Jirapah, Jakarta, dan Usaha-Usaha Menjadi Cool

Album teranyar Jirapah, 'Bits', merupakan evolusi suara dari band yang selalu berubah ini.

|
10 November 2016, 7:20pagi

Foto arsip dari Jirapah

Sejak dibentuk di Brooklyn, New York, paruh akhir dekade 2000-an oleh Ken Jenie, Jirapah berhasil memanfaatkan momentum setelah pulang ke Indonesia beberapa tahun silam. Meski demikian, Jirapah bekerja layaknya band yang tak ambil pusing soal hari esok. Mereka amat lamban merilis album dan hanya mau manggung, jika dan hanya jika, "kehidupan nyata" dan pekerjaan mereka mengizinkan. Tak seperti kisah band indie yang sangat berambisi akan karirnya, Jirapah seperti tak punya cita-cita besar. Satu-satunya ambisi mereka adalah menggubah musik, itu pun jika mereka sedang niat.

Langkanya ambisi dalam Jirapah membuatnya penggemarnya harus puas dengan track kompilasi yang muncul sesekali dan mini album (EP) gratis yang bisa diunduh di blog band kesayangan mereka. Di sisi lain, cara kerja seperti ini juga memastikan bahwa output Jirapah benar-benar sebuah capaian individu dan tentunya artistik - bumbu yang pasti bisa kita temukan di setiap komposisi musik memukau.

Pada awal karirnya, Jirapah banyak dipengaruhi sisi melodik dari era awal indie rock amerika (silakan bayangkan band-band seperti Elefant, Interpol, dan Longwave) sebelum mereka akhirnya mereka merambah pelbagai pengaruh dari afro-pop hingga krautrock. Kini, sound Jirapah telah diimbuhi elemen-elemen yang lebih eksperimental seperti free jazz dan noise. Tak ayal, rilisan terakhir mereka adalah rilisan mereka yang paling panjang. Bits - judul rilisan tersebut - diedarkan terbatas dalam bentuk kaset oleh label dari Inggris, Lau Records, berisi 6 komposisi instrumental. Meski bertransformasi menjadi sebuah band utuh sejak Ken Jenie pulang ke Indonesia, Bits, nyatanya, tetap saja merekam Ken yang memainkan semua alat musik sendirian.

Untuk satu hal itu, Jirapah tetap sebuah one man band. Ken membentuk Jirapah ketika bermukim di New York dan tengah kuliah di Queens College dan New York Institute of Technology. "Band" ini bermula ketika Ken mulai menulis dan merekam lagu di apartemennya. Di sela-sela kesibukan perkuliahan, dia bertemu Mar Galo. Mereka dikenalkan lewat seorang teman. Mar kemudian bermain bass dan menjadi anggota pertama Jirapah (Ken dan Mar lantas berpacaran dan akhirnya menikah).

"Waktu pertama kali saya merekam lagu dengan nama Jirapah, saya harus bepergian dari NYC ke Washington DC untuk rekaman di rumah teman saya, Daru dan Danur," kata Ken mengenang masa-masa itu. "Mereka punya peralatan yang lumayan pro di rumah mereka dan saya ingin lagu-lagu yang saya rekam terdengar organik. Jadi, saya main gitar sambil bernyanyi, sementara Danu bermain bass dan danur menggebuk rum. Hanya satu lagu dari sesi itu yang sudah dirilis. Sisanya masih mangkrak di komputer.

Rilisan-rilisan awal Jirapah digratiskan di blog Jirapah sepanjang kurun 2009-2010. Katalog album masa itu di antaranya Thank You, Max EP dan Digital 7" Vol. 2 dan Vol. 3 EP.

"Selama kami di New York, kami manggung teratur sebulan sekali," ujar Ken tentang era awal Jirapah (tepatnya pada periode 2007 -2009).

"Mar belajar memainkan bass agar bisa bermain dengan Jirapah — Mar adalah seorang yang luar biasa. Dialah yang mem-booking semua tur kami. Sebelumnya, ia sering mem-booking pertunjukan untuk band-band jepang. Dia ngerti banget masalah venue di New York."

Ken masih ingat gig-gig yang dilakoni Jirapah di Bruar Falls, Lit Lounge, Spike Hill, Galapagos/Public Assembly, Union Hall, dan The Rock Shop.

"Ya intinya sih, kami sering manggung di bar-bar atau venue kecil seperti band-band indie lainnya di New York." katanya.

Selekas Ken kembali ke Indonesia, Ia merekrut Yudhis Tira dan Jan Kristianto dari unit post hardcore, Vague, untuk bermain gitar dan Bass. Keseluruhan personel Jirapah digenapi oleh bergabungnya bassist Nico Gozali. Kelak, Mar kembali bergabung dengan Jirapah sebagai seorang keyboardist. Ia malah kembali bermain bass selepas kepergian Jan dan Nico mengisi posisi drummer. Seusai bermacam perubahan line up ini, Jirapah memasuki fase paling eksperimental dalam bermusik, terutama terkait produksi bebunyian. Meski demikian, Ken melihat perubahan sound mereka sebagai refleksi dari lingkungan barunya, artinya Jakarta, alih-alih sebagai sekadar konsekuensi masuknya beberapa musisi baru ke dalam formasi Jirapah.

"Kalau mau jujur sih, meski saya percaya bahwa lingkungan tempat kami hidup pasti memengaruhi musik yang kami buat, saya tak yakin bagaimana itu tergambar dalam musik kami," jelas Ken. "Tapi saya yakin, ritme kota, musik yang bisa kamu temui, selera musik teman kita, arsitektur di sekitar kita, apa yang kita baca, umur kita - pokoknya semua yang ada di sekitar akan mempengaruhi musik yang kamu hasilkan. Saya rasa musik Jirapah sekarang tak mirip sedikit pun dengan apa yang kami hasilkan di New York, dan saya yakin ini adalah bukti bagaimana lingkungan membentuk musik yang kamu buat."

Jirapah mencampurkan pengaruh jazz dalam rilisan terbarunya, sesuatu yang mulai diakrabi Ken di New York seiring cintanya pada genre hip-hop tumbuh.

"Saya mulai mendengarkan jazz ketika masih tinggal di New York karena saya suka bikin beat hip-hop dan saya sering mencari sample dari musik funk/jazz," urai Ken. "Di Jakarta, saya mulai lebih serius mendalami jazz, mempelajari bagaimana komposisi jazz dimainkan, teori musiknya dan sebagainya. Semua ini pada akhirnya mempengaruhi cara saya bermain gitar. Saya memang sengaja menerapkan apa yang saya pelajari. Tentu saja, saya masih belum becus main gitar jazz tapi banyak yang saya pelajari dari genre itu."

Pengaruh jazz sangat kentara dalam Bits. Rilisan ini menawarkan permainan gitar penuh improvisasi di atas rhythm section yang seakan dimainkan musisi yang tengah mabuk dalam "They Fall Like Jenga" dan "Diving Into Earth." Track lainnya terdengar lebih aneh lagi, termasuk track noiseart ala Tim Hecker dalam "Chairs and Tables" atau "Foliage" yang menyerempet krautrock.

"Saya tak tahu lagi seperti musik Jirapah sekarang, tapi saya pikir itu ada bagusnya juga," ujar Ken. "Menurut saya, sound sebuah band harusnya terus berkembang dan berubah seiring perubahan kepribadian dan minat anggotanya."

Bagi Ken dan Jirapah, menjadi 'cool' bisa dicapai dengan membuat musik yang membuat penggubahnya bergairah.

"Saya sendiri tidak berusaha untuk mencapai suatu sound tertentu karena itu justru terlalu membatasi" katanya. "Bagi saya, dengan terpaku pada satu jenis sound, kemampuan kita untuk bereksperimen dengan sesuatu yang baru akan terkekang karena begitu anda menyimpang dari sound khas anda, identitas langsung hilang."

Follow Marcel Thee melalui akun Twitter-nya.

More VICE
Vice Channels