Health

Mematikannya Stigma HIV di Timur Tengah

HIV berkembang pesat di Timur Tengah, gara-gara prasangka pada para pengidap dan minimnya pendidikan seks.

oleh Olivia Alabaster
02 Desember 2016, 11:40am

Foto oleh Reuters/Dinuka Liyanawatte

Artikel ini tayang pertama kali di VICE News.

Tingkat penularan HIV di seluruh dunia menurun. Hal tersebut merupakan hasil dari upaya berbagai negara mengakhiri epidemi AIDS pada 2030. Tetapi, negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara mengalami peningkatan jumlah kasus HIV-AIDS, meski sejarah mencatat tingkat infeksi HIV di negara-negara itu rendah.

Fenomena ini sangat kentara di Libanon.

"Kasus HIV yang kita lihat di Libanon sekarang pernah terjadi sebelumnya di Eropa 1980-an," ujar Bertho Makso, ketua kelompok advokasi hak LGBT Proud Lebanon.

Para ahli menyatakan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, kurangnya kesadaran dan pengetahuan soal HIV. Kedua, nihilnya pendidikan seksual. Yang terakhir adalah stigma yang dilekatkan masyarakat pada komunitas yang paling rentan terinfeksi virus HIV.

Saat ini di Timur Tengah jumlah orang yang hidup dengan virus HIV tergolong rendah (pada 2015 terdapat 230,000 orang positif HIV). Meski begitu, Joumana Hermes, ahli HIV untuk daerah MENA di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menilai peningkatan selama lima tahun terakhir cukup mengkhawatirkan.

"Daerah ini mengalami satu dari dua epidemi terganas di dunia," ujar Joumana pada VICE News.

Pada tahun 2005 hingga 2013, angka kematian terkait AIDS di Libanon meningkat 66 persen, padahal di tingkat global angkanya justru menurun 35 persen. Tak hanya itu. Angka infeksi baru di Afrika Timur dan Afrika Selatan menurun sebanyak 50,000 pada tahun 2010 hingga 2015, tetapi di daerah MENA angka tersebut justru meningkat sebanyak 1,000. Angka kematian terkait AIDS di Timur Tengah meningkat dari 9,500 di tahun 2010 menjadi 12,000 di tahun 2015.

Satu-satunya daerah lain di dunia yang mengalami peningkatan angka infeksi baru adalah Eropa Timur dan Asia Tengah.

Menurut Joumana, ketika meninjau kelompok yang spesifik data yang muncul lebih mengkhawatirkan lagi. Di Tripoli, misalnya, sekitar 87 persen pengguna narkoba lewat jarum suntik terjangkit virus HIV.

"Angkanya meningkat secara signifikan terutama di kalangan yang kita sebut populasi berisiko tinggi—di antaranya adalah pengguna narkoba lewat jarum suntik, laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama jenis, pekerja seks komersial, tahanan penjara, dan para transgender," kata Joumana. "Di kalangan tersebut permasalahannya lebih kompleks. Dan lingkungan yang kolot membuat kita kesulitan menjangkau kalangan tersebut. Jadi virusnya terus berkembangbiak."

Di Libanon kisarannya 13 persen laki-laki homoseksual terjangkit HIV, sedangkan di bagian lain Timur Tengah angkanya berkisar antara 7 hingga 10 persen.

Angka-angka di atas membuat perkembangan di tingkat global terlihat biasa saja.

"Para homoseksual biasanya yang paling sadar akan isu kesehatan reproduksi dan merekalah yang akan diperiksa," kata Bertho. "Kalau saja seluruh masyarakat Lebanon diperiksa, pasti angkanya semakin meningkat."

Menurut Joumana, LSM memiliki peluang terbaik untuk menjangkau mereka yang sangat membutuhkan perawatan. Seringkali program-program nasional penanggulangan AIDS yang diadakan di daerah MENA, mendukung kinerja LSM. "Tetapi mereka sangat berhati-hati, karena tidak mau menyinggung pihak tertentu."

Proud Lebanon, yang menawarkan pemeriksaan HIV secara cuma-cuma, akhirnya bersinergi dengan Program AIDS Nasional. Program tersebut dikelola oleh Kementrian Kesehatan Lebanon dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Saya sempat takut ditanyain, 'ketularan dari mana?'"—Bob

Secara teknis, menjadi gay di Lebanon masih ilegal—begitu pula di sepanjang Timur Tengah dan Afrika Utara. Hal tersebut menimbulkan persoalan tambahan: risiko terjangkit semakin tinggi bagi sebagian penduduk. Makso menilai, masyarakat yang terjangkit virus HIV mengalami diskriminasi bertingkat di daerah tersebut.

"Banyak orang menolak layanan ini, mereka bahkan menolak memeriksa. . . jadi mereka terus menularkan virus tanpa pernah tahu," ujar Makso.

Bob berusia 26 tahun dan tinggal di Beirut. Enam tahun yang lalu Bob didiagnosa positif HIV. Tapi 'Bob' bukan nama sebenarnya, dia memilih menggunakan pseudonum agar idenitasnya tidak diketahui khalayak.

"Saya takut," cerita Bob. "Saya hidup di lingkungan yang sangat tradisional, sangat keras, sangat religius, dan itu membikin saya ketar-ketir. Saya takut jika ditanya, 'Kamu ketularan dari mana?'"

Selama lima tahun terakhir Bob berhasil menyembunyikan statusnya dan obat-obatan yang ia konsumsi dari keluarganya, padahal mereka tinggal seatap. Dia mengaku tidak mengetahui bagaimana ia bisa terjangkit virus HIV. Sepengetahuannya, semua pasangan seksualnya di masa lalu telah diperiksa dan hasilnya negatif.

"Tadinya saya sempat putus asa. Namun kemudian saya sadar, saya tidak bisa mengubah yang telah terjadi. Saya perlu menerima kondisi saya."

Menurut sepenglihatan Joumana, di sana hampir tidak ada pendidikan seksual yang lengkap dan komprehensif. "Sebagian besar penyuluhan hanya menyentuh permukaan ketika membahas kesehatan organ reproduksi. Bahkan mereka yang belum menikah dilarang untuk menggunakan proteksi."

Ketika Bob memberitahu atasannya di kafe tempatnya bekerja mengenai diagnosisnya, saat itu juga dia dipecat. Makso menilai kejadian seperti itu cukup umum karena nihilnya kesadaran serta proteksi hukum bagi penduduk yang hidup dengan HIV di Lebanon dan sekitarnya. Pada Hari AIDS Sedunia, Proud Lebanon mengkampanyekan proteksi hukum yang dimaksud.

Pada bulan Februari, sebuah peraturan di Mesir menetapkan status ilegal bagi perusahaan yang memberhentikan pekerja atas status HIV mereka, yang disebut UNAIDS sebagai "keputusan bersejarah bagi Mesir dan sekitarnya." Meski begitu, harapan aktivis akan proteksi hukum yang mumpuni belum juga terwujud.

Ketika Bob akhirnya bercerita pada ibunya, mulanya sang ibu belum dapat menerima kondisi Bob. "Dia luluh lantak. Menangis terus menerus dan ketika ia berhenti menangis ia mengunjungi pusat religi setempat untuk mencari bantuan. Saya bilang ke Ibu, 'Bu, obat-obatan akan membantuku—juga doa Ibu. Bukan yang lain."

Menurut Bob, pendidikan berperan penting dalam mencegah persebaran HIV dan AIDS di Timur Tengah. Bob mengajak kita semua "mendukung, menerima, dan memahami HIV-AIDS."