Penyembah Alien

Keseharian Kelompok Pemburu UFO yang Percaya Alien Menyelamatkan Manusia dari Kiamat

Sekte di Thailand itu baru saja dirazia polisi, tetapi mereka tak pernah menyerah menyebarkan gagasannya soal alien sebagai juru selamat.

oleh Jamie Fullerton
03 Oktober 2019, 12:07pm

Ajarn Wassana Chuensumnaun dan teman dekatnya. Semua foto oleh Jamie Fullerton

Ajarn Wassana Chuensumnaun adalah pendiri kelompok UFO Kaokala. Di rumahnya yang terletak di Nakhon Sawan, Thailand, dia menceritakan kepadaku tentang alien yang sering ngobrol dengannya.

Memorabilia Buddha dan lukisan terbingkai alien yang menerbangkan pesawat ruang angkasa saling berebut tempat di antara tembok ruang depan. Model alien “abu-abu klasik” seukuran manusia berdiri di lobi, sedangkan sepatu bot peraknya lagi diserang kucing torti. 10 anggota Kaokala dalam balutan kaos desain galaksi melingkar duduk berdempetan di sofa. Mereka mendengarkan cerita hubungan Wassana dan makhluk luar angkasa dengan khusyuk.

Ada banyak informasi yang perlu dicerna, mulai dari alien tidak berjenis kelamin sampai mereka cuma makan kapsul energi “karena mulutnya kekecilan.” Anggota yang hadir saat itu usianya berkisar 20-60 tahun, dan tak ada satupun dari mereka yang bercanda selama Wassana bercerita. 50 anggota inti Kaokala, ditambah ribuan orang lainnya di internet, tak pernah menyepelekan alien. Kaokala percaya makhluk-makhluk ini sebenarnya ingin menyelamatkan penghuni Bumi, bukan malah menghabiskan kita.

Wassana, 47, mengabdikan dirinya kepada para makhluk luar angkasa. Dia dengan setia mendengarkan dan menunggu rencana mereka menyelamatkan umat manusia. Sayang sekali, percakapannya terputus begitu saja belum lama ini. Agustus lalu, aparat setempat menggerebek lokasi penerima pesan dari alien.

Anggota Kaokala dipaksa berkumpul kembali, tetapi bersemangat mengajakku ke lokasi sakral tersebut. Mereka mau menunjukkan mampu melewati semua ini. Lagi pula, nasib kita semua tergantung pada alien. “Aku ingin semua orang tahu alien akan membantu penghuni Bumi,” ujar Wassana, yang duduk di bawah tatapan mata hitam dua lukisan alien abu-abu.

*

Wassana dan saudara perempuannya Somjit Raepeth (60) mengaku sudah berinteraksi dengan alien dari planet Pluto dan Lokukatapakadikong sejak 1998. Menurut mereka, alien yang menghuni Lokukatapakadikong mirip seperti manusia abu-abu berkepala besar. Sementara itu, alien-alien Pluto bentuknya tidak padat. Mereka lebih mirip gas.

21 tahun lalu, ayah mereka mendadak menerima kontak alien ketika tengah bermeditasi. Kakak-beradik ini sempat meragukan kebenarannya, sampai akhirnya mereka ikutan bermeditasi. “Ayah menerima semacam gelombang yang nyambung kepadaku—seperti saluran telepon yang dialihkan,” tutur Wassana. “Aku merasakan semacam dorongan ‘energi motivasi.’”

1569870876093-23
Ukrin Thaonaknathiphithak berdiri di atas danau dekat gunung Khao Kala. Kelompok Kaokala mengklaim ada portal ke luar angkasa di dasar danau. Gambar: Jamie Fullerton

Ketika komunikasi di antara mereka semakin lancar, obrolannya berpusat di sekitar Perang Dunia III dan bencana nuklir. Wassana dan Somjit mendengar betapa makhluk ET ingin berbicara dengan manusia supaya mereka bisa memberikan bantuan teknologi jika pertempurannya pecah suatu saat nanti. Sepasang kakak beradik itu pun terinspirasi membentuk komunitas yang memercayai alien untuk menyebarkan pesan ini.

Meski ceritanya kedengaran mustahil, ketulusan hati mereka mampu meyakinkan banyak orang. Setelah dikenal dari mulut ke mulut di Nakhon Sawan, Kaokala memperluas jaringan mereka di internet. Mereka juga mengadakan pertemuan publik, dan mendapatkan perhatian nasional melalui media.

Manop Ampan, 65, merupakan mantan petugas komunikasi pemerintah daerah yang kini mengurus media sosial Kaokala. Krittaya Ketkaewsuwan, 30, bergabung dengan kelompok tersebut karena suka sci-fi dan kepingin melihat UFO. Desainer grafis dari Bangkok ini memercayai “50 persen” dari klaim mereka.

Desainer 29 tahun bernama Ploy Buranasiri mengatakan spiritualitas lah yang mengantarkannya ke Kaokala. Menurut Wassana, alasan alien memilih Thailand sebagai titik kontak yaitu banyaknya orang Buddha di sana. Mereka dapat berkomunikasi dengan bermeditasi. Selain ngobrol dengan alien lewat meditasi, Ploy yakin bisa melihat “karma orang-orang”. Dia sudah sembilan tahun menjadi anggota aktif Kaokala. “Ibu sempat mengira aku gila,” ungkapnya. “Tapi aku memberitahunya kalau aku takkan melakukan hal aneh-aneh. Kami hanya ingin membantu orang.”

Ann Thongcharoen, a core UFO Kaokala member, in Nakhon Sawan.
Ann Thongcharoen, anggota inti UFO Kaokala, di Nakhon Sawan. Gambar: Jamie Fullerton

Anggota lain banyak yang sudah terjerumus ke dalam lingkaran ini. Ann Thongcharoen, perempuan 28 tahun yang bekerja di restoran keluarga di Bangkok, menunjukkan lokasi penampakan alien seakan-akan itu adalah tempat bersejarah. “Kami melihat alien Pluto di sini. Mereka menggunakan pakaian sintetis untuk berjalan di Bumi,” katanya ketika kami mendaki Khao Kala, ngarai yang tertutup hutan lebat dan berjarak setengah jam perjalanan mobil dari rumah Wassana.

Nama UFO Kaokala—atau Koordinasi Kaokala untuk Kelompok Peringatan Bencana—diambil dari gunung Khao Kala yang, menurut para alien, ada portal menuju dimensi lain di sana. Selama enam tahun terakhir, anggota Kaokala telah berulang kali mendaki sampai puncak untuk berkemah, bermeditasi, dan melacak keberadaan UFO.

Buktinya berupa foto buram yang kelihatan seperti tutup panci terlempar ke udara di atas patung Buddha emas. Ann ngotot pernah ketemu alien saat kami mendaki lebih tinggi. Suara nyamuk berdengung di sekitar kami saat memasuki hutan yang lebih dalam. Ann berujar, “ada yang lihat robot alien di sini.” Aku disuruh memfoto langit untuk mengecek keberadaan pesawat luar angkasa pas turun gunung.

*

Gunung Khao Kala sangat tenang dan indah dipenuhi kupu-kupu, meski jalanannya berbatu. Namun, siapa sangka puncak gunungnya sempat menjadi sasaran razia oleh anggota kepolisian dan pejabat Departemen Kehutanan pada pertengahan Agustus. Polisi mengatakan kelompok Kaokala merusak kawasan hutan lindung dengan membangun kamar mandi dan gudang dekat patung. Mereka juga sering berkemah di sana tanpa izin. “Akan lebih bagus lagi kalau UFO-nya mendarat di sini,” kata seorang pejabat kepada media lokal. “Kami tangkap saja semuanya.”

Polisi menuduh anggota Kaokala bernama Charoen Raepetch sebagai dalang di balik bangunan itu. Charoen akan menghadapi tuntutan hukum, dan kelompoknya terancam didenda 150.000 baht (Rp69 juta) karenanya. Wassana bilang anggota inti bakalan patungan untuk membayar denda, kalau memang Charoen beneran dituntut. Sejak razia, mereka tak pernah lagi berkemah di gunung. Pihak berwajib juga telah menyingkirkan sebagian besar barang-barang mereka.

Walking up to the peak of Khao Kala mountain.
Mendaki puncak gunung Khao Kala. Gambar: Jamie Fullerton
1569871694285-21
Ukrin Thaonaknathiphithak di situs meditasi gunung Khao Kala. Gambar: Jamie Fullerton

Ini bukan pertama kalinya Kaokala mengalami tekanan dari luar. Sejumlah orang Thailand menyerang kelompok ini melalui media sosial. Mereka dituduh menghina agama Buddha dengan mengaitkannya pada alien. Lainnya bahkan mencurigai Charoen melakukan penggalangan dana untuk mendirikan bangunan-bangunan itu. Ann bilang siapa saja bebas menjadi anggota tanpa dipungut biaya. Dari semua pemimpin kelompok yang kutemui, tak ada satupun yang menunjukkan tanda-tanda dekadensi.

“Sejumlah orang mengira agama Buddha tak ada hubungannya dengan peradaban lain,” kata Ann. “Padahal Buddha mengajarkan tentang alam semesta, kan? Mereka mengira agama hanya untuk berdoa dan bermeditasi, tetapi sebenarnya juga tentang ruang angkasa. Aku sering lihat komentar tak mengenakkan, tapi kuabaikan saja. Aku tidak mau cari gara-gara.”


Tonton dokumenter VICE soal penganut agama yang percaya nabi-nabi Samawi sebetulnya alien:


Penggerebekan tak mengurungkan semangat mereka mendaki gunung di akhir pekan setelah polisi mengecek lokasi. Di puncak gunung, Manop melambaikan tangan kepada gambar pesawat luar angkasa yang terukir di lempengan batu sebelah patung Buddha emas. Model piramida hitam kecil tersebar di tanah dan diseimbangkan di antara batang pohon. Wassana membersihkan kotoran di sekitar lokasi penggerebekan; Ann dan Ploy bersantai di bawah bayang-bayang patung Buddha, terpancang di antara pepohonan yang tenang.

Suasana saat itu lebih mirip piknik daripada “kultus hari akhir”. Pedagang asongan memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan. Setelah turun gunung, kami pergi ke pasar Nakhon Sawan yang menjual kaos longgar bermotif alien norak ala-ala 90-an.

Some Kaokala touches remained on Kha Kala mountain, despite authorities forcing the removal of much equipment.
Beberapa benda Kaokala masih terpasang di gunung Khao Kala, meski aparat telah membersihkan paksa barang-barangnya. Gambar: Jamie Fullerton

Perjalanan kami berlanjut ke warung jajan yang temboknya penuh grafiti, bagus buat foto-foto. Kakak beradik Wassana dan Somjit mengatakan kelompok Kaokala masih sangat kompak. Mereka tidak takut sama sekali dengan penggerebekan itu. Menurut mereka, berinteraksi dengan makhluk ET bisa di mana saja—tak peduli ada portal atau tidak. “Kita bisa berhubungan dengan mereka dari rumah,” kata Ann. “Kita takkan pernah tahu sedang di mana saat Perang Dunia III pecah.”

Mereka akan lanjut bermeditasi hingga alien memberi tahu cara bertahan hidup dari Armageddon. “Mereka akan mendatangi kita dari berbagai generasi,” ujar Wassana. “Sebelum, selama, dan sesudah bencana nuklir, serta periode pemulihan. Tak ada yang tahu kapan akan dimulai.”

Hingga itu terjadi, akhir pekan kelompok Kaokala akan dihabiskan di atas gunung.

Follow Jamie Fullerton di Twitter. Silakan cek situs webnya di sini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US