Iklan
Mimpi Punya Rumah

Dengan Rp350 Juta, Kami Mencoba Berburu Rumah Layak Buat Anak Muda

Angka Rp350 juta didasarkan pada kemampuan mencicil karyawan muda yang rerata gajinya di kisaran Rp6,1 juta. Kita ternyata masih bisa bermimpi punya rumah lho (toh mimpi gratis, beda dari toilet umum).

oleh Sattwika Duhita
05 Mei 2018, 9:37am

Kolase foto oleh Dicho Rivan.

Generasi millenial yang mendominasi angkatan kerja muda di Indonesia sudah terbiasa sama kabar buruk, termasuk soal suremnya potensi mereka bisa punya rumah. Bila kita membaca kajian situs rumah123, diperkirakan hingga 2020 baru 5 persen dari warga Indonesia kelahiran 1982-1995 akan berhasil membeli properti pribadi, baik secara tunai maupun lewat skema kredit kepemilikan rumah (KPR).

Pengin sih beli rumah, tapi kalau harga rumah tapak di sekitaran Jabodetabek rata-rata sudah mendekati Rp700 juta, sementara gaji kita masih di bawah Rp5 juta, apa masuk akal beli rumah? Bisa enggak sih harganya jaaauuhhh di bawah Rp700 juta, apa masih ada yang layak huni?

Hmm, mewakili redaksi VICE, saya jadi penasaran. Coba pola pikirnya dibalik. Mari kita batasi pencarian harga di batas bawah dulu, tanpa mengandalkan skema rumah subsidi dari pemerintah. Katakanlah cicilan yang dikejar di kisaran Rp2 jutaan—dengan asumsi gaji kita pas mentok Rp5 juta. Maka, cerita Mariane, karyawan swasta lajang asal Jakarta, sebetulnya membuktikan anak muda bisa banget memiliki rumah sendiri tanpa perlu menikah lebih dulu demi skema joint income saat mengajukan KPR.

"[Aku] pengin barbeque-an di sana buat ngerayain rumah baru,” kata Mariane kepada VICE, menceritakan rumah kecilnya. Marianne, di umur 24 tahun, sedang rajin-rajinnya membayar cicilan rumah kecil di Bogor. Per bulan ia menyisihkan Rp2,5 juta untuk cicilan hunian tersebut, separuh gajinya yang saat ini pas di angka Rp5 juta.

Dengan harga Rp290 juta, Marianne mendapatkan rumah dengan fasilitas dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, garasi, dan masing-masing halaman depan dan belakang—walau ukurannya memang tak seberapa sih. Luas tanahnya enggak sampai 80 meter persegi.

Setidaknya kita bisa sedikit lebih lega. Cerita Mariane membuktikan rumah itu bukan angan-angan kejauhan. Ya minimal jauhnya sebatas jarak tempuh Bogor-Jakarta naik KRL. Lalu, kenapa selama ini banyak anak muda pesimis bisa memiliki rumah.

Persoalan mentalitas dan prioritas konsumsi generasi millenials konon jadi penyebabnya.

"Kaum milenial fokusnya bukan beli rumah. Mereka lebih pilih beli mobil, beli elektronik, atau bayar cicilan segala macam, sebelum beli rumah," kata Ali Tranghada, CEO Indonesia Property Watch beberapa waktu lalu.

Marianne tentu pengecualian dari asumsi Ali. Dia berprinsip rumah menjadi aset penting untuk menunjang kehidupannya, baik secara pribadi maupun dalam berumah tangga. “Rumahku itu kan aset pribadi, pengen aja punya tabungan buat masa depanku sendiri,” katanya.

Tapi, Mariane punya satu pembeda dari mayoritas anak muda lain di Indonesia. Tepatnya, dia memiliki kemampuan membayar uang muka alias Down Payment (DP). Survei situs rumah.com tentang prospek pasar properti 2018 menyatakan masalah terbesar bukan pada cicilan, tapi keharusan uang muka yang tinggi—merujuk aturan Bank Indonesia sebisa mungkin 30 persen dari harga properti—serta proses mengajukan KPR yang rumit. "Uang muka yang terlalu tinggi sehingga belum berencana mengambil cicilan rumah, dinyatakan oleh 51 persen responden," seperti dikutip dari survei tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang belum menjanjikan untuk peningkatan gaji. Tahun ini, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 5,3 persen. "Kenaikan pendapatan dari kelompok millenials juga enggak akan tinggi. Jadi mereka ini generasi yang pendapatannya biasa-biasa aja," kata Agustinus Prasentyatoko, ekonom dari Unika Atma Jaya Jakarta.

Persoalan mengumpulkan uang untuk DP ini mari kita bahas di artikel berbeda. Sesuai janji di awal, mari fokus dulu mematok harga yang kira-kira pantas jadi standar bersama mengenai rumah yang terjangkau anak muda Indonesia kebanyakan. Jika merujuk survei, permintaan tertinggi ada di segmen rumah di bawah Rp700 juta.

Seperti disebut sebelumnya, walau di bawah Rp700 juta pun harga rumah seringkali dirasa terlalu tinggi. Terlebih lagi di kota-kota besar. Jika hendak tinggal di pusat kota, rata-rata dibutuhkan dana Rp400 juta untuk mendapatkan sebuah rumah dengan fasilitas dua kamar dan satu kamar mandi. Itu pun masih minus garasi. Sayangnya, rumah di luar area Jakarta pun masih kerap mematok harga jual yang bisa dibilang mahal.

Nah, cerita Niken Nathania bisa jadi alternatif lain. Dia misalnya, memilih pindah ke Purwokerto. Tahun ini menjadi tahun keempat ia mencicil rumah yang berlokasi di daerah Semampir, tak jauh dari Stasiun Purwokerto. Walau sudah menepi jauh dari Jakarta, rumah yang ia beli masih berada di angka yang cukup tinggi. Untuk sebuah rumah dengan tiga kamar tidur dan satu kamar mandi, Niken harus merogoh kocek hingga Rp 500 juta. “Padahal kecil loh,” katanya.

Walau begitu, Niken sebetulnya masih banyak menemukan rumah dengan harga yang lebih rendah. Ia menyebutkan, masih ada rumah dengan harga di bawah Rp300 juta, asal kalian rela meluangkan waktu keliling cari lokasi rumah potensial pas akhir pekan.

“Banyak banget sebenarnya kalau enggak beli dari developer. Masih murah banget dan itungannya per petak atau per lantai gitu. Dengan Rp200 juta-Rp300 juta juga udah bisa dapat rumah, beli dari pemilik rumah langsung,” katanya.

Mungkinkah bila target saya jauh dari rumah Niken? Saya lantas membayangkan cuma punya kemampuan mencicil rumah Rp350 juta. Skenario Rp350 juta didasarkan atas potensi kemampuan mencicil anak muda Jakarta dengan pengalaman di atas 2 tahun per bulan. Berdasarkan data tahun lalu, rerata penghasilan anak muda denga deskripsi macam itu 'cuma' Rp6,1 juta. Dengan uang segitu, rumah di lokasi mana saja dan denah seperti apa, yang bisa saya dapatkan?


Tonton dokumenter VICE soal sekte yang menjanjikan bisa menghapus utang-utangmu. Kalau sudah ambil KPR, jangan sampai terbujuk sekte absurd kayak gini ya:


Setelah iseng mencari melalui beberapa situs seperti rumah123.com atau rumah.com, saya menemukan beberapa pilihan rumah yang ‘cocok’ dengan dana (bayangan) saya.

Di (pinggiran) Jakarta, rata-rata harga rumah paling murah sudah melampaui Rp400 juta. Itu pun dengan lokasi yang sebetulnya agak jauh dari pusat kota. Fasilitasnya pun rata-rata sama: dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Salah satunya di Pondok Cabe. Rupanya, masih ada sih yang bisa ditebus di angka Rp 350 juta. Di Pondok Cabe, dana segitu bisa memberimu rumah satu lantai dengan luas bangunan 40 meter persegi, diisi dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Di bagian depan, terdapat garasi tanpa pagar untuk memarkir kendaraan mobil atau motor.

Selain itu, rumah dengan rentang harga Rp350 juta ada di Cinere. Fasilitasnya tak jauh berbeda dengan rumah Pondok Cabe, sedangkan luas bangunannya hanya 36 meter persegi.

Fasilitas yang sama untuk harga Rp 350 juta bisa juga ditemukan di Bekasi, kota satelit Jakarta. Jika dibandingkan dengan Bogor, Bekasi memiliki akses lebih banyak dan jarak yang lebih dekat jika ingin menuju Jakarta. Umumnya, rumah Rp 350 juta di Bekasi juga hanya berisi dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Di Villa Gading Harapa, misalnya, sebuah rumah bisa didapatkan dengan harga Rp255 juta—hemat Rp100 juta dari bayangan awal.

Jika ingin mendapatkan harga rumah kawasan Bekasi lebih murah lagi, anda bisa tengok di kawasan Cikarang. Dengan kisaran harga Rp240 juta hingga Rp300 juta, anda bisa mendapatkan rumah dengan fasilitas tiga kamar tidur, satu kamar mandi, atau dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Seperti misalnya di kawasan Puri Cikarang yang menawarkan rumah dua lantai seharga Rp257 juta.

Tapi itu semua perkiraan harga rumah di sekitar wilayah Jakarta. Bagaimana dengan kawasan di luar Jakarta?

Di Ujung Berung, Bandung, anda bisa membeli rumah seharga Rp 345 juta dengan luas bangunan 30 meter persegi. Yang perlu menjadi perhatian: lokasinya terletak 12 kilometer dari pusat kota Bandung. Selain itu, sebuah rumah bekas di Cibiru juga ditawarkan dengan harga Rp 230 juta. Namun tentu belum termasuk ongkos renovasi bilamana ada kondisi tertentu di rumah tersebut yang harus dibenahi. Baiklah...rasa-rasanya tidak jauh berbeda dengan tawaran rumah di Jakarta.

Sementara di kota lain seperti Yogyakarta, harga rumah sudah mulai tinggi seperti halnya di kota pusat Jakarta. Di daerah Kalibawang, Kulon Progo—yang jaraknya 23 kilometer dari pusat kota, kalian masih bisa mendapatkan rumah seharga Rp290 juta dengan fasilitas dua kamar dan dua kamar mandi. Sedikit mendekat ke tengah kota, rumah seharga Rp330 juta dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi masih bisa ditemukan di daerah Margoluwih, Sleman.

Jika ingin ‘pergi’ lebih jauh lagi, beberapa kota di luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, juga punya pilihan. Alternatif rumah dengan harga mentok 350 juta tersebut dapat ditemukan di Medan. Namun, jaraknya lagi-lagi memang sedikit jauh dari pusat kota atau akses bandara. Di Medan Helvetia, misalnya, masih menawarkan rumah dua lantai berkamar tiga plus dua kamar mandi dengan harga Rp 140 juta. Hemat Rp 210 juta dari target awal.

Bolehlah juga tengok rumah di Bali. Beberapa daerah, seperti Badung dan Tabanan, masih memberi cukup banyak pilihan rumah dengan harga lebih rendah atau sama dengan Rp 350 juta dengan denah dua kamar tidur, dua kamar mandi, dan satu garasi yang cukup luas untuk memarkir mobil.

Sebetulnya, bukan tidak mungkin bagi kita untuk mendapatkan rumah seharga—bahkan lebih murah—dari Rp350 juta, dengan rekayasa cicilan sekitar Rp1,8 juta per bulannya. Hanya saja, pilihan-pilihan tersebut terbatas memiliki dua kamar dan satu kamar mandi saja. Lokasinya juga berada di kota kecil atau jauh dari pusat kota besar.

Kayaknya inilah solusi paling masuk akal bagi anak muda Indonesia. Bermimpilah tidak tinggal di Jabodetabek, cari rumah di kota kecil. Hitung-hitung kita berjasa mengurangi penduduk di kota besar, biar enggak membludak melulu di sana. Pendek kata, dengan target Rp350 juta, ternyata saat ini banyak sekali pilihan membeli rumah bagi anak muda (asal enggak mematok harus di Jakarta).

Cari duitnya, termasuk buat ngumpulin DP, kan berat bos?! Ya memang. Itulah kenapa saya enggak tertarik nge-gym. Mengangkat beban hidup sudah cukup untuk melatih otot tubuh dan otak. Hadehh....


Sattwika Duhita terus bermimpi punya rumah sendiri sembari menulis untuk VICE dan lari saban malam keliling GBK (siapa tahu bisa sekalian lari dari kenyataan yang rumit). Ajak dia diskusi di Twitter

Tagged:
indonesia
millenial
Gen Z
Ekonomi
Harga Rumah
Rumah
Anak Muda
Properti
Pertumbuhan Ekonomi
Indonesian Dream
Impian
Beli Rumah