How to Exist OK

Inilah Rasanya Saat Kamu Mengetahui Akan Mati Akibat Kanker Pada Usia 35

“Saya sadar kalau menyenangkan orang lain bukanlah tugasku. Saya cuma perlu lebih jujur.”

oleh Gideon Jacobs; ilustrasi oleh Lia Kantrowitz
06 November 2018, 11:33am

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz

Dalam rubrik “How to Exist OK”, penulis sekaligus seniman Gideon Jacobs mencari tahu bagaimana seseorang bertahan dalam segala perjuangannya. Jacobs berbincang dengan berbagai orang—biksu, pendeta, teolog, psikolog, filsuf, bartender, centenarian, dll—dan menanyakan bagaimana mereka menjalankan kesehariannya sebagai manusia meskipun banyak rintangan yang menghadang.


Saya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan beritanya, tetapi narasumber saya Katia Bozhikova meninggal dunia tak lama setelah saya mewawancarainya dan tepat ketika artikel ini sudah siap untuk diterbitkan. Katia masih 35 tahun, dan dia tahu hidupnya tak akan lama. Dia sudah berhadapan dengan kenyataan ini selama beberapa waktu. Katia pertama kali didiagnosis kanker hampir 10 tahun yang lalu.

Musim semi lalu, dokter menyatakan kalau penyakitnya telah menyebar ke hati, tulang rusuk, kelenjar getah bening, paru-paru dan otak. Berita kematiannya tetap membuatku terkejut. Ini bisa jadi disebabkan karena kita sebagai manusia sulit menerima kenyataan kalau suatu saat nanti kita pasti akan mati.

Saya kenal Katia dari saudara perempuanku, psikolog yang mendalami kematian. Saya meminta untuk mewawancarainya setelah mendengar penjelasan Katia bagaimana waktunya yang singkat mengubah pandangannya tentang hidup. Kami sempat mengobrol sebentar saat dia sedang libur terapi eksperimental yang menyakitkan. Katia menjawab semua pertanyaan saya dengan tegas dan percaya diri, meskipun dia sering terbatuk dan harus minum di sela-sela pembicaraan. Dia seperti ini bukan karena tidak takut, sedih, atau marah, tetapi karena dia sudah menerima kenyataan pahitnya. Seperti yang saya katakan kepada saudara ketika mengetahui Katia meninggal dunia: Kematian memang menakutkan, misterius, sulit diterima dan aneh, tetapi Katia tahu cara menghadapinya.

VICE: Saya pernah mendengar tanggapanmu ketika ditanyakan soal seberapa parah kondisimu. Kamu kira-kira menjawab, “Sebenarnya kondisi kita semua ini parah.” Jawabanmu menunjukkan betapa kita jarang memikirkan kematian. Bagaimana pemahamanmu tentang kematian berubah dari sebelum kamu divonis sakit kanker dan setelahnya? Bagaimana ini memengaruhi perasaanmu tentang kematian?
Katia Bozhikova: Saya masih 26 tahun ketika pertama kali didiagnosis kanker. Jarang ada orang yang memikirkan kematian pada usia segitu. Semua ini ada kaitannya dengan orang-orang di dunia kedokteran, mereka seakan memintamu untuk tidak memikirkannya. Kematian masih sangat tabu. Saya sendiri merasa aneh kalau menanyakannya.

Menanyakan apa?
Yah, seperti apa yang terjadi ketika mati? Bagaimana kalau saya meninggal nanti? Saya tak pernah bisa menanyakan ini. Tapi, sepertinya pemahaman saya semakin dalam ketika saya terserang stadium empat. Rasa takut matinya tidak berlebihan. Saya lebih takut menjalani hidup menuju kematian.

Jadi menurutmu, proses menuju kematiannya yang menakutkan?
Betul sekali. Saya sempat melalui pengalaman psikedelik dengan bimbingan spiritual. Saya mengalaminya bukan saat sedang pesta, dan ini mengurangi ketakutan saya akan mati. Tidak semua orang cocok dengan jenis pengobatan ini, tetapi pengalaman pribadi saya mirip dengan penjelasan banyak orang bahwa terapi ini bisa mengurangi ego.

Namun, alasan sebenarnya saya bisa takut itu ketika menyaksikan teman dekat yang meninggal karena kanker dua tahun lalu. Banyak mesin yang berbunyi di sekitarnya, dan mereka tidak meninggal di rumah. Jujur saja, saya lebih takut dengan ini daripada kematian. Ini adalah ketakutan terbesar saya. Kira-kira sekitar satu setengah tahun setelah saya didiagnosis kanker stadium empat, saya mengalami berbagai hal. Ada yang positif, ada juga yang negatif.


Tonton dokumenter VICE mengenai penjual tabung nitrogen untuk euthanasia:


Saya bukan asli sini dan tinggal jauh dari keluarga. Saya takut akan diurus oleh orang asing. Tetapi, teman-teman dan komunitas saya membuktikan kalau ketakutan ini tak beralasan. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau mereka tidak ada. Selalu ada orang yang mau membantu dan mengurusku. Kalau badan saya lagi sakit banget, saya sering merasa tidak enak meminta seseorang begadang untuk menjagaku di malam hari supaya mereka bisa mengantarkanku ke kamar kecil, mengambilkan minum atau memberikan obat. Apalagi kalau mereka harus bekerja di pagi harinya. Saya merasa jadi beban buat mereka. Tapi, tak ada satupun dari teman yang merasa terbebani olehku. Mereka tidak pernah sama sekali menelantarkanku.

Apakah sering memikirkan kematian dan mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi mengubah pandanganmu terhadap hidup? Apakah ini mengubah kualitas kesadaranmu?
Sekarang, saya tidak begitu mengkhawatirkan hal-hal sepele seperti penampilan dan standar sosial tertentu. Saya berhenti menggunakan ‘filter’ di depan orang. Saya bisa menjadi diri sendiri. Saya tidak lagi memedulikan perkataan orang soal apa yang perlu dan tidak perlu saya lakukan.

Apakah kamu menganggap segala sesuatu jadi lebih jelas daripada di masa lalu?
Tentu saja. Hal ini berdampak pada hubunganku dengan ibu dan orang lain yang pandangan soal hidup dan matinya berbeda dariku. Saya sadar kalau saya tidak berkewajiban menyenangkan orang lain. Saya cuma perlu lebih jujur.

Bagaimana kamu memahami peran rasa sakit dalam kehidupan? Apakah kamu melihatnya sebagai bagian berharga dari pengalaman hidup manusia?
Kamu menanyakannya di waktu yang tepat. Saya baru saja melalui dua minggu dengan penuh kesakitan. Saya bisa gila saking sakitnya. Benar-benar tidak mengenakkan. Ini bukan rasa sakit yang bisa membuat kita lebih bijaksana.

Belum lama ini, ada yang berkata “Pain is a beautiful teacher, but only after” kepadaku. Tak ada meditasi atau afirmasi yang bisa menenangkanmu saat kesakitan, karena rasa sakit membuatmu merasa sangat buruk, yang benar-benar menunjukkan batasan ketika tubuh dan jiwamu bersatu.

Rasa sakit adalah kekuatan yang sangat menyempit, kan? Kesakitan bisa membuatmu fokus di waktu yang tidak memungkinkanmu untuk memiliki perspektif baru dan bersikap terbuka.
Satu-satunya yang bisa membantuku yaitu fokus saat bernapas dan tidak melawan. Melakukan ini bisa mengurangi dampaknya, tetapi tidak membuat rasa sakitnya hilang atau berkurang. Manusia sangat suka melawan atau mengusir sesuatu yang tidak mengenakkan. Saya belajar untuk tidak lagi melakukannya dan membiarkan saja pengalamannya. Saya menyadari kalau saya tidak hidup maksimal ketika mengusir rasa sakitnya. Saya sering merasakan sakit sekarang, dan tidak mungkin menyangkalnya. Saya hanya buang-buang tenaga ketika melawannya.

Ketika saya dengar kamu membahas kematian, kamu membicarakan topik berat dengan rasa hormat dan sembrono, seakan-akan ini tidak begitu serius. Bagaimana kamu bisa menyeimbangkanmya?
Saya sudah berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Penderitaan saya berkurang banyak karena tidak lagi melakukan itu. Ketika kita merasa kehilangan sesuatu yang seharusnya kita miliki karena kita berpikir orang lain memilikinya, semuanya berubah menjadi “serius.” Hidup sudah serius, dan kita tidak perlu terlalu serius.

Didiagnosa menderita kanker benar-benar menjadi pengalaman yang mengubahmu. Apakah perubahan dalam hidup cuma bisa muncul karena pengalaman semenohok ini? Apa sih yang sebenarnya bisa menyebabkan perubahan?
Kita baru benar-benar berubah ketika sesuatu yang kita rasa milik kita diambil. Tubuh kita ini cuma pinjaman. Hari ini juga pinjaman. Tak ada yang abadi. Bila kita hidup dengan cara pandang “saya pantas punya ini itu,” akhirnya kita akan berusaha mati-matian menggenggam sesuatu yang bukan milik kita, tak ada lagi dan harus berubah.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa hidup dengan baik?
Pastikan dirimu dikelilingi orang yang kamu cintai. Manusia itu makhluk sosial. Tapi, kebiasaan saling menyayangi satu sama lain itu bukan sebuah kewajiban. Kita harus terus menjaga hubungan dengan orang lain. Saya sedang menjalani perawatan yang jika dijalani sendirian bakal berat dan mungkin saya tak akan bisa melewatinya. Rasa sayang dari orang-orang di sekitar saya adalah modal yang besar bagi saya.

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.

Follow Gideon Jacobs di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic