Kerja Otak

Ngerasa Lagi Lemot? Optimalkan Kinerja Otakmu Lewat Lima Langkah Berikut

Otak dapat dipengaruhi rangsangan perilaku kita setiap hari. Salah satu tips supaya kalian tak hilang konsentrasi dan mudah mengingat: jangan keseringan googling.

oleh Grant Stoddard
28 Februari 2019, 9:21am

Ilustrasi kinerja otak oleh Victor Habbick Visions / Getty 

Berbeda dari otot bicep atau quadricep, manusia tidak bisa segera merasakan momen otak gagal berfungsi dengan baik. Kita baru menyadari ada yang salah sama otak, ketika kita tidak bisa mengingat sebuah kata yang lazim, nyasar di tempat yang sering dikunjungi, atau menangis kesal karena tidak ingat caranya mengatur fungsi tethering di ponsel. (Saya baru saja mengalami masalah kayak gitu).

Otak memang bukan otot, tetapi fungsinya dapat dipengaruhi secara positif dan negatif oleh perilaku kita tiap hari. Apa sih yang perlu kita lakukan agar kinerja otak selalu optimal?

Dalam artikel ini, kami punya beberapa kiat penting yang bisa kalian ikuti. Bila kalian mau mengubah cara hidup, kami jamin otak kalian akan kembali cemerlang.

Perbanyak Tidur

Kita semua pasti tahu kalau tidur sangat penting bagi semua aspek kesehatan. Sayangnya, manusia modern semakin kurang tidur. Pada pertengahan 1900-an, orang bisa tidur hingga sembilan jam setiap malam. Pada 1970, jumlahnya turun jadi 7,5 jam per malam. Menurut CDC, lebih dari sepertiga orang dewasa di kota besar dunia tidur kurang dari tujuh jam setiap hari.

"Tidur mampu mengoptimalkan kemampuan neuropsikologis," kata W. Christopher Winter, ahli neurologi dan dokter spesialis gangguan tidur dari Virginia. Dalam bukunya yang berjudul The Sleep Solution: Why Your Sleep is Broken and How to Fix It, Winter menganjurkan orang berjuang agar tidur lebih lama.

"Tidur sangat penting, baik untuk menafsirkan isyarat nonverbal dan rasa emosional maupun menjaga konsentrasi dan mengingat informasi dalam pikiran kita. Kurang tidur dapat memengaruhi kinerja kognitif secara dramatis."

Rutin tidur siang juga bagus untuk kesehatan otak. Penelitian kecil-kecilan yang diterbitkan pada 2010, mengamati performa belajar anak muda. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok: yang tidur siang dan tidak. Dalam percobaan tersebut, setiap peserta harus menyelesaikan tugas belajar yang ketat.

Usai belajar, kelompok pertama tidur siang selama 90 menit sementara yang lain tetap terjaga sampai diberi tugas kedua beberapa jam kemudian. Anggota studi yang tidur siang mengerjakan tugas kedua secara lebih baik. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan dan pemahaman dari apa yang telah mereka pelajari.

Sebaliknya, jika tidak biasa tidur siang, kemampuan siswa dalam belajar dan menyerap informasi akan menurun. "Tidur siang membantu meningkatkan perhatian yang dapat membantu daya ingat," kata psikolog klinis dan ahli tidur Michael Breus. Di menjelaskan tidur siang selama 20 sampai 25 menit sudah cukup membantumu jadi lebih fokus, apalagi bila kamu kekurangan tidur malam sebelumnya.

Konsumsi Kafein, Tapi Jangan Berlebihan

Banyak orang sudah meyakini kemampuan kopi membuat kita segar sebelum aktivitas pagi. Kopi sebenarnya jauh lebih keren dari itu saja. Minuman mengandung kafein ini juga dapat merangsang otak memproses informasi secara lebih cepat. Menurut Winter, peran kafein sebagai obat peningkatan kinerja sudah dikenal sejak lama. "Kopi membantu konsentrasi, fokus, dan pemrosesan ingatan, serta daya ingatan," katanya.


Tonton dokumenter VICE saat merekam tradisi pesta gila-gilaan merayakan sunat di Sumedang:


Menurut sebuah penelitian, sekitar 200 miligram kafein (seperti yang terdapat dalam secangkir kopi 350 ml) dapat meningkatkan kecepatan pemrosesan verbal. Tim peneliti menyediakan sebuah pil kafein 200 mg kepada sekelompok dewasa pada pagi hari, lalu menyuruh mereka menyelesaikan tugas pengenalan kata. Dari uji coba tersebut, para peneliti melihat peningkatan dalam kecepatan dan kecermatan dibandingkan ketika mereka menyelesaikan tugas yang sama tanpa pil kafein.

Jadi, biasain lah minum kopi. Tapi jangan kebanyakan, apalagi kalau sampai jantung berdebar.

Mau Minum Alkohol Silakan, Tapi Jangan Sering-Sering

Dalam penelitian yang diterbitkan British Medical Journal, para peneliti mengamati dampak konsumsi alkohol pada otak melalui kemampuan kognitif lebih dari 500 dewasa selama 30 tahun. Menurut penemuan mereka, orang yang mengkonsumsi 15 sampai 20 jenis minum keras standar setiap minggu tiga kali, cenderung lebih berpeluang menderita atrofi hippocampal–kerusakan bagian otak yang terkait dengan ingatan dan navigasi spasial.

Secara umum, mengkonsumsi minuman keras tidak “membunuh sel otak,” tetapi minum terlalu banyak dapat merusak bagian otak yang bertanggung jawab untuk ingatan, yang sama suramnya.

Jangan Terlalu Sering Googling

Kalau usiamu sekarang sudah di atas 35 tahun, pasti kamu ingat zaman ketika kamu sanggup menghapal setidaknya sepuluh nomor telepon. Mungkin kamu juga ingat trik-trik mental yang kamu lakukan demi mengingat nomor-nomor itu, misalnya mengasosiasikan urutan nomor tertentu dengan lokasi tombol nomornya di keypad, atau “mengelompokkan” nomornya menjadi grup agar mudah diingat. Itu namanya memanfaatkan otak.

Dalam dunia modern yang selalu terhubung, kita semua menyimpan informasi di segala tempat lain. Dalam sebuah laporan dari 2011 berjudul Efek Google pada Ingatan: Konsekuensi Kognitif Yang Disebabkan Akses Muda Pada Informasi, sekelompok mahasiswa mengingat lebih sedikit informasi ketika mereka tahu mereka bisa mencari informasi tersebut di internet. Menurut Winter, stres bisa berguna dalam pembentukan ingatan. Mengetahui bahwa kemampuan mengakses semua informasi yang kamu perlukan lewat Google, "sangat mungkin mengurangi kapasitas ingatan," katanya.

Sering-Seringlah Bercinta Sama Pasangan

Kadang, setelah kerja seharian, memikirkan aktivitas seks bareng pasangan terasa melelahkan. Kalaupun akhirnya dilakukan, biasanya kamu dan pasangan memilih pelukan setengah hati saja. Seandainya seks bukan prioritasmu, dan rasa lelah memikirkan seks sering terjadi, ada beberapa riset yang layak kamu baca mengenai manfaat seks terhadap fungsi otak. Maksudnya, upayakan agar lebih rajin ngewe'. Karena ternyata rutin ena-ena bisa mengoptimalkan fungsi otak manusia.

Dalam studi kecil dari 2017 yang tayang dalam Journals of Gerontology, para peneliti bertanya kepada sekelompok orang dewasa tentang kehidupan seks mereka, lalu menyuruh mereka mengambil ujian standar. Pengujian ini menunjukkan hubungan antara frekuensi seks dan kecerdasan: Orang yang mengklaim melakukan aktivitas seksual setiap minggu memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Perlu diingat ya, kita tidak bisa memastikan arah efek ini–mungkin saja orang cerdas memang lebih banyak bercinta.

Tetap saja, penelitian lainnya menunjukkan hubungan antara seks dan kecerdasan. Pada 2017, sebuah penelitian yang tayang di Archives of Sexual Behavior mengamati dampak rutinitas seks pada kemampuan kognitif 78 perempuan dari rentang usia 18 hingga 29 tahun. Dengan mengontrol faktor-faktor seperti fase menstruasi dan durasi hubungan bersama pasangan, para peneliti menyimpulkan perempuan yang lebih sering bercinta cenderung memiliki daya ingatan kata-kata abstrak saat dites.

Sebetulnya, banyak riset menunjukkan manfaat seks terhadap otak berfokus pada ingatan. Orang yang melakukan aktivitas seks secara teratur lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi. Kata Winter, seks juga membuat prang lebih cenderung merasa puas secara emosional. Timbulnya perasaan ini, menurutnya, sesuai dengan asumsi bahwa seks mempunyai manfaat kognitif dan membantumu bisa lebih fokus. Asyik nih.

Selamat mempraktikkannya!

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic