ini dipakai untuk teman-teman latihan," ujarnya, yang siang itu mengenakan setelan blazer merah.

Mami Yuli mendirikan rumah singgah bagi transpuan karena melihat realitas yang umumnya dialami komunitas transpuan: kemiskinan. Sejak berdiri, lebih dari 4.500 transpuan lansia tinggal ataupun menumpang di rumah singgahnya. Rata-rata lari dari razia satuan polisi pamong praja atau persekusi massa intoleran. Persekusi dan diskriminasi, menurut Mami Yuli, sering dihadapi kelompok transpuan karena kebanyakan dari mereka tidak punya kemampuan ekonomi mumpuni.

1551341524517-DSC05601
Beberapa transperempuan lansia bersantai di ruang tengah Mami Yuli. Mereka bercengkrama bersama transperempuan yang lebih muda.

Jangan membayangkan para transpuan di rumah singgah ini seperti stereotipe televisi, misalnya dandanan menor dan baju-baju seksi. Kebanyakan lansia yang hari itu datang ke rumah singgah sudah memotong pendek rambutnya, bahkan berpakaian lebih “maskulin” dibandingkan transpuan muda. Kebanyakan mengubah penampilan karena alasan kepraktisan. Tapi sebagian memang sengaja "mencari aman."

"Di indonesia, kulturnya belum bisa menerima kita. Untuk saat-saat sekarang kultur dominan masih berkuasa, kita kan minoritas," kata Mami Yuli. "Menjadi waria dengan dandanan lengkap bisa kita lakukan kalau kita punya ekonomi yang kuat, kalau ada duit banyak mau pakai apapun bisa tinggal kita sewa aja bodyguard buat menjaga kita. Kalau kita susah ya bagaimana, harus ada prestasi atau hasil. Dengan situasi ekonomi susah, negara kita rawan, ya kita cuma cari aman."

Rumah singgah itu tak bisa memberi banyak fasilitas. Setidaknya, para transpuan bisa beristirahat, syukur-syukur punya keterampilan baru untuk bertahan hidup.


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi kontes kecantikan transpuan di dalam penjara Kolombia:


Oma Elly, transpuan berusia 67, salah satu yang memutuskan tak lagi tinggal rumah singgah Mami Yuli. Dia ngin mencoba hidup mandiri sebagai juru pijat. Sebelumnya, ia tinggal di rumah singgah Mami Yuli selama lebih dari delapan tahun. Diskriminasi terhadap komunitas transpuan, menurut Elly, makin terasa beberapa tahun belakangan.

"Kalau kita lagi mejeng-mejeng lebih gawat sekarang, padahal kita enggak ngapa-ngapain. Kita mau ke pasar subuh-subuh, eh kita jalan langsung Satpol PP razia, padahal kita jahat juga enggak. Emang kita mau ngapain sih?” kata oma Elly padaku sambil tertawa, mengingat semua pengalaman diskriminasi pahit tersebut. "Cuma satu hal sih yang sama itu penderitaannya dan hidup susahnya aja."

Menjelang pemilihan umum, perang terhadap kelompok minoritas gender dan seksualitas makin gencar. Serangan ini bukan cuma datang kalangan konservatif dan intoleran, tapi juga dari pemerintah serta aparat hukum. Menteri riset Telknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir sempat melarang organisasi mahasiswa mendukung isu LGBT di kampus-kampus. Kemudian Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang menyatakan fenomena LGBT sebagai imbas perang proksi yang katanya lebih berbahaya daripada senjata nuklir.

Penangkapan 141 pria gay yang sedang berpesta di Kelapa Gading, Jakarta Utara menambah panik komunitas LGBTQ. Belum lagi adanya larangan KPI soal adanya representasi kelompok LGBT di televisi, walau faktanya kebanyakan tayangan di layar keaca lebih konsisten menampilkan olok-olok terhadap kelompok minoritas ini.

Mami Yuli melihat hak-hak dasar warga negara seorang transpuan dicabut sampai ke hal yang paling dasar. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pekerjaan, bahkan hak untuk tinggal. Bagi Mami Yuli mendirikan rumah singgah ini adalah advokasi kepada komunitasnya. Sebab, upayanya menembus lembaga negara seperti Komnas HAM dan DPR sejak 10 tahun lalu berulang kali ditolak, bahkan ditampik banyak partai. Jadi, tidak ada daya tawar bagi kelompok minoritas macam transpuan di mata politik dan hukum.

Dalam data yang diperoleh dari Jurnal Equilibrium FKIP Unismuh Makassar, Volume II No. 1 Januari 2016, kelompok transgender kurang mendapatkan ruang dalam kegiatan politik. Hanya sekitar 4 persen masyarakat yang sangat setuju, dan 19 persen masyarakat yang setuju kelompok transgender berpolitik. Kebanyakan orang khawatir bahwa keikutsertaan komunitas LGBTQ dalam kontestasi politik akan melegitimasi hak kelompok ini. Artinya, banyak orang masih menganggap transpuan seperti Mami Yuli dan kawan-kawannya bukan warga negara setara di Indonesia.

1551341554826-DSC05620
Transpuan yang singgah di rumah Mami Yuli membuat kerajinan tangan.

Sebagai tokoh kelompok transgender, Mami Yuli bisa dibilang satu-satunya transpuan di Indonesia yang menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. Keinginannya hanya satu, menciptakan zona aman bagi para transpuan, terutama mereka yang berusia lanjut dan sulit hidup mandiri.

Mami Yuli bersyukur bahwa para transpuan yang tinggal di rumah mungilnya masih bisa diterima di lingkungan sekitar. Memang tetap ada kompromi, mereka tidak bisa sepenuhnya tampil seperti apa yang mereka mau. Setidaknya itu lebih baik daripada sepenuhnya menyerah pada persekusi.

"Kita ini enggak menuntut adanya gender ketiga kok, atau perkawinan sejenis," ujar Mami Yuli. "Transpuan ini buat makan aja susah, mau mikir kawin sejenis? Gimana coba? Yang jelas kita kejar bagaimana pemenuhan hak-hak warganegara paling dasar saja. Sesederhana kalau ke rumah sakit enggak ditolak, bisa dapat akses pendidikan, punya KTP."

Rumah singgah ini memang anomali di negeri ini. Walau diabaian dan didiskriminasi, di rumah mungil itu hidup manusia-manusia pemberani.