Iklan
Kekerasan Seksual

Masih Banyak Saja Perempuan Memaklumi Pelecehan Seksual yang Dialami Sesamanya

Kita perlu berterima kasih pada Via Vallen beberapa waktu lalu, karena persoalan agar perempuan berani terbuka soal pelecehan jadi ramai dibicarakan di Indonesia.

oleh Sattwika Duhita
02 Juli 2018, 10:11am

Foto ilustrasi oleh Leon israel via Wikimedia Commons. Lisensi CC 2.0

Kasus pelecehan via instagram yang dialami pedangdut Via Vallen menunjukkan di Indonesia ini masih banyak perempuan yang meremehkan pelecehan seksual yang dialami sesama perempuan. Kalau saja tak ada kasus yang bulan lalu rame itu, kalau saja Via Vallen tak menggunggah direct message yang melecehkan itu ke instagram, mungkin kita tak akan tahu kalau ternyata perempuan Indonesia belum kompak dalam menghadapi pelecehan seksual.

Bukannya bikin kita bersatu, yang terjadi malah sebaliknya, perempuan terpecah belah. Ada yang menanggap apa yang dilakukan Via Vallen keren banget karena ia balik mempermalukan si a**hole dengan telak hanya lewat satu unggahan instagram. Yang mengejutkan, ternyata tak sedikit perempuan yang menilai apa yang dilakukan Via Vallen lebay sembari menganggap apa yang dilakukan si a**hole adalah sesuatu yang wajar dan bisa dimaklumi.

Oh, tapi tunggu dulu. Ini bukan cerita baru kok. Ini cerita lawas.

Bukan kali ini saja perempuan yang menyerang atau mempermalukan pelaku pelecehan seksual malah diserang balik. Ini sering sekali terjadi, masalahnya yang lalu-lalu cuma dibicarakan di kalangan terbatas. Kalau yang sekarang, berhubung korban adalah pedangdut kelas nasional, maka cepatlah ia jadi viral.

Bagi Shera Rindra, cerita Via Vallen tak ubahnya dejavu. Ia pernah mengalami hal serupa pada 2003 lalu. Shera diperkosa oleh seorang artis yang pernah menjadi pacarnya. Tanpa ragu, Shera segera membawa kasus perkosaan tersebut ke ranah hukum. Alih-alih mendapat dukungan, Shera malah disalahkan atas apa yang terjadi padanya saat itu. Ia menjadi sasaran emosi fans si artis.

“Serangannya dulu lewat SMS bahkan sampai telepon langsung. Teleponnya dari fans yang marah-marah. Bahkan waktu itu ditanya dan disalahkan karena enggak pakai hijab,” kata Shera saat dihubungi VICE Indonesia. Berulang kali ia mencoba ganti nomor telepon, tapi tetap serangan tak kunjung surut. Yang lebih menyedihkan, mereka yang menyerang balik kebanyakan malah perempuan.

“Gue ditanya kenapa enggak bisa diselesaikan baik-baik? ditanya bukannya malah seneng ya diperkosa karena dia (pelaku) terkenal. Dan yang nelpon gue adalah fans perempuannya,”

Seperti halnya Shera, Hannah Al Rashid pun pernah mengalami pelecehan seksual secara fisik—dan malah berbalik diserang kala dirinya mencoba untuk bersuara.

“Waktu gue cerita di media sosial tentang apa yang gue alami sebagai peringatan untuk perempuan yang lain, gue malah ditanya kenapa jalan sendirian, atau dibilang baju gue enggak tertutup. Bahkan salah satu teman baik bilang lain kali naik taksi aja. Itu kan seakan berpihak ke pihak pelaku,” kata Hannah saat dihubungi VICE Indonesia.

Hannah paham, budaya untuk menyalahkan korban dan menyuruh korban agar diam masih kerap kali terjadi. Inilah yang membuat para perempuan korban pelecehan lebih memilih untuk tetap diam karena khawatir disalahkan dan tidak mendapat dukungan. “Masih banyak sesama perempuan yang menyalahkan korban. Akhirnya enggak ada yang berani maju. Budaya ini yang harus diubah,” katanya.

Adalah sebuah ironi ketika seorang perempuan menjadi korban, perempuan lain malah menyalahkan si korban. Ironisnya lagi, hal ini masih kerap terjadi. Apakah itu artinya perempuan ‘memang’ jahat terhadap sesamanya?

Enggak. Salah. Bukan itu masalahnya.

Seluruh sikap yang cenderung menyerang sesama perempuan bermula kala pandangan yang menganggap perempuan lebih rendah dari laki-laki mulai menyebar dan diyakini oleh perempuan sendiri. Penyebaran ini dapat dengan jelas dilihat melalui aturan, tindakan dan pembelajaran di dalam masyarakat, seperti persoalan bagaimana cara perempuan berpakaian, perempuan tidak boleh berbadan besar, perempuan sebaiknya tidak sekolah lebih tinggi dari laki-laki. Sementara, laki-laki dianggap sebagai kelas paling tinggi dengan mendakunya sebagai ‘pemimpin’, ‘penentu keputusan’, bahkan tak ada aturan tentang bagaimana seharusnya laki-laki bersikap. Anggapan laki-laki lebih unggul dari perempuan terus dibudayakan dan diwujudnyatakan, hingga akhirnya dianggap sebagai ‘kondisi wajar’ di dalam masyarakat.

Contoh sederhana mungkin kamu pernah menemui seorang perempuan menyebut sesamanya murahan karena mudah berkawan dengan lawan jenis.

Kembali ke kasus pelecehan seksual yang sudah terjadi, bentuk serangan yang dilontarkan oleh pengikut perempuan kepada mereka saat bersuara mengenai pelecehan seksual tak lain dan tak bukan menggambarkan bagaimana perempuan tanpa disadari pernah ikut andil dalam melanjutkan pandangan tersebut.

Coba kembali perhatikan. Misalnya saja, saat Shera melaporkan kasusnya ke pengadilan, fans perempuan pelaku malah menyerang Shera dan menyebut seharusnya kasus ini diselesaikan baik-baik dan ‘disyukuri’ karena diperkosa oleh seorang artis terkenal. Bukankah komentar ini menyiratkan kalau perempuan harus bisa menerima bahkan ‘berbangga’ jika diperkosa oleh seorang yang terkenal?

Begitu juga dengan apa yang dialami Hannah Al Rashid melalui media sosial. Komentar dan pertanyaan yang menyalahkan dirinya dan bajunya serta karena jalan sendirian di malam hari seakan menyiratkan perempuan dengan berpakaian terbuka ‘wajar’ untuk dilecehkan dan melihat perempuan sebagai entitas yang lemah dan tak seharusnya jalan sendirian.

Ketika berbicara tentang bagaimana perempuan merespons sebuah tindak pelecehan seksual yang dialami oleh sesamanya, kita tidak bisa berhenti pada kesimpulan bahwa perempuan bisa memiliki cara pikir yang misoginistik sama halnya seperti laki-laki. Itu bukan duduk permasalahannya. Sebab, seluruh pola tindakan ‘perempuan saling serang’ ini berakar pada sistem patriarki yang ada dalam masyarakat, lalu menjalar melalui proses sosialisasi nilai melalui interaksi sosial dalam keluarga, tetangga, bahkan pendidikan.

Maka, kalau kamu, teman-teman perempuan, pernah secara tidak sadar menyalahkan atau memandang sesama perempuan lebih rendah karena bajunya, tubuhnya, atau opininya, bisa jadi patriarki ‘sedang bekerja’ dalam pandanganmu. Namun, tidak ada kata terlambat untuk terus membuat diri semakin sadar dengan kondisi ini dan turut bersuara untuk melawan hal-hal misoginistik semacam ini.

Yes. Blame the patriarchy.