Iklan
Perjudian Asia Tenggara

Hidup Amat Keras Bagi Mereka yang Tumbuh Besar di 'Las Vegas'-nya Asia Tenggara

Kota Poipet, pusat perjudian di Kamboja, adalah kota sangat kejam bagi para penghuninya, terutama anak-anak jalanan yang berusaha menyambung hidup dari hari ke hari.

oleh Caleb Quinley
08 Agustus 2018, 11:01am

Semua foto oleh penulis.

Poipet adalah kota yang dibangun atas roda nasib—baik itu nasib baik maupun buruk. Kota perbatasan di Kamboja ini menjadi rumah bagi delapan kasino yang mengundang para petaruh kambuhan asal Thailand maupun Cina. Bisnis perjudian legal di Kamboja dan Poipet ibarat Las Vegas di Asia Tenggara. Poipet sehari-hari berdebu dan penuh sampah, namun orang-orang tak peduli. Mereka ingin menguji keberuntungan. Termasuk ribuan orang-orang miskin dari pedalaman Kamboja yang turut mengadu nasib, berusaha mencari pekerjaan atau mengemis di jalanan Poipet.

Sebagian merasa pertaruhannya terbayar manis. "Hidup di Poipet jauh lebih mending daripada saya bertahan di kampung halaman," kata perempuan usia 30-an yang mengajak anaknya bekerja membersihkan gedung saat saya temui. "Di sini gampang cari kerja. Saya yang tidak pernah sekolah saja bisa bekerja macam-macam. Asal mau, kamu langsung bisa kerja, mulai dari ikut kerja konstruksi, menarik gerobak, membersihkan jerohan ikan di restoran, sampai menyelundupkan barang ke perbatasan. Banyak banget peluang. Jaga toko juga bisa."

Saya datang ke kota ini atas undangan Damnok Toek, lembaga swadaya Kamboja yang mendampingi anak jalanan di Poipet. Sebelum saya bertemu mereka, salah satu petinggi Damnok berulang kali mewanti-wanti saya agar berhati-hati. Kota ini dikuasai mafia. Salah ucap bisa membuatmu terbunuh. Kerja jurnalis jadi sangat sulit. Damnok juga meminta saya merahasiakan nama tiap narasumber. Salah-salah, kalau identitas mereka ketahuan masuk media, sang ibu sekaligus anaknya tadi bisa berurusan dengan bahaya.

Benar saja. Tak berapa lama saya bertemu seorang ibu yang bekerja sebagai pemulung. Ceritanya jauh lebih tragis dibanding perempuan yang sebelumnya saya ajak ngobrol.

"Sulit sekali bagi saya dan keluarga untuk bisa makan rutin tiap hari. Uang kami habis untuk bayar kontrakan, berikut biaya air dan listriknya," ujarnya. "Anak saya ada yang kena penyakit. Lalu saya ajak anak saya yang lain ikut bekerja di jalanan setelah melihat tetangga kontrakan bisa dapat duit lebih banyak tiap hari dengan mengajak anaknya bekerja."


Tonton dokumenter VICE menyoroti remaja tanggung yang menjadi joki balap motor liar di pinggiran Jakarta. Mereka bertaruh nyawa dengan iming-iming bayaran ratusan juta:


Beberapa waktu kemudian, saya menyaksikan seorang bocah perempuan yang belum genap 10 tahun nyaris memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam tong sampah. Dia mengais-ngais tumpukan sampah demi barang 'berharga', mulai dari botol atau kaleng. Besi bernilai lebih mahal kalau disetor ke tempat daur ulang. Tong sampah yang didaki bocah itu jebol bagian bawahnya, air bau dalam jumlah besar meluber ke jalan aspal. Sadar tidak ada barang berharga di tong tadi, si bocah keluar lagi, lantas beralih ke tumpukan sampah di dekatnya.

Pemandangan macam itu rutin dilihat siapapun yang meluangkan waktu melihat keadaan di luar kasino penuh AC dan mewah di Poipet. Di kota ini, serta Aranyaprathet yang sama-sama berada di perbatasan Thailand, LSM Damnok mencatat kurang lebih ada 600 anak di bawah umur berkeliaran di jalanan—dengan atau tanpa orang tua. Kondisi kota perjudian ini tentu saja membahayakan mereka. Banyak anak dieksploitasi, termasuk oleh orang tuanya sendiri, untuk bekerja di bawah umur legal. Sebagian mengaku jadi korban kekerasan serta pelecehan, lantas mengalami trauma serius akibat dipaksa bekerja di jalanan.

Kebanyakan pendatang yang membawa anaknya ke Poipet bekerja sebagai pemulung. Sebagian pengakuan mereka benar. Ada banyak lapangan kerja yang tersedia di sekitar rumah judi. Namun, pekerjaan tersebut justru menjebak keluarga pendatang tadi semakin dalam dalam labirin kemiskinan.

Dengan gaji yang sangat kecil, dan jenis pekerjaan yang lebih mementingkan kuantitas, alhasil banyak keluarga pendatang terpaksa ikut mengajak anaknya bekerja dibanding sekolah. Karena si orang tua sibuk bekerja, pengawasan terhadap anak-anaknya selama bekerja atau berkeliaran di jalan nyaris nihil. Alhasil, merujuk penelitian Up! International bersama Damnok Toek, sebanyak 66 persen anak jalanan di Poipet pernah sekali mengalami pelecehan seksual, kekerasan, dan jadi korban perdagangan manusia. Rata-rata korban pelecehan seksual justru anak lelaki, yang juga turut dipaksa melacur oleh orang dewasa untuk bisa mendapat penghasilan besar saban hari.

Nathalie Nguyen, Manajer Pelaksana Damnok Toek, menyatakan anak-anak tadi akhirnya menempuh jalan ekstrem untuk mengatasi trauma yang mereka hadapi akibat berbagai hal buruk tersebut. Ada bocah jalanan yang akhirnya kecanduan ngelem untuk mengatasi serangan panik. Tak sedikit pula yang akhirnya menjadi pengguna sabu-sabu atau heroin. Damnok menyimpulkan minimal ada 80 anak jalanan di Poipet yang menjadi pecandu akut narkoba. Nyaris semua mengaku sudah menjajal narkotika sebelum berusia 10 tahun. Prevalensi mereka yang ngelem lebih tinggi lagi. Ada 40 persen bocah yang terlibat jajak pendapat mengaku pernah mencium aroma lem untuk mabuk.

"Sebagian obat-obatan yang dikonsumsi anak-anak tersebut datang dari Myanmar dan Thailand," kata Nguyen. "Kami khawatir jumlah anak yang menjadi penggunanya di kota perbatasan ini semakin bertambah karena lima tahun terakhir banyak bandar di Kamboja bisa membuat narkoba itu sendiri, tanpa perlu mengimpornya dari negara tetangga."

Narkoba sejak lama adalah substansi mematikan dan berbahaya. Namun narkoba asli buatan bandar Kamboja menurut Nguyen jauh lebih seram. Konsumsi dalam jangka pendek saja dipastikan langsung merusak tubuh penggunanya. "Itu sudah bukan lagi narkoba, yang beredar di jalanan ini sudah sama dengan racun."

Menurut Jarrett Davis, peneliti masalah sosial yang aktif di Kamboja selama bertahun-tahun, labirin masalah sosial di Poipet nyaris mengarah pada jalan buntu. Tidak ada kabar menggembirakan. Anak-anak jalanan terpapar pada narkoba sejak usia sangat muda. Ketika mereka beranjak remaja dan mulai kecanduan obat, hampir pasti mereka akan bergabung dengan organisasi kriminal setempat. Kalaupun mereka berusaha menghindari narkoba, mereka akan tersiksa akibat diperas tenaganya oleh preman dan polisi lokal.

"Anak-anak jalanan di Poipet terlanjur dicap sebagai anak nakal, mereka dianggap tak punya masa depan sehingga banyak orang malas membantu mereka," kata Davis kepada saya. "Bahkan, warga Kamboja sendiri tidak merasa perlu memberi empati pada anak jalanan yang terjerat narkoba. Akhirnya inisiatif menolong mereka sangat jarang muncul."

Beberapa hari setelah mewawancarai banyak orang di Poipet, saya kembali menyusuri jalanan. Di seberang Crown Casino, salah satu rumah judi terbesar di kota ini, seorang gadis kecil mengobok-obok tas plastik hitam besar berisi sampah. Jarum jam sudah mendekati tengah malam. Bocah itu hanya mengenakan kaos tipis yang sudah robek di sana-sini. Tangan mungilnya sibuk memasukkan barang berharga ke keranjang yang ia pikul. Wajahnya penuh cemong hitam. Melihat dari gelagatnya, hampir pasti si bocah akan bekerja sampai larut.

Ada rasa nelangsa ketika kau tahu tak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Terlebih ada ratusan bocah lain sepertinya berkeliaran di jalanan Poipet. Kota yang ketika dulu dirancang pemerintah menjadi pusat perjudian legal, digadang-gadang akan meningkatkan taraf hidup penghuninya. Benar, ada sedikit tetesan kemakmuran yang diperebutkan orang-orang kecil. Namun lebih banyak yang menguap di meja judi. Lebih buruknya lagi, Poipet mengundang mereka yang terpinggirkan untuk datang, tapi tak memberi kesempatan lepas dari jerat kemiskinan.

Tagged:
Thailand
GAMBLING
Anak Jalanan
casinos
kemiskinan
Kriminalitas
Asia Tenggara
Kamboja
Perjudian
Poipet
Problem Sosial
Bisnis Kasino
Legalisasi Perjudian
Potret Kemiskinan