Pertemuan Trump dan Kim Jong-un, Peran Dennis Rodman, serta Lelucon Agar Perang Nuklir Batal

Pertemuan Presiden AS dan Diktator Korut ini akhirnya benar-benar terwujud di Singapura. Potensi perjanjian damai dan pelucutan nuklir masih tanda tanya.

|
Jun 12 2018, 2:55pagi

Foto pertemuan bersejarah Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura via Associated Press.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Beberapa menit setelah jarum jam melewati pukul 09.00 waktu Singapura (atau 08.00 WIB), Presiden Donald Trump menjadi pemimpin Amerika Serikat pertama sepanjang sejarah bertemu langsung Pemimpin Korea Utara. Trump, mantan pembawa acara reality show "The Celebrity Apprentice" itu berjabat tangan dengan Kim Jong-un sambil melontarkan beberapa lelucon. Pemandangan yang sureal dan tak pernah terbayangkan oleh pengamat politik manapun.

Trump, dalam kunjungan kenegaraan di wilayah netral ini, datang dengan satu misi nyaris mustahil: membujuk sang diktator Korut agar mau melucuti senjata nuklirnya, sehingga menstabilkan kondisi politik di kawasan Asia Timur secara keseluruhan. Beberapa pengamat menilai pertaruhan politik yang sedang dilakukan Trump sangat berbahaya dan sulit ditebak hasil akhirnya.

Dua pemimpin dilaporkan segera menggelar pertemuan tertutup, hanya ditemani penerjemah masing-masing. Semua menteri dan staf menunggu di ruangan berbeda. Obrolan empat mata Trump-Kim Jong-un berlangsung 48 menit. Lokasi yang jadi tempat pertemuan bersejarah ini adalah Capella Hotel, di Pulau Sentosa, Singapura. Hingga seabad lalu, Sentosa adalah markas bajak laut Malaka, namun kini berubah jadi resor wisata mewah, dikelilingi lapangan golf.

Momen pertemuan perdana antara kedua pemimpin terjadi di lobi hotel. Trump dan Kim Jong-un bersalaman di depan deretan bendera AS maupun Korut yang dipasang berdampingan. Tak lama kemudian, keduanya memberi sambutan singkat kepada awak media massa—dilaporkan lebih dari 3.000 jurnalis dari seluruh dunia datang ke Singapura meliput pertemuan ini, walau yang diizinkan masuk area hotel hanya terbatas.

Dalam momen sambutan tersebut, baik Trump maupun Kim Jong-un mengutarakan optimisme, bahwa akan dicapai kesepakatan yang saling menguntungkan kedua pihak.

"Saya yakin akan terjadi diskusi yang konkret dan menghasilkan kesuksesan besar," kata Trump. "Saya terhormat bisa melakoni pertemuan ini, saya yakin kedua negara akan memiliki hubungan yang lebih baik di masa mendatang."

Kim, dalam pidato yang diterjemahkan stafnya, menyatakan, "prasangka lama yang dipendam kedua negara sudah menjadi penghambat. Namun kami memilih melewati hambatan itu dan hadir di sini sekarang."

Saat bersalaman dan dipotret wartawan, Trump sempat melontarkan lelucon kepada Kim dalam Bahasa Inggris. "Lihat, mereka memotret tak henti-henti," ujarnya.

Sesudah berdialog di ruang tertutup, Trump dan Kim Jong-un menggelar sesi ramah tamah di beranda hotel, sembari melambaikan tangan ke arah jurnalis yang terus menunggu di luar ruangan.

Hingga akhirnya kedua pemimpin bertemu, dilaporkan tim kementerian luar negeri AS maupun Korut masih belum sepakat soal naskah pernyataan bersama yang akan disampaikan kepada publik. Artinya, masih mungkin terjadi kejutan. Namun setidaknya AS punya kartu truf yang selama ini tak banyak disorot media: atlet legendaris basket Dennis Rodman. Mantan pemain Chicago Bulls itu turut hadir di Singapura, akan tetapi belum jelas apakah dia dilibatkan dalam percakapan Trump-Kim Jong-un.

Rodman beberapa tahun lalu sempat menuai kecaman karena berkunjung ke Korut dan bertemu langsung Kim Jong-un. Posisinya yang unik—sebagai satu-satunya pesohor pernah bertemu Trump maupun Kim Jong-un—membuat Rodman bisa menjadi mediator yang tak disangka-sangka. Hubungan Rodman dengan Kim Jong-un, yang dilaporkan gemar basket, cukup akrab. Makanya si mantan atlet itu bisa lima kali berkunjung ke Ibu Kota Pyongyang.

Trump, dalam kesempatan sebelumnya, mengaku tidak akan memakai pendekatan basa-basi saat mengajak bicara Kim Jong-un soal pelucutan nuklir. Dia tetap berbicara dengan gayanya yang khas, karena sangat blak-blakan dan jelas bertentangan dengan norma diplomasi. Trump optimis, pendekatan jujur macam itu akan bisa membuatnya melihat respons balik dari Kim Jong-un, apakah sang diktator tulus atau tidak dalam memenuhi permintaan AS untuk melucuti nuklir.

"Saya pasti segera tahu beberapa menit setelah kami ngobrol, soal nasib pertemuan tingkat tinggi tersebut," ujarnya kemarin malam waktu Singapura.

Di tangan Trump, mantan seleb TV dan konglomerat properti yang kontroversial, nasib perdamaian dunia sedang ditentukan.

More VICE
Vice Channels