Iklan
Mitos Kuliner

Ilmuwan Justru Menganjurkan Agar Kita Tak Ragu Pakai MSG Saat Memasak

Jika pendapat pakar gizi ini diyakini banyak orang, ucapan sinis 'generasi micin' langsung jadi sejarah. Dia bahkan bilang micin selain aman dikonsumsi, juga bermanfaat bagi anak-anak.

oleh Alex Swerdloff
20 Agustus 2019, 2:00am

Foto ilustrasi via pengguna Flickr The Other Dan.

"Enggak usah pake mecin ya, bang."

Kalimat ini mungkin sering kalian dengar diucapkan pengunjung warung bakso yang berusaha hidup lebih sehat. Sikap konsumen yang anti-MSG itu, bagi pakar makanan sekaligus ahli gizi Steve Witherly, tidak otomatis mencerminkan gaya hidup sehat.

Witherly mengatakan bahwa MSG—kependekan monosodium glutamat, jenis garam notrium asam glutamat yang merupakan asam amino non-esensial—sesungguhnya baik bagi tubuh manusia. Dia menyebut MSG sebagai "garam super". Tak hanya itu, Witherly mendorong anak-anaknya mengkonsumsi lebih banyak MSG.

"Saya ingin anak-anak saya makan secara sehat, jadi saya selalu taburkan sedikit garam super di makanan mereka. MSG itu sangat hebat sekali lho efeknya. Contohnya, ketika saya membawa pulang pizza terbuat dari gandum—anak-anak saya benci gandum—saya taburkan sedikit 'garam super' di saus tomat, langsung ludes itu pizza. Brokoli juga langsung lezat razanya apabila ditambah mentega, bawang dan MSG," kata Witherly saat diwawancarai Business Insider.

Dengan kata lain, Witherly mengatakan bahwa MSG—yang punya banyak reputasi buruk—sebetulnya sangat aman dikonsumsi manusia.

"Kami pernah mengadakan penelitian di University of California Davis. Para peneliti, termausk saya, menenggak bergelas-gelas MSG. Per orang mencapai 25 gram dan tidak ada efeknya."

Mungkinkah Witherly benar? Setelah diselidiki lagi, akar reputasi buruk penyedap rasa sepertinya berasal dari laporan ilmiah yang terbit pada 1968 lalu. Laporan tersebut menuding pemicu beberapa gangguan kesehatan sebagai "Sindrom Restoran Cina"—gejalanya antara lain pusing, kulit memerah, sesak dada, sampai mati rasa. Semua gejala itu dilimpahkan pada konsumsi MSG berlebih di antara para responden. Witherly mengatakan bahwa penelitian-penelitian terkini tidak menemukan efek negatif dari MSG.

Kesimpulan American Chemical Society sejalan dengan pendapat Witherly. "MSG memang bisa memberi dampak buruk pada beberapa orang yang mengkonsumsinya terlalu banyak ketika perut kosong. Tapi untuk kebanyakan orang, konsumsi MSG sebenarnya sangat aman."

WItherly mengatakan MSG sebenarnya sehat untuk anak-anak, karena dapat mendorong mereka mau makan sayur-sayuran. Berbeda dari yang diyakini kebanyakan orang, MSG alami bisa ditemukan di tomat, jamur, keju dan makanan lainnya. Micin juga meningkatkan cita rasa dan menambah rasa gurih—menambah nafsu makan siapapun.

Mungkin yang perlu kita salahkan adalah 'Sindrom Restoran Cina' sungguhan; yakni rasa lezat yang membuat banyak orang di seluruh dunia tidak bisa berhenti makan masakan Cina penuh MSG. Asal nanti semakin banyak terbit penelitian pembanding soal penyedap rasa, siapa tahu, kita akan sepenuhnya berhenti menyalahkan MSG atas semua penyakit kita di masa modern.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES