Iklan
Gerakan Hijrah Indonesia

Mengikuti Lika-Liku Proses Taaruf yang Digandrungi Anak Muda Indonesia

Ratusan ribu orang berhasrat menikah tanpa pacaran, agar tak melanggar agama. Situs untuk memuluskan niat itu bermunculan. Bagaimana cara pasangan menemukan kecocokan?

oleh Adi Renaldi
03 Juni 2019, 6:44am

Foto oleh Ridho Nur Imansyah (Flickr/ Creative Commons License).

Bagi Adji Mubarok, tidak ada jalan lain menuju pelaminan selain lewat taaruf. Saat memutuskan berhijrah pada 2010, pacaran tak lagi ada dalam kehidupannya. Terakhir kalinya dia pacaran adalah saat kelas 3 SMA. Itupun, seingatnya, cuma tiga bulan.

Dia pindah ke Yogyakarta dari tempat asalnya di Tangerang begitu lulus SMA. Sejak itu pula dia memutuskan hijrah, atau kembali ke agama. Pada 2016, setelah lulus kuliah, dia memutuskan mendatangi seorang ustaz. Niatnya satu, minta bantuan buat dicarikan pasangan.

Adji lantas mengutarakan kriteria pasangan idamannya kepada sang ustaz. Dari situlah Adji bertemu Fani, yang kini menjadi istrinya. Mereka menikah awal 2017. Sepanjang dua tahun menikah, Adji mengaku tak pernah menemui masalah rumah tangga berarti.

"Buat saya tidak ada metode lain ketika akan menikah selain taaruf," ungkap Adji, yang kini berusia 26 tahun.

Adji menepis anggapan bila taaruf adalah jalan menikah secara instan. Tidak semudah itu, katanya. Dia menjalani satu tahun untuk mengenal pasangannya. Selama taaruf, dia dilarang keluar berdua tanpa penjagaan pihak ketiga. Komunikasi sangat dibatasi. Merayu pasangan juga dilarang.

"Ini yang ingin saya luruskan, taaruf itu bukan serta merta ketemu calon pasangan dan lantas menikah," kata lulusan hukum bisnis syariah dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga itu.

Selain berprofesi sebagai marketing properti syariah, Adji juga aktif menulis konten untuk Indonesia Tanpa Pacaran, sebuah komunitas yang kini memiliki jumlah pengikut hampir 1 juta di Instagram. Adji menilai gerakan hijrah dan taaruf telah menemukan momentumnya beberapa tahun belakangan terutama di kota besar. "Antusiasme anak muda buat belajar metode taaruf sejauh ini bagus," kata Adji.

Salah satu wadah buat para anak muda yang ingin menjalani taaruf adalah Rumah Taaruf, yang dibuat Tri Wahyu Nugroho. Pria 34 tahun tersebut membuat situs rumahtaaruf.com sejak 2014. Pengikut di Instagram baru 7.000 akun, namun dia mengklaim telah memediasi lebih dari 330.000 orang dalam proses taaruf.

Rumah Taaruf berawal dari sebuah sub-forum di situs myquran.com pada 2010. Situs tersebut kini telah non-aktif. Di sub-forum tersebut para pengguna bisa bertukar biodata. Jika cocok, kedua belah pihak bisa kopi darat. Wahyu melihat peluang tersebut, maka didirikanlah Rumah Taaruf, semata demi membuat wadah yang sesuai ajaran agama.

Metodenya masih sama. Pengguna mengunggah biodata di situs. Jika seorang pria tertarik dengan perempuan, sang pria bisa menghubungi admin untuk mengatur jadwal kopi darat. Wahyu mengatakan pertemuan offline tersebut biasanya diadakan di masjid agung di kota si perempuan, dengan pendampingan dari pihak Rumah Taaruf. Dia tak memungut biaya sepeserpun dari proses mediasi tersebut. Setelah kedua calon merasa cocok, mereka bisa memutuskan untuk bertemu dengan keluarga masing-masing. Sejak 2014, sudah 66 pasangan menikah berkat jasa Rumah Taaruf, kata Wahyu. Dalam sehari dia pernah memediasi empat pasangan.

"Tidak semua yang kami mediasi berhasil ke jenjang pernikahan,” kata Wahyu. "Kebanyakan dari pihak pria yang tidak merasa cocok. Kami kira penyebab utamanya adalah soal fisik. Di foto menarik, tapi ternyata tidak sesuai ekspektasi. Faktor kedua mungkin dari pihak orang tua yang kurang merasa cocok."

Apa yang dilakukan Rumah Taaruf sebenarnya tak ubahnya dengan biro jodoh. Rumah Taaruf juga tak sendirian, di Instagram setiap kali mengetik kata taaruf di kolom pencarian, niscaya akan muncul puluhan akun biro jodoh yang mengatasnamakan taaruf. Wahyu mengakui hal itu.

Di situsnya dia tak mematok batas usia pengguna agar bisa bergabung. Namun dalam catatan Wahyu, anggota termuda berusia 19 tahun. Yang paling tua 55 tahun. Ketika ditanya soal pernikahan anak, Wahyu cuma berkata singkat, “Kami tetap concern ke UU perkawinan.”

Taaruf nampaknya masih menuai perdebatan dalam ruang diskusi publik. Shanaz Makrufa, pernah menulis di Magdalene, bila taaruf tak menyelesaikan permasalahan mendasar semata demi melegalkan seks. Permasalahan tersebut, tulis Shanaz, termasuk pendidikan seks dini, kesiapan alat reproduksi, dan kesiapan mental, yang selama ini tak diberi tempat untuk dikaji.


Tonton dokumenter VICE soal meningkatnya warga Latin di AS yang memeluk agama Islam:


Sementara itu Elma Adisya seorang jurnalis yang juga menulis di Magdalene, mengatakan tren taaruf tak bisa lepas dari fenomena pasangan selebriti muda yang mempromosikan tentang hijrah dan nikah muda kian banyak bermunculan seiring dengan meningkatnya konservatisme di Indonesia. Hal ini, tulis Elma, juga akan mengakibatkan munculnya politik anti-kesetaraan, di mana moral perempuan dikontrol sedemikian rupa, menimbulkan citra bahwa perempuan baik adalah mereka yang menikah muda.

Tren hijrah di media sosial, umumnya dibalut dengan gaya khas anak muda, dengan grafis pop dan kutipan kekinian berbau agama yang mudah dicerna. Yang tertarik, tentu saja, adalah remaja tanggung dan mereka yang baru mau mengeksplorasi diri di bangku kuliah.

Gerakan hijrah, termasuk taaruf, seperti menemukan momentumnya berbarengan dengan semangat populisme agama menjelang Pilpres 2014. Saat itu deretan selebriti berbondong-bondong ikut gerakan hijrah. Misalnya saja mantan VJ MTV Arie K. Untung, aktor Dude Herlino, aktor Mario Irwinsyah, dan banyak lagi.

Bibit gerakan menolak pacaran dan mendukung nikah muda lewat taaruf sebenarnya sudah muncul sejak lama, ditandai dengan masuknya Lembaga Dakwah Kampus lewat kelompok Rohani Islam di masjid-masjid sekolah. Pada 2017 di sebuah SMK di Brebes, Jawa Tengah misalnya, seorang guru ketika berpidato di depan murid-muridnya, dengan lantang meminta mereka untuk memutuskan pacarnya.

Pandangan negatif terhadap pacaran, juga dikhawatirkan menimbulkan persekusi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Indonesia awal tahun ini pernah menggelar survei di sekitaran Kota Depok, yang menemukan adanya peningkatan sweeping atas nama Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran terhadap pasangan yang tengah berdua-duaan. Hal tersebut telah dibantah oleh Indonesia Tanpa Pacaran, yang mengatakan pihaknya tidak memiliki cabang di Depok, dan tidak pernah mengampanyekan kekerasan dalam dakwahnya.

Sosiolog dari Universitas Padjajaran, Yusar Muljadji kepada VICE mengatakan gerakan nikah muda ini cenderung menyederhanakan masalah sosial Abad 21 yang sebenarnya rumit, memakai slogan-slogan menarik dan solusi yang tampaknya mudah: menikah. Padahal kasus pernikahan anak, kemiskinan, dan perceraian masih tinggi.

Dosen pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Munirul Ikhwan, saat diwawancarai Tirto.id, sempat mengkhawatirkan tren gerakan hijrah ini. Dia mengatakan doktrin hijrah gampang menjangkiti kelas menengah urban yang frustrasi dan haus inspirasi kesalehan. Keluhan serupa muncul dari dosen studi Islam interdisipliner UIN Sunan Kalijaga, Najib Kailani. Dia mengkhawatirkan menguatnya konservatisme, yang dibalut dakwah ringan, namun tak jarang menolak hukum lain selain Islam.

"Itu bukan berlaku bagi nonmuslim, tapi juga muslim sendiri karena [mereka cenderung berpikir] yang benar 'Islam’ saya," kata Najib.