Iklan
Pemanasan Global

Bumi Sedang Panas Banget, Kerang Mati Terpanggang di Cangkangnya Sendiri

Menurut seorang peneliti kelautan, sedang terjadi kematian kerang remis massal terparah selama 15 tahun terakhir.

oleh Jelisa Castrodale
09 Juli 2019, 9:51am

Ilustrasi kerang resmi dari Getty Images 

Saat suhu udara mulai melebihi 30 derajat celcius, kamu akan segera teringat pemeo yang dulu diucapkan buat guyon: saking panasnya suhu di luar, kamu bisa masak telur di trotoar dengan panas matahari. Sebenarnya pemeo itu ngawur sih. Kalau menurut Perpustakaan Kongres AS, butuh suhu 70 celcius memasak telur. Sementara suhu trotoar paling panas rata-rata hanya mencapai 62,7 celcius. Cuman nih, kalau merujuk sama peristiwa alam yang sedang terjadi ternyata masak pakai suhu panas alami ada benarnya juga.

Jackie Sones, peneliti di Bodega Marine Reserve di California, Amerika Serikat, mencatat terjadi peningkatan peristiwa remis mati terpanggang di dalam kerangnya sendiri secara drastis. Penyebabnya diduga kuat suhu panas yang sanggup memasak mahluk itu saat melekat pada batu di teluk.

Pada pertengahan Juni 2019, Jackie berada dekat Teluk Bodega ketika dia menyaksikan jumlah signifikan kerang remis yang terbuka saat air pasang. Penghuninya sudah mati terkukus dalam kerangnya sendiri. Sones mendokumentasi kematian remis massal ini menjadi tiga laporan berjudul “Terlalu Panas” di blog pribadinya, Sejarah Alami Teluk Bodega.

Sones percaya kejadian ini merupakan kematian massal paling gawat yang pernah dilihatnya selama 15 tahun terakhir.

"Menurut survei, rata-rata 30 persen remis di lapisan permukaan Bumi mati, akibat cuaca panas," kata Sones kepada MUNCHIES saat dihubungi melalui surel. "Resmi di beberapa lokasi mengalami angka kematian 5 persen, sedangkan lokasi-lokasi lain mengalami angka kematian [lebih dari] 70 persen. Pada 2004, angka kematian rata-rata hanya sekitar 10 persen. Jadi bisa dibilang peristiwa 2019 ini jauh lebih parah."

Menurut Bay Nature, pada pertengahan Juni 2019—saat Jackie pertama kali melihat kematian remis massal—suhu udara di kawasan pantai mencapai 23,9 celcius, tidak ada angin, dan air laut sedang surut. Remis-remis di daerah tersebut menjadi kepanasan karena tidak ada angin, sehingga suhu di dalam kerang mencapai 40,5 celcius. "Hewan tersebut seperti sedang dimasak di dalam kerangnya," kata Brian Helmuth selaku ahli ekologi laut di Northeastern University.

Jackie menegaskan kematian remis ini akan mempengaruhi ekosistem teluk. "Remis merupakan spesies ‘dasar,’ yang menyediakan habitat bagi keragaman hewan-hewan lain,” katanya. "Meskipun tidak semua remis mati, hilangnya sebagian remis akan berdampak negatif terhadap hewan-hewan yang hidup di lapisan bawah."

Para peneliti menduga peristiwa serupa pada 2004 disebabkan suhu tinggi pada pagi hari dan air surut pada malam hari, menimbulkan remis terpapar panas berjam-jam lebih lama dari biasanya. Jurnal Bay Nature menegaskan di California, suhu udara terpanas sepanjang tahun cenderung bertepatan dengan surutnya air laut pada malam hari atau subuh. Sayangnya, yang dulu tergolong ‘normal’ di alam sekarang tidak lagi bisa dianggap normal akibat perubahan iklim.

"Para ilmuwan iklim percaya frekuensi dan durasi gelombang panas akan naik," tulis Jackie. "Berdasarkan sudut pandang tersebut, meskipun masa depan tidak dapat diprediksi, sangat penting untuk mendokumentasi cuaca ekstrim serta dampaknya."

Artinya, kalau pemanasan global memburuk, kamu benar-benar bisa masak telur cukup pakai sinar matahari. Tapi belum tentu itu kabar baik kan?!

Maybe you will be able to cook eggs on the sidewalk, after all. But that’s probably not a good thing.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES