Iklan
machismo

Saya Melakukan Aksi Klise yang Cowok Banget untuk Menguji Kenaikan Testosteron

Mulai dari makan telur mentah, bikin tato, nembak pistol, dan ganti ban mobil. Semuanya demi memahami arti jadi macho.

oleh Justine Caffier
18 Februari 2018, 9:00am

Sebagai seseorang yang menggemari ideologi progresif, saya sudah terbiasa dipertanyakan maskulinitasnya. Bentuk antagonisme macam ini bukanlah hal baru. Sepanjang sejarah manusia, konsep (cemen) kebaikan hati, empati, dan pengampunan sering bertubrukan dengan naluri dasar laki-laki. Dan biarpun politik sudah lama mengklaim kejantanan sebagai aspek dasar dari platform tersebut, machismo kini kembali mengalami kebangkitan di era meme dan Donald Trump—atau di Indonesia, macam Prabowo.

Biarpun ejekan terhadap karakter liberal macam “pajama boy” (2013) bukanlah hal baru, terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS menjadi pemicu bangkitnya sifat sombong yang lebay, dan toxic masculinity yang agresif di dalam masyarakat.

Kaum alt-right, terutama, nampaknya terobsesi membuktikan kejantanannya sendiri dan membantah kejantanan lawan-lawannya. Penampakan sifat maskulin ini terlihat dalam beberapa bentuk yang berbeda, misalnya mendukung penindasan perempuan lewat “white sharia,” pamer koleksi senjata, dan sebagainya. Namun ketika dilihat lebih dalam, standar maskulinitas alt-right sebetulnya membingungkan, kadang saling bertabrakan satu sama lain. Misalnya dua postingan berbeda dari forum komunitas alt-right : The_Donald menyebut bahwa “lelaki sejati memegang payung mereka sendiri,” dan satunya mengatakan “lelaki sejati tidak menggunakan payung.”

Bahasa yang digunakan untuk mempromosikan machismo macam ini juga kadang berbelit-belit dan sulit dipahami. Seiring kata ejekan “cuck” sudah tidak populer, dan SJW memaksa orang untuk tidak mengatakan “faggot” di depan umum, sebuah istilah baru telah muncul: “soy boy.” Kata peyoratif ini digunakan berdasarkan pemahaman yang sudah dibantah oleh ilmu pengetahuan: bahwa konsumsi produk kedelai membuat lelaki lebih feminin karena mengurangi testosteron dan asumsi tidak berdasar bahwa kaum liberal hobi mengkonsumsi kedelai.

Ini semua bikin capek gak sih? Seberapa banyak waktu yang harus didedikasikan untuk menulis panduan tentang apa yang membuat cowok itu cowok dan apa yang tidak?

Saya memutuskan untuk mencoba mengalami satu hari penuh kelaki-lakian sambil menguji tingkat testosteron—metrik maskulinitas yang sepertinya paling dipusingkan banyak orang—sebelum dan sesudah untuk melihat dampaknya.

Setelah surfing di internet dan mengumpulkan daftar aktivitas klise dan sikap dari cowok-cowok alt-right dan pojok-pojok macho lainnya di dunia maya, saya menulis rencana untuk menguji kejantanan.

Suatu pagi ketika jenggot saya masih pendek-pendek tapi sudah lumayan maskulin, saya mengambil sampel saliva “sebelum” dan pergi ke kantor.

Saya memulai hari dengan mengunjungi gym kompleks apartemen, di mana saya mengangkat beban seberat mungkin, sambil memastikan untuk mengeluarkan suara tanda upaya saya mengencangkan otot. Untungnya gym sedang kosong ketika saya di sana, karena kalau ada yang memprotes gerangan, saya akan terpaksa berlaku alpha dan adu tatap dengan seseorang hingga mereka menyerah.

Biarpun begitu, selain menunjukkan agresifitas sebagai bentuk reaksi, saya berjanji untuk tidak mengganggu orang lain dengan pengalaman saya, jadi catcalling dan bentuk pelecehan lainnnya sudah pasti di luar batas.

Begitu sampai di rumah dan hanya bersih-bersih dikit (untuk menjaga aroma keringat), saya melipat dasi panjang. Kemudian saya mencopot dasi karena saya hanya mendemonstrasikan kemampuan saya. Hanya orang bego yang tampil kelewat rapi padahal tidak perlu. Lalu saya mengenakan kostum saya hari itu: denim hitam, sepatu boot biker, kemeja flannel, dan kaos dalam berleher rendah yang menampilkan rambut dada. Mungkin kamu mikir, bukannya mengkhawatirkan pakaian itu antitesis kejantanan? Ya bodo amat. Saya gak peduli apa pendapatmu, dan cara pikir saya lebih jantan daripada kekhawatiranmu.

Sarapan saya mencakup telur mentah, minuman energi Monster, dan dendeng sapi—tapi sebetulnya dendeng babi. Tapi saya emang sengaja kok yee, kan cowok sejati gak mau mengakui kesalahan.

Berikutnya adalah kegiatan klasik yang berhubungan dengan otomotif. Bukan cowok kalo belum jadi anak mobil. Mobil saya sebetulnya baik-baik saja dan tidak perlu diganti olinya, jadi saya dongkrak mobil dan mencopot salah satu bannya, dan memasangnya kembali hingga tangan saya kotor. Puas, saya menyalakan cerutu dan menyetir ke tujuan selanjutnya, sambil memastikan untuk terus menginjak gas di setiap lampu merah.

Saya menghabiskan dua setengah jam berikutnya di kedai tato untuk ditato gambar tengkorak di tangan oleh seorang seniman tato maskulin. Desain tatonya sudah dibuat untuk saya secara spesifik. Seiring jarum menusuk kulit saya berkali-kali, saya memastikan wajah saya tidak bereaksi dan menunjukkan rasa sakit.

Begitu selesai, saya pergi menuju bar untuk menonton pertandingan olahraga sambil minum bir. Sayangnya, bar yang saya kunjungi tidak memiliki TV yang sedang menayangkan pertandingan olahraga. Karena ada larangan kode lelaki untuk bertanya ke orang lain, saya berpindah tempat tiga kali hingga menemukan tempat yang menyajikan alkohol dan menayangkan “pertandingan olahraga besar.” Saya memesan bir murni—tanpa rasa macam-macam—dan memaksa diri menonton pertandingan basket kampus. Setelah beberapa menit menonton, saya menghabiskan bir—dan secara jantan, meninggalkan bar.

Tujuan berikutnya adalah makan malam steak mewah dengan hidangan sampingan kentang, satu-satunya jenis sayuran yang paling cowok. Saya meminum whiski dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang potongan daging. Saya melahapnya sebuas mungkin.

Mengakhiri makan malam dengan sendawa besar, saya bergegas ke tujuan akhir malam itu: lapangan tembak. Setelah pamer pengalaman dengan penjaga kasir, saya menuju lapangan dan menembak beberapa ronde. Postur saya sempurna, tapi saya gagal menembak target. Ya gitulah.

Sesampainya di rumah, saya mengakhiri hari jantan saya dengan meminta teman serumah menonjok saya sebelum tidur. Kurang cowok apalagi coba?

Keesokan paginya, saya mengambil sampel saliva “setelah” dan mengirim kedua sampel ke laboratorium. Setelah itu, saya hanya bisa pasrah menunggu hasilnya.

Hasilnya datang dua minggu kemudian, dikirim oleh perusahaan Everylwell yang menjelaskan hasilnya. Ternyata, aktivitas maskulin justru menurunkan tingkat testosteron saya. Cakupan “normal” bagi seorang lelaki dewasa sehat adalah 49.0 - 185.0 picogram testosteron per milligram, dan tentunya dipengaruhi oleh faktor diet, olahraga, genetik, tingkat stres dan lainnya. Hanya dalam 24 jam, tingkat testosteron saya anjlok dari 65.0 ke 54.0.

Belajar dari pengalaman ini, satu-satunya kesimpulan yang bisa saya buat adalah banyak cowok yang terobsesi dengan maskulinitas bukan hanya bersikap brengsek—tapi stres yang dihasilkan dari obsesi mereka ini mungkin justru bersifat counterproductive terhadap tujuan mereka.

Ketua medis EverlyWell, Dr. Marra Francis, MD menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki fluktuasi harian produksi testosteron antara 5-12 persen dan penurunan testosteron saya masih berada di cakupan biologis tersebut. Dr. Francis mengatakan bahwa memang ada cara untuk meningkatkan testosteron seseorang, dan hanya satu aktivitas yang saya lakukan memang mengarah ke situ. Untuk menyebabkan peningkatan testosteron secara signifikan, saya harus menghabiskan berbulan-bulan angkat beban dan mengubah total pola makan. Tapi kemudian Francis menambahkan, kecuali kamu mengejar bentuk fisik seorang power lifter, tidak ada alasan untuk mengubah tingkat testosteron yang sudah berada di wilayah normal.

Jadi sok aja teman-teman lelaki. Menangislah di bioskop, belajarlah menjahit, dan terus minum susu kedelai. Ini tidak akan memiliki dampak besar ke tingkat kejantananmu. Tapi kalaupun iya, siapa juga yang peduli? Menjadi lelaki itu berhubungan dengan karakter, bukan aktivitas dangkal atau tingkat hormon semata.