Iklan
Unjuk Rasa di Hong Kong

Demonstran Hong Kong yang Tak Kunjung Menyerah Mulai Disebut 'Teroris' oleh Tiongkok

Anak muda dari gerakan pro-demokrasi khawatir Beijing bersiap melakukan intervensi militer karena julukan tersebut.

oleh David Gilbert; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
13 Agustus 2019, 6:52am

Demonstran membawa papan mengkritik polisi Hong Kong saat menduduki bandara. Foto oleh Vincent Thian/Associated Press

Tiongkok melabeli pengunjuk rasa pro-demokrasi di Hong Kong “teroris” setelah warga dan pasukan anti huru-hara terlibat dalam bentrokan pada akhir pekan lalu. Seorang perempuan dilaporkan tertembak polisi.

Setelah 10 minggu berlangsung, ini pertama kalinya gerakan massa Hong Kong dijuluki “kelompok terorisme” oleh Beijing. Para demonstran khawatir militer Tiongkok akan melakukan intervensi karena julukan tersebut.

Ketegangan semakin bertambah setelah pasukan Tiongkok unjuk kekuatan. Mereka mengirim pengangkut personel lapis baja ke selatan Shenzhen, yang berbatasan dengan Hong Kong, untuk mengambil bagian dalam latihan militer.

Sementara itu, pihak berwenang di Hong Kong mengundang wartawan dan anggota parlemen untuk menyaksikan demonstrasi meriam air yang belum sempat dipakai pada aksi demo 2014.

Kemungkinan intervensi Beijing kembali muncul ketika pasukan anti huru-hara bentrok dengan pengunjuk rasa pada Minggu malam.

Rekaman video menunjukkan aparat polisi menembakkan gas air mata di dalam stasiun kereta bawah tanah serta peluru karet ke arah demonstran dalam jarak dekat.

Seorang perempuan muda mengalami luka serius setelah matanya ditembak peluru beanbag, tapi polisi mengklaim Senin videonya harus diverifikasi terlebih dulu dan mereka tidak dapat mengonfirmasi "alasan mengapa perempuan itu cedera."

Aparat juga menyamar sebagai pengunjuk rasa untuk menangkap tersangka.

Aksi demo pada Minggu berlanjut hingga Senin. Jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan karena massa menggelar aksi duduk di bandara internasional Hong Kong. Lebih dari 5.000 demonstran memadati terminal kedatangan bandara sambil mengangkat spanduk bertuliskan “Hong Kong is not safe (Hong Kong sudah tidak aman)” dan “Shame on police (Polisi tidak tahu malu).”

Peserta demo mengenakan kaus hitam dan masker. Selama aksi, mereka membagikan selebaran bergambar demonstran yang terluka kepada para turis yang baru tiba. Banyak dari mereka mengenakan penutup mata sebagai bentuk solidaritas terhadap perempuan korban tembak pada Minggu malam.

Tepat setelah pukul 5 sore waktu setempat, situasi di bandara semakin kacau ketika aparat memerintahkan massa aksi untuk segera meninggalkan bandara dengan laporan pasukan anti huru-hara sedang dalam perjalanan untuk membubarkan mereka.

Ribuan orang terpaksa meninggalkan bandara dan menuju ke pusat kota dengan bus, kereta, dan taksi.

Demonstrasinya dimulai awal Juni lalu, dan merupakan bentuk protes menolak RUU Ekstradisi yang dikhawatirkan memungkinkan Beijing mengirim narapidana ke Tiongkok daratan. Walaupun pemerintah Hong Kong telah menunda pengesahan RUU, aktivis khawatir bisa dilanjutkan kembali di kemudian hari.

Bentrokan antara pemerintah Hong Kong dan aktivis belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Label “teroris” semakin meningkatkan kekhawatiran akan campur tangan militer Beijing.

“Demonstran radikal Hong Kong telah berulang kali menyerang polisi dengan benda tajam,” kata Yang Guang, juru bicara Kantor Urusan Publik Hong Kong dan Makau. “Mereka telah melakukan kejahatan berat dan mulai menunjukkan tanda-tanda terorisme. Tindakan pelanggaran hukum ini bisa membahayakan warga Hong Kong lainnya.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News