Sepakbola

Bangkitnya Gerakan Ultras Melawan Sepakbola Modern Yang Kapitalistis

Kelompok menamakan diri Against Modern Football (AMF) ini berkembang di banyak negara. Mereka melawan aturan, misalnya, yang melarang hooligan masuk ke stadion.

oleh Leander Schaerlaeckens
13 Juli 2017, 10:32am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

"Apakah kamu terganggu melihat berbagai larangan dan aturan yang sekarang membentuk industri persepakbolaan modern?"

"Apakah anda kesal olahraga yang dulunya menjadi ranah kelas pekerja diubah secara sistematis menjadi sebuah bisnis tanpa mempedulikan penggemar yang membentuk tradisi hebat sepakbola itu sendiri?

Kalimat di atas menjadi pengantar edisi perdana STAND, sebuah fanzine yang mewakili penggemar sepakbola Inggris yang terganggu oleh industri sepakbola modern dan ingin mendorong perubahan."

Pergerakan Anti Sepakbola Modern (AMF) bukanlah fenomena baru, tapi belum ada yang berhasil menangkap esensi dari semangat ini dengan sempurna. Ketika edisi pertama STAND mulai dijual di musim panas 2012, pergerakan ini tidak lebih dari sekedar gerombolan penggemar sepak bola old-school tanpa struktur. Berkat STAND, kini para ultras itu memiliki satu suara terpadu.

Sebelum kehadiran STAND, AMF hanyalah sekedar kumpulan orang-orang marah tanpa bentuk, bukan organisasi formal. Kadang gerakan ini dikooptasi hooligan yang berusaha melanggar hukum dan regulasi yang berusaha menekan aktivitas mereka. Selain tafsir dari sebuah paper akademik yang mudah dipahami, pergerakan ini belum memiliki definisi jelas. Saking tidak jelasnya, sempat ada mitos menyebar tentang adanya buku peraturan rahasia bagi ultras pendukung gagasan AMF.

"Tidak ada badan yang jelas waktu itu," kata Bill Biss, editor STAND—istilah khas Inggris untuk tempat duduk di stadion sepakbola. "Jadi waktu itu ini sekedar perasaan aja, bukan gerakan yang kohesif. Ini menjadi sekedar istilah yang digunakan sebagai lambang kehormatan oleh kelompok protes dan penggemar. Istilah ini juga sempat sangat populer digunakan oleh semua orang. Banyak yang merasa menjadi bagian dari AMF, tapi tidak tahu harus mendaftar kemana."

Publikasi bentukan Biss saat itu adalah "fanzine yang mengkooptasi istilah dari Eropa untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang memprotes atau mengeluh tentang dunia sepakbola modern." Edisi pertama dirilis sebanyak 1.000 kopi dan terjual ludes seketika.

Fenomena ajaib ini terasa seperti semacam serangan terhadap modernitas, kritik terhadap bentuk pertumbuhan olahraga sepakbola menjadi sebuah produk yang lebih siap dikonsumsi. Maka dari itu, kadang AMF terasa seperti versi sepakbola dari Masyarakat Pemercaya Bumi Datar. Maka dari itulah STAND merasa perlu membuat klarifikasi di situs mereka. "Kami bukan manusia purba," katanya di situs. "Kami pengguna teknologi modern."

Gerakan AMF muncul di kontinen Eropa tidak lama setelah abad millenium tiba. Sebuah video YouTube—tentu saja ditemani oleh musik tekno, karena sudah pakemnya semua video sepakbola di YouTube diiringi oleh lagu tekno—menampilkan deretan spanduk dipegang oleh tifosi, sebutan bagi penggemar sepakbola Italia yang kadang terlibat kekerasan dan tidak menyukai polisi. "No al calcio moderno," tulis spanduk-spanduk tersebut yang artinya "Katakan tidak ke sepakbola modern."

Secara garis besar, tujuan gerakan AMF adalah merebut kembali sepakbola dari kekuatan ekonomi yang dianggap merampasnya dari tangan penggemar sejati. Untuk bisa mengerti logika ini, anda harus mengerti sejarah asal muasal sepakbola. Banyak klub sepakbola profesional Eropa umurnya lebih dari satu abad dan dimulai oleh segerombolan teman atau dari klub sosial dan pabrik. Mereka masuk ke liga amatir, dan klub yang sukses perlahan-lahan mulai berkembang secara profesional. Mereka bukan waralaba pencari profit yang masuk ke dalam liga pengeruk uang penuh dengan aturan seperti kebanyakan olahraga di AS. Di sepakbola, semangat amatir terus hadir.

Nyatanya berdasarkan data tiga tahun lalu saja, 10 klub terkaya di Eropa meraup pendapatan sekitar US$5 miliar (setara Rp66,7 triliun). Padahal 16 tahun lalu, 10 tim terkaya Eropa "hanya" menghasilkan $855 juta (setara Rp11,4 triliun). Data ini menggarisbawahi betapa besar monetisasi dari olahraga yang dulunya tidak lebih dari sekedar permainan amatir dengan cara "memeras" para penggemar dan penonton TV. Di masa ini, sudah tidak asing kita mendengar klub sepakbola "dibeli" atau diambil alih secara paksa. Banyak klub sepakbola adalah mainan dari para miliarder penuh kuasa. Klub-klub lainnya pun semua terdaftar dalam pasar saham. Intinya, semuanya serba komersil.

Seiring sepakbola semakin dikomoditisasi, pengalaman menonton olahraga ini pun semakin disesuaikan dengan penonton mainstream yang lebih berduit. Tidak ada lagi seksi tempat duduk khusus berdiri di banyak negara. Penggemar hardcore sepakbola juga dilarang. Dalam satu atau dua dekade terakhir, harga tiket pertandingan sepakbola telah meningkat sebanyak 10 kali lipat di kebanyakan liga, membuat banyak penonton kelas menengah dan pekerja tidak mampu membeli. Banyak yang berpendapat ini telah merusak atmosfir olahraga.

"Saya tidak terlalu suka sepakbola modern," kata Radoslaw Rzeznikiewicz, seorang simpatisan Polish Against Modern Football dan juga penggemar Legia Warsaw, yang mengaku dia bukan seorang ultra, tapi kerap berkicau tentang kegiatan ultras di akun Twitternya @PolishHopper. "Saya tidak suka bentuk stadion sepakbola masa kini. Saya sering bepergian keliling Eropa untuk menonton sepakbola dan saya lebih suka menonton pertandingan di arena sepakbola model lama dimana tradisi bisa tercium. Stadion baru semuanya kelihatan serupa dan kerap terlihat seperti mal tempat orang belanja."

Dia berbicara tentang "penyakit sepakbola modern" dan mengeluhkan bagaimana penggemar berat olahraga ini justru disisihkan secara sistematis. Di Polandia, dia mengatakan, para politisi mengkambing hitamkan penggemar sepakbola demi "menutupi skandal politik dan indikator ekonomi yang buruk."

"Akibatnya mereka mulai melarang penggemar sepakbola untuk melakukan apapun," tambahnya. "Ultras diperlakukan seperti gerombolan kriminal berbahaya."

Ini merusak pengalaman menonton sepakbola, ujar Rzeznikiewicz. "Sepakbola itu bukan teater," urainya. "Adanya elemen kebencian dalam sepakbola justru menghasilkan emosi yang lepas."

Sepakbola memang bukan teater. Tapi harus diakui penumpasan kebencian rasial, skinhead dan petasan yang kerap memenuhi dunia sepakbola memiliki dampak positif. Dekade 1980-an, tidak mungkin anda bisa mengajak anak dan istri ke sebuah stadion sepakbola di Inggris. Sekarang, anda bisa melakukan itu, duduk dengan nyaman di tengah penonton-penonton sopan lainnya. Sekarang, stadion Nou Camp di Barcelona yang dulu memegang teguh tradisi justru lebih sering diisi oleh para turis. Keluarga, pengusaha dan turis biasanya lebih banyak bisa berkontribusi secara finansial. Ini adalah konflik sentral yang melahirkan Against Modern Football. Ketika kebijakan untuk meningkatkan komersialisasi dan keamanan penonton diterapkan, sedikit banyak kultur asli sepakbola dikorbankan. Di saat inilah situs seperti SupportersNotCustomers.com mulai bermunculan.

Lewat pernyataan misi, blog Dutch Against Modern Football yang bernama In De Hekken (artinya "Di Pagar") mengemukakan keinginan mereka: "Untuk bisa mengkonsumsi bir [yang dilarang di kebanyakan stadion], diperbolehkan naik kereta ke pertandingan tandang tanpa memegang tiket [penggemar tim lawan harus bepergian sebagai sebuah kelompok dibawah pengawasan ketat polisi], diperbolehkan bergelandutan di pagar [juga dilarang], diperbolehkan menunjukkan emosi sebagai bentuk dukungan terhadap klub; ini adalah kehidupan supporter bola sesungguhnya."

Kalau kita mencerna berbagai manifesto yang dibuat (misalnyavideo yang dibuat oleh penggemar MFK Kosice di Slovakia), sepertinya pergerakan ini ingin harga tiket diturunkan, alkohol kembali diperbolehkan dalam stadion, seksi khusus penonton berdiri kembali dibangun, dan klub kembali dimiliki oleh penggemar—atau paling tidak agar penggemar memiliki suara dalam manajemen klub; tradisi dihormati dan dijaga; dan para ultras tidak lagi dikejar-kejar polisi.

"Kami mendapat banyak kritik karena dianggap ingin kembali ke masa-masa kelam penuh hooligan dan rasisme, padahal kami tidak pernah mendukung hal-hal tersebut," jelas Biss, menambahkan bahwa majalahnya terpaksa melepaskan subtitle "Against Modern Football" dari sampul edisi keenam karena kritik pedas yang menimpa motto tersebut. "Banyak yang menganggap target kami terlalu tinggi. Sepakbola itu bagian besar dari kultur kita sehari-hari sehingga mudah untuk mengecap AMF sebagai bentuk fashion hipster sepakbola, padahal kalau anda ngobrol dengan banyak penggemar olahraga ini, kebanyakan akan setuju dengan pendapat kami."

Menelaah inti dari pergerakan ini, memang tidak ada yang salah dengan obyektif mereka, biarpun mungkin kadang terkesan ambigu, terutama di masa ketika kepemilikan klub sepakbola semakin lebay. Cardiff City, yang dijuluki Bluebirds, menghabiskan 104 tahun mengenakan jersey biru hingga akhirnya pemilik klub, Vincent Tan, pengusaha superkaya asal Malaysia memutuskan "membranding ulang klub" dan mengganti warna jersey menjadi merah di 2012. Di Januari, Tan akhirnya tunduk kepada tekanan penggemar dan kembali mengganti warna jersey ke biru setelah berkonsultasi pada ibunya.

Contih lain adalah Coventry City. Klub itu sempat pindah ke stadion yang terletak di kota yang berbeda berjarak 1 jam perjalanan mobil, gara-gara para pemiliknya saling bertikai soal biaya sewa stadion. Ini belum separah kasus yang menimpa Wimbledon F.C. Didirikan di 1889 dan dijuluki The Dons, klub ini dulunya bernaung di wilayah elit London. Namun di 2003, setelah pemilik menolak keras renovasi stadion tua mereka yang usang dan gagal menemukan lokasi untuk venue baru di wilayah yang sama, Wimbledon terpaksa pindah ke Milton Keynes, kota mati yang terletak sekitar 90 km dari London. Mereka pun mengganti nama menjadi Milton Keynes Dons. Di Eropa, memindahkan sebuah klub itu konsep yang asing. Menolak mengikuti perubahan ini, penggemar Wimbledon akhirnya justru mendirikan A.F.C Wimbledon dan memulai semuanya dari nol. Kini, Wimbledon bermain di divisi empat liga sepakbola profesional Inggris, satu tingkat di bawah the Dons.

Perlu lebih banyak cerita lagi? Malcolm Glazer dan anak-anaknya, orang-orang besar di dunia industri mal Amerika Serikat dan pemilik klub american football Tampa Bay Buccaneers, membeli Manchester United F.C pada 2005. Dia segera melimpahkan utang-utang pribadi ke klub. Akibatnya ratusan juta poundsterling milik klub habis untuk melunasi utang. Saking ngeselinnya, beberapa penggemar mendirikan F.C. United of Manchester yang kini merupakan tim sepakbola semi-profesional.

Reaksi penggemar yang lebih umum ketika pemilik klub dianggap terlalu intrusif adalah untuk membeli saham klub tersebut. Strategi ini sukses diterapkan di Spanyol dimana Barcelona dan Real Madrid dimiliki secara penuh oleh pemegang tiket musiman, yang juga memilih presiden klub. Di Jerman, sesuai aturan setempat, penggemar harus memiliki 50+ persen saham dari klub yang mereka dukung. Yang mengejutkan, tiket musiman harganya tidak terlalu mahal dan klub memiliki hubungan yang baik dengan para penggemar di sana.

Coba bandingkan dengan Glasgow Rangers F.C di Skotlandia, sebuah klub dengan manajemen yang sangat kacau hingga akhirnya sempat dipaksa meninggalkan Liga Premier Skotlandia, dimana mereka mendominasi bersama rival Celtic selama beberapa dekade. Mereka harus memulai dari nol di divisi empat. Sebagai bentuk reaksi, para penggemar memulai Ranger Supporters Trust, sebuah grup yang berusaha memenangkan kepemilikan klub. Kini, mereka memiliki suara dalam manajemen klub dan mengaku baru akhir-akhir ini memblok para pemilik saham yang berusaha menggunakan stadion klub sebagai alat jaminan peminjaman uang. "Supporters Trust memberikan penggemar platform untuk menyuarakan kekhawatiran," kata Derek Johnston dari Rangers Supporters Trust. "RST menanyakan aspirasi anggota sebelum pertemuan umum tahunan Rangers FC dilangsungkan. Ini memberikan anggota kami kesempatan untuk terlibat dalam setiap keputusan secara demokratis."

Mau bukti bahwa metode ini bisa berhasil? Coba liat Portsmouth F.C yang sempat bangkrut dua kali akibat pemiliknya sebelum dibeli oleh Supporters Trust di April 2013. September 2014, klub ini bebas dari utang sepeserpun berkat patungan para suporter.

Sudah banyak cerita sukses tentang penggemar yang berjuang melawan korporatisasi olahraga kesayangan mereka. Kurang lebih inilah tujuan dari AMF: mengambil alih kendali olahraga dan klub bagi para penggemar. Biarpun mungkin banyak grup penggemar yang tidak berhubungan dengan gerakan ini secara formal, secara mental rasanya mereka sehati.

Kini, STAND dan beberapa kelompok lainnya tengah membentuk Fan Action Network yang akan memiliki "tujuan yang lebih luas," kata Biss.

Mereka terus berusaha melawan ketidakadilan dari kacamata penggemar, meneruskan semangat AMF. Namun mereka juga realistis. "Kami juga bersalah karena sempat kelewat serius soal ini, menggerutu tentang tiket nonton Premier League dan jersey klub untuk anak yang mahal [Rp 1 juta]," kata Biss. "Tapi jujur, kami sudah legowo tentang banyak perubahan yang menimpa sepakbola—kami hanya memperjuangkan pertarungan-pertarungan kecil saja sekarang."