Sejarah kelahiran vibrator seks untuk mengatasi masalah orgasme perempuan
Ilustrasi oleh Vivian Shih
Seks

Vibrator Awalnya Tercipta untuk Mengatasi Histeria Pada Perempuan

Perempuan di Abad 19 sering dituduh berpura-pura sakit supaya bisa berorgasme. Dokter lalu menciptakan alat untuk "mengatasi" masalah itu, yang justru jadi alat bantu seks populer.
08 Agustus 2020, 6:15am

Perempuan era Victoria selalu diidentikkan dengan korset dan sulam-menyulam. Mereka terkenal mementingkan keindahan tubuh dan penampilan menarik. Akan tetapi, ada satu hal lagi yang mungkin jarang diketahui. Mereka juga suka masturbasi.

Pada masa itu, perempuan kelas atas dan menengah harus ke dokter untuk memuaskan hasrat. Kehadiran vibrator mempermudah segalanya, terutama setelah listrik mengaliri rumah-rumah mereka. Namun, alat bantu seks itu diciptakan bukan untuk menyenangkan perempuan, melainkan untuk “mengobati” kelainan yang dialami oleh mereka. Di masa lalu, perempuan dianggap sedang sakit ketika gairah seksualnya meningkat.

Vibrator sudah ada jauh sebelum terciptanya peralatan elektronik. Seperti yang dijelaskan Rachel Maines dalam buku The Technology of Orgasm: “Hysteria,” the Vibrator, and Women’s Satisfaction, vibrator listrik adalah alat elektronik rumah tangga kelima yang ditemukan di dunia, “mendahului vacuum cleaner listrik selama sembilan tahun dan wajan listrik selama lebih dari satu dekade. Fakta ini mungkin bisa mencerminkan prioritas konsumen.”

“Histeria” dikenal sebagai penyakit sejak Yunani Kuno. Dokter Inggris Havelock Ellis memperkirakan dalam “The Sexual Impulse in Women”, hampir 75 persen perempuan mengidap penyakit ini. Gejalanya cukup bervariasi, mulai dari sakit kepala, sesak napas hingga lekas marah.

Hampir semua perilaku perempuan di masa lalu dianggap sebagai histeria. Yang namanya penyakit pasti harus diobati, jadi para dokter berusaha menyembuhkan histeria dengan memijat panggul pasien. Dengan demikian, mereka merangsang klitoris bukan untuk kepentingan seksual sama sekali.

sejarah vibrator

Orgasme juga merupakan hal tabu bagi perempuan Victoria. Pasien disebut-sebut mengalami “paroxysm histeris” ketika mereka terangsang selama dipijat. Padahal sebenarnya perempuan sudah mencapai orgasme. Menurut Rachel, para dokter “bersikukuh perempuan hanya bisa menerima rangsangan seksual lewat penetrasi. Itulah mengapa tampon dan spekulum sempat lebih kontroversial daripada vibrator di kalangan medis.” Perempuan pasti sedang “histeria” jika menginginkan klitorisnya distimulasi. Dokter harus merangsangnya sampai kondisi mereka kembali normal.

Bagi tabib Yunani Kuno Arateus dari Cappadocia, rahim bagaikan “binatang buas” yang akan menyiksa perempuan jika tidak segera dijinakkan. Perempuan dengan kuat mengoleskan minyak beraroma manis di sekitar klitoris. Kemungkinan cara ini bisa memberikan efek menenangkan pada perempuan.

Penyebab histeria terus berubah seiring berjalannya waktu. Namun, histeria akibat nafsu seks sering dikaitkan dengan hal-hal gaib. Vagina adalah pintu masuk setan, jadi tak heran kalau perempuan sering kesurupan. Rachel menjelaskan para tabib percaya perempuan bisa sembuh dari histeria jika mereka menikah, sering berkuda, atau menerima fingering dari bidan. Lalu pada era Victoria, histeria cenderung menyerang perempuan intelektual dan berpikiran modern, ujar peneliti Greer Theus dari Washington and Lee University. Perempuan tak lagi bersifat lemah lembut karena terlalu hobi menjahit dan semakin melek huruf. Untung saja, ada yang namanya pelvic douche. Histeria langsung musnah setelah paha dalam perempuan disemprot air.

pelvic douche

Setelah diusulkan dokter, pelvic douche dipasang di seluruh pemandian umum Eropa dan Amerika pada pertengahan 1800-an. Perempuan memadati pemandian untuk mengobati penyakitnya. R.J. Lane pernah mengunjungi tempat spa yang menyediakan pelvic douche di Inggris.

Dia menceritakan sementara pengunjung lelaki takut dengan benda ini, para perempuan justru “sering menyatakan betapa gembira dan semangatnya mereka setelah keluar dari douche. Seolah-olah habis minum sampanye, katanya.”

Lama-kelamaan, dokter lelah menangani pasien yang sedang histeria. Tangan dan jari mereka kram karena keseringan memijat panggul perempuan. “Dokter tampaknya tak lagi tertarik membantu perempuan berorgasme,” tulis Rachel. Mereka melakukan segalanya untuk mempercepat paroxysm histeris. Pertama-tama mereka menggunakan engkol tangan, lalu menganjurkan roda air mini yang dipasang ke wastafel. Tapi sayangnya, benda kedua tak bertahan lama karena penggunaan air mulai diukur.

Vibrator bertenaga uap mengubah segalanya. Dokter Amerika bernama George Taylor mematenkan “Manipulator” pada 1869. “Dia memasarkannya ke tempat spa dan dokter yang memiliki ruangan luas agar produknya yang besar dan berat bisa masuk,” lanjut Rachel. Cara kerjanya relatif mudah. Pasien akan duduk di atas meja berbantal, dan roda di bagian tengah akan bergetar untuk merangsang klitoris.

Dokter lama-lama muak juga menghidupkan vibrator dengan batu bara. Pada akhirnya, terciptalah vibrator bertenaga baterai pada awal 1880-an. Sang penemu Mortimer Granville menekankan benda ini tidak akan digunakan pada klitoris. “Saya tak mau mengobati perempuan dengan perkusi, karena saya tidak ingin ditipu dan membawa orang lain ke jalan sesat oleh kondisi histeris atau fenomena penyakit mimesis yang aneh ini,” tulisnya pada 1883.

Dia menuduh pasien perempuan berpura-pura sakit biar bisa berorgasme.

Baterai vibratornya seberat 18 kilogram, tapi benda ini dianggap portabel. Baterai semakin mengecil seiring perkembangan zaman, sehingga perempuan bisa membeli dan menggunakannya sendiri dirumah masing-masing. Rachel membeberkan bahwa pada 1918, toserba Sears di Amerika mengiklankan mesin yang bisa dipasang ke vibrator, serta berfungsi untuk “mengaduk, mengocok, menggiling, menggosok dan mengoperasikan kipas”.

Menurut toko mainan seks Good Vibrations, vibrator secara terang-terangan diiklankan di majalah perempuan hingga 1920-an. Antique Vibrator Museum menerangkan “vibrator menjadi alat bantu seks yang tidak dapat dihindari begitu muncul di film-film 1920-an.

Mungkin itulah alasannya kenapa iklan vibrator perlahan menghilang dari peredaran.” Rachel mencatat vibrator umum ditemukan ketika industri mainan seks booming pada era 80-an. Dan sejak itulah, mainan seks menjadi benda yang tak lagi asing di kalangan orang dewasa.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.