Iklan
Bisnis Restoran

Restoran Berbintang Michelin di Lokasi Paling Terpencil Sedunia Terpaksa Tutup

Kabar buruk dari Fäviken ini sedih, tapi tidak terlalu mengejutkan. Tempatnya emang jauh dari peradaban euy...

oleh Jelisa Castrodale
10 Mei 2019, 7:45am

Foto oleh Getty Images 

Fäviken, restoran dari Swedia dikelilingi lebih dari 800 juta meter persegi lahan pertanian, selama beberapa tahun terakhir dijuluki restoran paling terisolir di dunia. Hebatnya lagi, walau terpencil, Fäviken sukses meraih bintang Michelin, penghargaan tertinggi bagi pengusaha kuliner manapun. Sayangnya, gelar tersebut akan jatuh ke restoran lain, karena sang koki, Magnus Nilsson, baru saja mengumumkan niatnya menutup Fäviken akhir 2019.

"Dari dulu saya tahu Fäviken takkan bertahan selama-selamanya," katanya kepada Los Angeles Times. "Memang begitulah takdir semua restoran dan bisnis."

Nilsson separuh benar, tapi keputusannya menutup Fäviken tetap mengejutkan bagi pecinta kuliner sedunia. Sebab restoran ini sangat laris walaupun mencapai lokasinya butuh perjuangan tersendiri.

Pada 1 April lalu, Fäviken sudah menerima pesanan untuk sembilan bulan ke depan. Dalam beberapa jam saja, setiap tempat duduk sudah direservasi. (Hanya tersedia 24 tempat duduk di restoran ini, tapi jika seandainya tersedia sepuluh kali lipatnya itu, semuanya juga pasti akan tetap laris.) Menurut Nilsson, ini yang diinginkannya sebelum pamit dengan Fäviken.

Sepuluh tahun terakhir, Nilsson dan Fäviken menerima dua bintang Michelin, tampil di The Mind of a Chef dan Chef’s Table, menulis tiga buku masak laris, dan menjadi fotografer terkemuka. Sulit untuk diungkapkan betapa berbakatnya koki ini. Nilsson juga sosok yang amat telaten dan fokus.

Dia butuh lebih dari tiga tahun untuk menyusun buku masaknya The Nordic Cookbook, dan membawanya ke tujuh negara Nordik–dan Nilsson mengambil semua fotonya sendiri.

"Saya menghitung ada sekitar 50 resep dalam buku ini yang akan sulit ditiru," ujarnya kepada VICE.

Lantas, mengapa Nilsson memutuskan menutup Fäviken? Menurut Nilsson, memang sudah waktunya tutup saja.

"Dari segi bisnis, menutup restoran yang laris bukan keputusan yang bijak," katanya. “Namun, apa alasan restoran seperti Fäviken dibangun? Karena sepenuhnya didorong hasrat [...] Untuk pertama kalinya, saya bangun tidur dan malas kerja."

Dalam sebuah postingan di Instagram, dia mulai merasa lelah mengelola restoran ini. Sehingga, setelah Fäviken tutup, Nilsson siap untuk melakuka banyak hal lain.

"Saya akan menghabiskan waktu bersama keluarga, pergi memancing, menata taman saya, menjaga kesehatan fisik dan mental saya," tuturnya.

Kabar baiknya, kita akan punya restoran enak baru di lokasi paling terpencil planet ini. Mari mulai mencari kandidatnya sama-sama.

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES