The VICE Guide to Right Now

Kebijakan Kontroversial Kampus di Filipina Paksa Mahasiswi Ikut Tes Kehamilan

Tragisnya, kebijakan ini biasa dilakukan kampus di negara tetangga kita itu. Kalau kamu hamil atau aborsi, ancamannya DO. Enggak jauh beda sama SMA/SMP di Indonesia.

oleh Alia Marsha
07 November 2018, 7:08am

Foto alat tes kehamilan via user funbobseye/Flickr CC License

Ada banyak faktor yang bisa menghalangi setiap perempuan di seluruh dunia untuk mendapatkan pendidikan layak. Beberapa perempuan terpaksa tidak bisa bersekolah karena kurangnya akses, kemiskinan, atau mengalami peperangan. Sementara di Filipina, perempuan tidak berhak mengenyam pendidikan lanjut hanya karena mereka hamil.

Menurut salinan surat edaran yang diunggah ke Twitter, pihak rektorat Pines City Colleges, kampus di Kota Baguio sekitar 260 kilometer sebelah utara Ibu Kota Manila, baru-baru ini mengeluarkan aturan agar tiap fakultas bahwa semua mahasiswi wajib melapor ke klinik kampus dan menjalani tes kehamilan. Parahnya lagi, para mahasiswi harus membayar sendiri tesnya, meskipun ini bukan kemauan mereka.

Pihak kampus berpendapat bahwa tes kehamilan adalah bagian dari "pemenuhan tanggung jawab pendidikan dan sosial."


Surat edaran ini mendapat kecaman dari berbagai pihak di Filipina. Aturan kampus itu menurut akademisi maupun mahasiswa kampus lain melanggar hukum. Tes kehamilan dianggap sebagai bentuk diskriminasi gender, mengingat Filipina punya Magna Carta of Women, undang-undang perlindungan perempuan. Ternyata, pihak kampus sudah lama memberlakukan aturan diskriminatif macam ini.

Surat serupa, yang beredar pada 2014 lalu, menjelaskan agar para mahasiswi yang ketahuan hamil setelah tes, tidak diizinkan melakukan tes ulang dengan dokter pribadi untuk memastikan akurasinya.

Edaran yang sama juga menegaskan bila seorang mahasiswi didiagnosis pernah hamil dan menggugurkan kandungannya, yang bersangkutan akan langsung didepak dari kampus karena "aborsi yang sengaja dilakukan tak dapat diterima oleh Pines City Colleges." Intinya, mahasiswi kampus ini menghadapi situasi buah simalakama. Prospek masuk universitas dan masa depan mereka bergantung pada tes kehamilan ini.


Tonton dokumenter VICE soal komplek perumahan warga miskin di Filipina yang berada tepat di tengah kuburan dan tulang belulang:


Di Filipina, lulusan universitas berpenghasilan 86 persen lebih tinggi dari mereka yang mengandalkan ijazah SMA, menurut data yang dikumpulkan oleh Majalah Entrepreneur. Dengan demikian, kebijakan diskriminatif ini tak hanya akan memengaruhi masa depan seorang mahasiswi, namun juga kesehatan dan kesuksesan anaknya kelak.

Aturan mewajibkan pelajar atau mahasiswi melakoni tes kehamilan rupanya sangat lumrah di Filipina. Jennifer Jose, pengajar di departemen sosiologi dan antropologi University of the Philippines-Baguio, menyatakan tes serupa umum ditemui di kampus-kampus kedokteran lokal.

"Insting saya sejak awal merasa edaran macam ini sangat diskriminatif. Tapi, saya memutuskan untuk menyelidikinya lebih lanjut. Dari situ, saya terkejut ketika mendapati informasi bahwa tes kehamilan sangat biasa diberlakukan di banyak univeritas dan kampus yang memiliki fakultas kedokteran, keperawatan, dan fakultas yang berhubungan dengan kesehatan lainnya," ujar Jose pada media setempat.

Masalah ini tidak hanya terjadi di Filipina. Sekolah dan universitas swasta/religius di Amerika Serikat, Inggris, Uganda, dan Tanzania telah dikritik karena alasan serupa. Ini juga bukan pertama kali isu ini muncul di Filipina. Tahun lalu, Kementerian Pendidikan merilis sebuah pernyataan yang menjanji untuk tidak mendepakkan murid-murid hamil dari sekolah negeri. Namun, kementerian Pendidikan tidak bisa memaksa sekolah swasta untuk memenuhi janji ini.

Pine City Colleges lewat unggahan di akun Facebook resmi, menganggap status sebagai institusi pendidikan swasta memberi mereka hak memberlakukan tes kehamilan. Sehingga mereka tidak akan mengubah aturan itu kepada semua perempuan yang berniat kuliah di kampus mereka. Pine City Colleges juga akan terus menerapkan ancaman DO bagi mahasiswi yang hamil dan aborsi.

Kebijakan diskriminatif kampus menimbulkan situasi di mana perempuan-perempuan hamil terpaksa menghadapi ancaman DO atau melakukan aborsi ilegal dan masih berisiko pula jadi korban stigma masyarakat. Ketika ada sekolah yang menentang bahwa ia berusaha untuk menyediakan lingkungan yang "aman" bagi muridnya, keamanan macam apa dan untuk siapa yang sebenarnya mereka pikirkan?

"Menurut saya, manajemen universitas ini dan institusi pendidikan lain di Filipina harus mendiskusikan sebuah solusi untuk masalah ini tanpa melanggar hak-hak pelajar, serta mencari cara untuk membuat tes kehamilan tidak wajib," kata Jose. "Justru yang penting dilakukan kampus adalah mewajibkan semua mahasiswi untuk melaporkan kehamilan mereka agar mereka dan janin mereka bisa dilindungi."

Tagged:
vice
Life
Berita
Agama
Hak Perempuan
kehamilan
Filipina
Pendidikan
Diskriminasi Gender
Kampus Swasta