Iklan
Dokumenter VICE

Tinju Tangan Kosong Digadang-Gadang Bakal Makin Populer dan Saingi MMA

Kejuaraan Bare-Knuckle Fighting berusaha memperoleh lisensi tayangan TV. VICE bikin dokumenter merekam perkembangan kancah tinju tangan kosong.

oleh Ben Anderson; Diterjemahkan oleh Annisa Nurul Aziza
17 Juli 2019, 4:41am

Semua foto oleh VICE News

Setelah dilarang pemerintah Amerika Serikat sejak 1889, "bare-knuckle boxing" atau tinju tanpa sarung tangan akhirnya bangkit kembali. Pertandingan ini tampaknya akan terus digelar.

Kejuaraan Bare Knuckle Fighting (BKFC) yang keenam dilaksanakan pada 22 Juni lalu. BKFC6 menjadi acara terbesar yang pernah diselenggarakan karena dihadiri oleh mantan juara World Boxing Paulie Malignaggi yang sudah lama pensiun. Atlet, yang mampu mempertahankan gelarnya sebanyak dua kali, bertarung melawan Artem Lobov, veteran UFC dan atlet tinju tangan kosong.

Kompetisi di Tampa tersebut menarik lebih dari 4.000 penonton. Promotor David Feldman mengklaim ada sekitar 120.000-180.000 orang yang membayar $39,99 (setara Rp557 ribu) untuk menonton siaran langsungnya. Itu berarti penyelenggara bisa meraup keuntungan sebesar 5-7 juta Dolar (Rp69-97 miliar) hanya dari siaran langsung saja.

Kalau memang benar, jumlahnya tentu sangat mengesankan untuk sekelas tontonan berdarah-darah seperti itu.

Feldman sering mendapatkan penolakan, jadi wajar saja jika seandainya dia lebih pilih menyerah. Tapi nyatanya tidak. "Mengubah persepsi orang itu yang paling sulit dilakukan… Sangat biadab!" ujarnya. "Saya mengajukan proposal ke 28 negara bagian, dan semuanya menolak."

Biarpun begitu, dia mengumumkan akan menggelar BKFC7 di Mississippi. Feldman optimis masa depan tinju tangan kosong cerah. "Saya yakin acaranya akan tayang di TV dalam satu tahun ke depan. Tiga tahun lagi, kami akan bersaing dengan semua orang."

Tujuannya cuma satu: menuruti kemauan penggemar. UFC berbeda dari ajang kejuaraan tinju. Bisnis ini jauh lebih menguntungkan dan bengis karena penuh aksi. Pertarungan tinju biasa terlalu sering diadakan dan sudah banyak sekali atlet yang keluar sebagai juara. Acaranya pun sering berakhir kacau. Sementara itu, kebanyakan kejuaraan UFC dimenangkan pegulat profesional. Petarung akan mengunci kaki, lengan atau leher lawan sampai mereka menyerah.

BKFC sama sekali tak seperti itu. Petarung dibebaskan meninju sesuka hati. Mereka akan menerima bonus untuk setiap aksinya, dan terancam dipotong gaji jika tidak mempertahankan jurus. Apabila petarung hanya tarik-tarikan tanpa menjotos satu sama lain selama tiga detik, wasit akan melerai dan menyuruh mereka berantem lagi.

"Kamu akan ketagihan nonton kalau sudah ngerti aturan pertarungannya," kata Feldman. "Selain menyaksikan aksinya, kamu bisa mendengar ini," lanjutnya sambil menonjok tangan kirinya sebanyak tiga kali, memperagakan suara bogem keras. "Saya sendiri bahkan bertahun-tahun memperjuangkan kebangkitannya. Karena pertandingan ini memang keren abis."

Tonton dokumenter VICE soal topik tinju tangan kosong di tautan atas.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.