Iklan
Nostalgia

Lagu Anak Era 90'an Kalau Didengar Lagi Tema Liriknya Subversif Banget

Kami ngobrol barengpengelola akun shitpost facebook S e m i o t i k a lagu anak, ngobrolin makna terselubung lagu anak dekade 1990-an. Ternyata lagu-lagu kenangan bocah millenial itu banyak nyentil penguasa.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
24 Oktober 2018, 9:03am

Kolase foto oleh Dicho Rivan.

Di saat lagu-lagu top 40 zaman sekarang kebanyakan fokus sama masalah cinta dan patah hati doang, lagu anak-anak tahun 90-an dulu ternyata secara absurd punya pesan-pesan tak terduga yang ironisnya justru lebih relatable ketika didengar oleh telinga anak-anak itu ketika mereka sudah dewasa. Mulai dari kelucuan sehari-hari, kegundahan kelas menengah dalam menyisakan uang bulanan buat beli robot Gundam sampai kritik politik terselubung di era Orde Baru. Inilah pesan yang diangkat oleh page shitposting Semiotika Lagu Anak.

Sejak dibuat Januari 2017 lalu, pendiri sekaligus salah satu adminnya masih saja keukeuh merahasiakan identitasnya. Ia memilih disebut Ngadimin. Bersama dengan admin kedua yang juga ternyata adalah Qasimin, atau yang kita kenal sebagai admin page shitposting Qasidah Memes for All Occations, page ini sudah mendulang penggemar dan disukai oleh lebih dari 3000 pengguna facebook.

Page ini menawarkan humor dan kegetiran yang bersumber dari lirik-lirik yang mungkin 20 tahun lalu tak terpikirkan akan menjadi selucu sekarang. Misalnya penggalan lirik lagu berjudul Burung Perkutut Papa yang dibawakan Made ayu, “Papa, burung Papa kok diam aja sih” yang dipadu dengan caption nakal yang sukses membuat kita yang mendengarkannya dua puluh tahun lalu manggut-manggut nyanyi-nyanyi berubah jadi terpingkal-pingkal geli.

Atau misalnya screenshot penggalan lagu Terompet dan Tanji ciptaan Bu Sud yang dibawakan penyanyi cilik Nathan, "Dengarlah tanjiku jing jing jing jing jing jing jing," yang serempak diterjemahkan netizen usia dewasa sebagai kalimat katarsis pelampiasan kemarahan.

VICE mewawancarai Ngadimin dalam situasi genting, yaitu saat orang-orang dewasa brengsek menggunakan nama-nama penyanyi cilik seperti “Trio Kwek-Kwek” dan “Tina Toon” sebagai kode dalam praktik korupsi. Padaku Ngadimin bilang kesel berat. Ia seraya menggugat. "Ini penistaan lagu anak namanya!"

VICE: Kapan page Semiotika Lagu Anak terbentuk? Boleh diceritakan proses terbentuknya?
Seperti yang bisa dilihat di page Semiotika Lagu Anak, pertama kali saya ngepost 9 Januari 2017 ketika lagi suntuk ngerjain tesis. Saat itu lagi rame hashtag #SaveLaguAnak, gerakan bagus supaya lagu anak bisa muncul lagi mewarnai dunia anak-anak. Waktu itu muncul ide usil saya untuk membuat page lucu-lucuan pakai screenshoot lirik lagu anak (terinspirasi juga dari FP Qasidah Meme fo All Occations) Tujuannya? ingin menghibur aja sih bagi yang sudah dewasa bisa ketawa-ketawa melihat postingan absurd, tapi ujung-ujungnya mereka bakal nyari lagu itu di Youtube. Harapannya dari postingan tadi mereka bakal muter lagu anak-anak biar diperdengarkan ke anaknya, ponakan, atau adik.

Siapakah orang di balik page ini?
Founder-nya saya, sebut saya Ngadimin aja. Saya pengajar di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Jawa Tengah. Pada awal 2018, saya sempat menyerahkan fan page ini ke Qasimin (founder-nya Qasidah Meme) untuk dikelola karena pas lagi overload kerjaan. Saya sempat out, nggak ngurusin. Kemudian di-invite ngadmin dan ngepost lagi. Terus pengin out lagi sekarang wkwkwk.

Apa sih yang menarik dari lagu anak-anak 90-an? Sampai-sampai jadi page meme?
Saya adalah orang yang tumbuh besar di tahun 90-an, di mana lagu anak-anak sangat kaya. Jadi kadang kalau ingat itu lagu ditambah dengan prior knowledge dan perkembangan zaman yang sudah menerpa kita hingga kuliah, lama-lama dipikir absurd juga itu lagu. Bayangkan Anda masih anak-anak dengar lagu Melissa tentang yang judulnya Semut-Semut Kecil, potongan liriknya itu bunyinya “Sepotong roti dibagi-bagi”. Kalau dibaca buat yang baru selesai kuliah Ilmu Sosial kemungkinan bakal mikir "ini lagu sosialis banget ya?"


Lagu lainnya Suzan Punya Cita-cita, liriknya "Aku kepingin jujur biar jadi insinyur", dengan realita ada banyak pengerjaan konstruksi yg gampang rusak karena di markup. Jadi lagu anak kalau kita bawa dengan realita dewasa malah banyak bagian yg satir dan absurd nggak sih? Nah di situlah saya pikir bisa menghibur.

Ada pola lain bisa dibaca dari lagu-lagu anak-anak ini? Misalnya, ternyata konten-kontennya politis banget? Secara kan mereka berjaya zaman Orde Baru yah…
Iya, ada sekali-kali nyerempet tapi saya lupa yang mana saja hehehe saking banyaknya. Mungkin yg paling implisit, misal seperti soundtrack-nya Doraemon yang liriknya berbunyi “Aku ingin ini ingin itu banyak sekali”. Kok seakan-akan kita sudah diajari serakah sejak Orba lewat lirik lagu Doraemon ya? Hahaha Contoh lainnya misal di dunia konstruksi, di lagunya Ria Enes dan Suzan yang judulnya Suzan Punya Cita-Cita, ada lirik “aku kepengen jujur biar jadi insinyur”. Saya pikir kak Ria ini jenius, nyindir era Orba lewat lagu anak-anak tapi aman-aman aja.

Pencipta lagu anak lagi-lagi adalah orang dewasa, apakah menurut mas Ngadimin lirik-liriknya itu merepresentasikan kegelisahan orang dewasa dengan situasi politik saat itu yang diespresikan anak-anak biar lebih "aman" atau "jinak" buat rezim zaman itu?
Saya pikir seperti itu, buktinya terlihat setelah pendengarnya jadi dewasa. Coba cek lagu Suzan Masuk Sekolah. Di dalamnya ada percakapan Ria Enes dan Suzan yang bercerita bagaimana supaya bisa jadi ketua kelas dengan nyogok traktir jajan teman-temannya.

Liriknya, "Sst.. Kak Ria aku tuh sebetulnya itu aku nraktir teman-teman satu kelas makanya aku kepilih. Loh itu ndak seberapa Kak Ria kalau misalnya satu sekolahan itu aku traktir wahhh~ aku pasti jadi kepala sekolah"

Apa sih yang terbukti dari lagu-lagu anak-anak itu setelah pendengarnya jadi dewasa?
Coba cek ini, ini lagu di tahun 90-an yang didaur ulang awal tahun 2000, kira-kira bisa dilihat ada inflasi nggak? Buat yang sudah dewasa, sudah tahu pelajaran ekonomi, bakal ngerasa “eh iya-ya kita mengalami inflasi yang lumayan banget dari 200 ke 5000, bahkan ada yg komen udah 15rb tahun 2017. Tapi memang tidak semua postingan terlalu serius ke arah politik atau ekonomi seringnya fun, nyindir keadaan sekarang dengan lirik lagu anak masa lampau. Misalkan mengenai hobi orang dewasa yg beli Gunpla atau hot toys lainnya.

Kalau asumsi tadi soal pencipta lagu anak yang berusaha membuat lirik-liriknya sebagai representasi kegelisahan mereka yang diespresikan anak-anak biar lebih "aman" atau "jinak" buat rezim zaman itu… Menurut Mas Ngadimin, apa itu juga yang jadi penyebab lagu anak-anak sudah nggak ada lagi? Karena sekarang orang dewasa lebih “bebas” dan mereka “sudah nggak butuh anak-anak” lagi buat menyampaikan kritik mereka?
menurut saya nggak juga sih...selepas era Pak/Bu Kasur, Pak AT Mahmud hingga era Papa T Bob dunia industri musik anak mundur drastis.....pasar yg berkuasa...saya melihat TV agak miris seperti ajang pencarian bakat anak tapi pakai lagu dewasa cinta-cinta an.. menurut saya ada ketidakseimbangan pasar, bisa juga anak2 di generasi 80-90 ini yang fatherless generation sehingga dewasanya kedua ortu kerja dan anak jarang mendapat pendampingan tontonan. Diperparah lagi akses internet dengan konten dewasa yg bisa diakses anak2..klop sudah..

Lagu anak tu bisa diibaratkan kayak “ramalan” masa depan kah? Atau kehidupan orang dewasa itu memang gitu-gitu aja?
Kalau berdasar biografi Pak Kasur dan Pak AT MAhmud, namanya lagu anak ya bagaimana mengenalkan anak tentang kehidupan. Kehidupan, lingkungan sekitar, adat dan budaya. Ya seperti itu. Mengenai adanya 'titipan pesan' lain, itu kembali ke style-nya penulis lagu. Beberapa lagu anak juga muncul di akhir 80-awal 90 tentang balada dan realitas sosial. Misal lagu Fadly tentang anak jalanan atau Janter Simorangkir tentang Mama.

Ada batasan moral dalam memilih lirik yang dicuplik?
Nah ini tergantung style juga, saya sering menghapus komentar kasar, bahkan banned. Sekali lagi, walau ini FP lucu2an lagu anak bukan berarti boleh berkata kasar dan tidak sopan. Screenshoot pun kalau saya menghindari ke arah vulgar.

Apa reaksi dan komentar atau mau memberikan penjelasan kah soal fenomena koruptor zaman sekarang yang pakai Tina Toon dan Trio Kwek Kwek sebagai sandi korupsi?
hehehe... Iya itu sudah saya komen di postingan saya pakai skrinsyut lagu Tina Toon...intinya..ini Penistaan lagu Anak!!!