Iklan
Opini

Merepons Ajakan Jokowi Agar Publik Tak Bully 'Stafsus Millenial' Karena Twit-Twitnya

Setelah kejadian tempo hari, Billy Mambrasar barangkali sadar satu fakta ini: di era julid gini jangankan stafsus presiden, ibu-ibu bawa motor aja dikomentarin miring sama netizen.

oleh Ikhwan Hastanto
04 Desember 2019, 3:29am

Kolase meme oleh VICE. Sumber foto Presiden Jokowi dan stafsusnya [kanan] via akun Instagram kepresidenan/setpres; meme women yelling at cat via cuplikan Real Housewives of Beverly Hills

Gracia Billy Yosaphat Mambrasar, satu dari tujuh 'staf khusus milenial' (maksudnya muda) Presiden Joko Widodo, dicaci maki netizen karena menulis “kubu sebelah megap-megap” dalam cuitan panjangnya di Twitter, Sabtu (30/11) akhir pekan lalu.

jokowi-tak-suka-netizen-tak-bully-stafsus-millenial-hanya-karena-twit-billy-mambrasar

Twit itu aslinya cuma ngabarin bahwa Billy sibuk abis dengan kerjaan sehari-harinya, tapi frasa “kubu sebelah megap-megap”—yang mau enggak mau bikin orang mikir mengarah ke lawan politik Jokowi di pilpres 2019—dianggap tidak etis diungkapkan orang yang bekerja di pemerintahan.

Mendapati netizen sudah sampai melabelinya #StafsusRasaBuzzeRp, Billy langsung bikin status FB klarifikasi dan menghapus cuitan kontroversialnya, tapi saat tulisan ini ditayangkan status itu enggak bisa diakses. Tapi Liputan6 udah mengkopi klarifikasinya kok.

Lalu gimana respons Bos Billy? Dari pernyataannya kepada media, Pak Jokowi lumayan selo sih. Enggak tahu deh di belakang gimana.

"Namanya anak muda. Ini umur 30-an. Salah-salah dikit ya dimaafkan. Buat saya enggak ada masalah. Namanya muda-muda ini kan, mungkin semangatnya kan lebih dibanding yang tua-tua. Jadi, kalau bicara karena terlalu semangat, ya biasalah, salah dikit. Masak baru seminggu-dua minggu langsung di-bully, berikan ruang selebar-lebarnya anak muda jadi pemimpin baik," ujar Jokowi dikutip Kompas.

Saat dimintai pendapatnya, Billy menolak membahas lebih lanjut soal cuitannya itu. Ia meyakinkan media bahwa sebagai staf khusus, Jokowi tidak membatasi kegiatannya bermedia sosial.

"Kita kerja sesuai dengan KPI (key performance indicator), responsibility, dan kalau ada progres tugas yang diberikan kepada kami tentunya kami akan sampaikan dengan baik. Saya pikir kita tidak dibatasi dalam mengadvokasi kebijakan atau isu yang kritikal itu tidak ada. Kita menjalankan tugas dan tanggung jawab dan kita mengadvokasi," kata Billy kepada VOA Indonesia.

Saya setuju aja sih kalau diminta Jokowi memberikan Billy waktu dan ruang untuk berkembang sebagai stafsus. Namun, perkara komentar netizen adalah satu hal yang tidak bisa dikontrol siapa pun, kecuali kalau Billy punya waktu dan tenaga memaksimalkan lenturnya UU ITE.

Sebagai bagian dari ring pertama istana negara, Billy mau enggak mau harus siap dengan segala komentar yang mengikuti gerak-geriknya. Respons netizen yang tidak suka dengan caranya berkomunikasi akan langsung bersuara, tidak peduli ia baru seminggu atau sepuluh tahun menjabat (Fadli-Fahri Hamzah adalah contoh nyatanya).

Jangankan Billy, emak-emak nyeleneh yang berkendara di jalanan atau Nagita Slavina yang ke Singapur buat makan siang aja udah langsung jadi perbincangan di era sekarang. Apalagi kalau cuitan itu datang dari seorang stafsus, sebuah jabatan yang emang jadi sorotan masyarakat selama dua minggu terakhir. Tanpa bermaksud meringankan dosa para pem-bully yang beraninya cuma maki-maki di medsos, Billy sebagai milenial harus sadar bahwa netizens are watching you.

Emak-emak nyeleneh , Nagita Slavina, dan Billy juga tidak sendirian. Menurut hasil riset Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dilakukan April lalu, separuh pengguna internet Indonesia pernah mengalami perundungan siber.

"Angkanya besar, 49 persen mengaku pernah di-bully. Sementara ada sekitar 47 persen yang mengatakan tidak pernah. Sisanya, mereka tidak menjawab survei," ujar Sekjen APJII Henri Kasyfii dilansir Kompas. Henri menjabarkan dari 49 persen tersebut, 31,6 persen di antaranya tidak melakukan apa-apa alias pasrah dirundung. Beda dengan Billy yang langsung dibelain presiden.

Saya jadi punya ide. Daripada jadi pemberi masukan untuk pidato dan program Jokowi, gimana kalau para stafsus ini untuk sementara disuruh menekuni isu perundungan siber aja? Ini kan masalah krusial yang banyak dihadapi milenial dan gen Z sekarang.

Tagged:
indonesia
Politik
Presiden Jokowi
Reformasi Birokrasi
twitwar
Netizen Julid
Stafsus Millenial
Billy Mambrasar