Iklan
Sehat Ala Anak Punk

Ngobrol Bareng Duet di Balik Layanan Pijat Punk, Solusi Salah Urat Habis Moshing

Kelar moshing atau pogo, ada risiko ototmu terkilir. Jangan khawatir wahai anak punk dan HC sekitaran Bogor. Dua orang goks membuka jasa pijat buat para 'punksien'.

oleh Marcel Thee
20 April 2018, 7:05am

Semua foto dari akun instagram pijat punk.

Punk membentuk etos kemandirian maupun anti-kemapanan dalam hal apapun bagi penganutnya. Baik itu untuk produksi musik, kerajinan, sampai… pijat. Sebelum kalian murka dan menuding yang tidak-tidak, percayalah, ada segerombolan mas-mas di seputaran Bogor, Jawa Barat, yang memang menyukai dipijat dengan iringan single Rancid “Radio” atau “Diktator”-nya Tcukimay dalam volume superkencang.

Di samping aktivitasnya sebagai vokalis salah satu band punk kenamaan Kota Hujan itu, Adipati (yang hanya ingin ditulis nama depannya untuk wawancara ini) saban hari menyibukan diri membuka layanan berjuluk Pijat Punk bersama sobatnya Bizen. Adipati sebetulnya tidak memiliki pengetahuan seni memijat. Bizen lah yang jagoan mengurut otot yang meleset. Bizen anak punk dari keluarga yang turun temurun mewarisi ilmu pijat. Makanya, pijat punk ini betulan jasa urut, berbayar pula.

Tunggu dulu, lantas di mana letak punk-nya?

Faktor pembeda pertama, seperti sudah disebut sebelumnya, adalah soundtrack yang menemani proses pijat bersama Adipati. Musik punk ingar-bingar adalah menu utama jasanya. Kedua, layanan pijat punk selalu berpindah-pindah. Biasanya jauh dari lokasi konvesional proses pijat—mulai dari di pinggir sungai sampai studio rekaman. Kelar dipijat, setiap orang akan mendapat stiker kenang-kenangan pijat punk. Warbyasa. Emangnya band doang boleh nyetak stiker?! Plus, setiap pelanggan mereka sebut sebagai ‘punksien’—sebuah plesetan yang boljug dari kata pasien.

Habis dipikir-pikir lagi, jasa jasa pijat buat anak punk/hardcore emang wajar sih, bahkan cukup mengherankan kenapa tak muncul jauh sebelum Adipati dan Bizen kepikiran. Gig punk, kita ingat, penuh aktivitas fisik. Memangnya kalian pikir stage dive, moshing, ataupun pogo sejaman selalu membuat bugar? Pas lagi apes, otot bahu, punggung, hingga kaki terkilir merupakan risiko yang senantiasa mengintai. Nah, di sini jasa duo Adipati & Bizen merupakan kompromi terbaik. Jalur otot yang semula ruwet terurai dari dan oleh sesama anak kancah punk. Sebuah sistem yang berdikari (dan harusnya sih enggak terlalu eksploitatif).

“Terkilir habis manggung atau stage dive sih biasa ya, selalu ada di tiap gigs HC atau punk,” kata Adipati sambil tersenyum ketika ditemui VICE di sela ngaso sebelum malamnya kembali ngider memijat anak-anak punk.

Dia mengaku gembira karena jasanya mulai dikenal, tanpa dituding mengambil untung dari komunitasnya sendiri. “Pertanyaan paling banyak dari orang itu bukan soal harga atau tarif sekali pijat, tapi 'hari ini mangkal di mana?’”

Berikut obrolan VICE bersama Adipati dan Bizen soal sejarah berdirinya jasa pijat punk, serta suka-duka—sekaligus pengalaman unik—mereka berdua selama membetot ulang otot ruwet para punksien.

VICE: Halo bung. Tolong dijelasin dong, pijat punk ini bedanya dari pijat lain apaan ya?
Adipati: [Konsepnya] dipijat ala punk 'nyetrit' alias “rebahan aja di lantai pakai matras untuk camping” diiringi lagu-lagu punk selama dipijat. Selesai dipijat kami memberikan stiker Pijat Punk, persis gaya band-band punk yang suka ngasih stiker.

Bizen mijat konsumen, gue ngurus playlist, dokumetasi, juga sebagai calo sama orang-orang yang menonton menawarkan untuk dipijat. Mirip gaya-gaya sales nawarin motor kreditan.

Bizen: Gue sendiri salah satu personil band punkrock yang bernama The Rules, dan pada saat itu masih bekerja di toko cuci sepatu kawan gua, sebelum akhirnya fokus pada pijat punk. Gokil sih ini.

Oke deh. Emangnya anak punk pas minta pijat biasanya punya keluhan apa aja sih?
Adipati: Keluhan yang datang kebanyakan pegal-pegal biasa aja karena kecapekan, kedua masuk angin. Terkilir manggung atau stage dive juga biasa ya, selalu ada di tiap gigs HC atau punk.

Kalian kan mijatnya sering di keramaian gig, emang kondusif?
Adipati: Ada satu pengalaman lumayan unik, sewaktu Pijat Punk mangkal di acara musik sehari sebelum malam tahun baru 2018. Tapi penonton yang datang gila-gilaan jumlahnya, kaya penonton acara-acara musik festival gitu, ribuan orang, rata-rata anak usia sekolah semua.

Nas, pas begitu kita lagi mijet punksien, tiba-tiba aja kerumunan anak-anak tanggung yang berantem gatau karena apa sampe ke area tempat mijat kita, nyaris punksien kita keinjek-injek. Untung gue dan Bizen sigap pasang badan dan sekuat tenaga dorong semua orang yang lagi berantem keluar area pijat. Kita udah terlatih urusan begitu mah. Kita bukannya marah atau kesal justru malah seneng dengan suasana acara yang begitu, bikin semangat [tertawa].

Bizen: Di satu gigs kita mangkal pernah ada pemain band yang manggung tiga kali, di dua band berbeda. Sebelumnya dia jadi drummer, di satu band lainnya dia nge-gitarin, sampe tangannya gemeteran. Terus datang langsung ke lapak kami minta dipijat. Nah kebeneran tuh lapakan pijit di belakang tempatnya, pinggir kali gitu.

Abis dia dipijat, gue langsung enggak enak badan dan enggak bisa tidur sampe pagi, karena di rumah gue banyak hal-hal aneh kaya yang ganggu gue, suara-suara aneh sampe nangis ketawa suara perempuan. Enggak tau apa ada hubungannya sama habis mijat di pinggir kali.

Kalian beneran dibayar habis memijat? Atau sesekali sukarela?
Adipati: Pernah ada yang pengen pijat tapi enggak mau bayar pake uang, dia bayar pakai bir dua botol. Sebelum dipijat, dia ngajak ngobrol sambil ngebir bareng. Trus ada yang ngejar-ngejar Bizen awalnya minta pijat plus-plus, dan akhirnya minta pacaran.

Yuk ngobrolin hal yang paling bikin penasaran. Ide pijat Punk ini gimana sih awalnya bisa muncul?
Adipati: Awal Desember 2017, gue kena Chikungunya. Itu sakit yang bener-bener nyiksa banget gue selama dua bulan lebih. Kenapa? Karena badan gue enggak bisa digerakin normal, sedikit gerakan dari bagian badan aja udah bikin gue teriak-teriak sampai keluar air mata saking sakitnya.

Di minggu kedua gue sakit, gue harus manggung sama band gue di salah satu kampus di Bogor. Jauh sebelumnya juga gue udah mutusin ke temen-temen di band kalau gue siap maen, walau kondisi badan mustahil buat ngelakuin aktivitas itu. Waktu itu mikirnya gue enggak takut, gue punk, gue gak lemah, begitu pikir gue waktu itu [tertawa]. Gue kebagian manggung sore, nah waktu itu main bareng sama bandnya Bizen juga.

Dari siang gue udah nongkrong ke toko cuci sepatu tempat Bizen kerja, karena gue pikir selagi gak terlalu sakit dan bisa bawa vespa gue berangkat lah dari siang. Sampai di toko Bizen, langsung sakitnya menggila. Tiba-tiba bizen ngeluarin minyak dari tas nya, dia bilang itu minyak urut khas Cimande [Jawa Barat]. Wow, gue pikir oke banget, kebeneran, gue juga suka dan akrab sejak kecil yang namanya dipijat. Tiga puluh menit setelah gue dipijat sama Bizen, ajaib, gue mulai bisa gerakin badan gue sedikit-sedikit tanpa rasa sakit segila sebelum dipijat.

Jadi habis kenal Bizen, muncul tuh ide Pijat Punk?
Adipati: Iya. Besoknya gue kepikiran soal dipijat si Bizen, dari mana dia bisa punya kemampuan pijat dan tau jalur-jalur urat? Enak pula. Ternyata kemampuan pijatnya itu bakat turun temurun dari orangtuanya yang asli dari Cimande. Suatu malam gue sama Qori alias Masqoy (bassist band grindcore Terapi Urine) ngobrol santai sambil ngopi-ngopi. Gue cerita soal gimana kemaren bisa manggung tanpa kesakitan. Kaget lah dia, nyeletuk bilang, “Jadiin usaha lah. Bikin Pijat Punk.”

Di luar unsur ‘gimmick’-nya, seberapa jauh musik punk mempengaruhi pengalaman pijatnya, baik untuk kalian maupun mereka yang dipijat?
Adipati: Karena gue juga di band, tiap ada kesempatan band gue manggung di manapun gue mengusahakan kepada penghelat acara buat ngasih izin Pijat Punk mangkal. Semacam strategi punk yang kita temuin. Kita bisa punya akses masuk acara gratis, saat gak ada yang mijet kita bisa nonton band yang main bahkan kita selalu nyempetin pogo-pogoan sebagai pemanasan sebelum pijat disitu liya dapet duit pula diacara dari mijit [tertawa].

Secara materi kita masih punk banget. Alasan kita membuat Pijat Punk pun enggak munafik nomor satu untuk mendapatkan uang. Jadi kita bukan berasal dari latar belakang yang sudah mapan, lalu membuat sesuatu sekedar mencari sensasi belaka, aneh-anehan, atau lain-lain.


Tonton juga dokumenter kita soal tokoh kancah hardcore ibu kota yang bertahan hidup berkat musik favoritnya:


Bizen: Adanya soundtrack musik punk berpengaruh banget sih, ketika gua pijat sambil mendengar lagu itu membuat tubuh bersemangat, bayangin aja setiap ngelapak bisa delapan orang gua pijat dan tiap orangnya setengah jam. Belum kalau nemuin badan yang kekar, dan untuk yang dipijatnya rata rata musik itu sendiri menjadi salah satu perbincangan. Jadi enggak boring kayak elo biasanya pijet dan diem doang. Gue sama yang dipijat banyak sharing tentang musik.

Lagu-lagu yang biasanya jadi favorit kalian ataupun punksien pas sesi pijat biasanya apa?
Adipati: Lagu gue sama Bizen favoritnya saat memijat punksien dari The Secret Prostitutes, band yang berasal dari Houston, Texas, itu digawangi sama drummer yang merangkap vokalis asli dari Bogor. Lagu-lagu mereka nyaris semua berbahasa Indonesia dengan tema-tema yang keren dan suasana yang cocok untuk suasana Pijat Punk, bizen dan gue pasti nyanyi-nyanyi deh sambil mijit.

Kalau punksien sih rata-rata mereka request lagu-lagu Ramones, Sex Pistol, Rancid, enggak jauh dari tiga band itu aja sih, karena mereka bisa sambil nyanyi juga, walau sepotong-sepotong hafalnya [tertawa].

Selain di pinggir sungai, lokasi-lokasi paling gila mana lagi pernah elo pakai buat memijat?
Adipati: Tergila enggak ya, tapi lumayan lucu sih ada. Kayak contoh kita dapat panggilan pijat ke sebuah kantor, dan kita mijat di ruang kerja kantornya pakai sofa bed. Saat Bizen ambil Posisi tegak lurus sesuai posisi punksien tengkurap, tiba-tiba aja kaki sofa bed-nya Patah. Nyaris terguling mereka berdua. Udah gitu punksien-nya dilema, merasa enak dipijat sekaligus tersiksa katanya dengar lagu-lagu punk. Oh iya, kita pun rutin dalam dua minggu sekali mangkal di Skate Park Sempur Bogor, jadi para skateboarder tuh butuh banget sama yang namanya pijat.

Suka ga suka, ada stigma anak punk kurang higienis. Nah kalau yang dipijat kebetulan bukan anak komunitas, gimana kalian melawan stigma itu?
Adipati: Enggak usah khawatir, [kita] selalu potong kuku dan sebelum pijat kita mencuci tangan terlebih dahulu. Kita selalu membawa persediaan air dan sabun untuk cuci tangan. Bagian badan Punksien pun selalu kita bersihkan terlebih dahulu dengan tisu basah beli di minimarket.

Pertanyaan Terakhir. Emang apa perbedaan mijat orang biasa dibanding anak punk?
Adipati: Jelas beda, anak band rata-rata badannya bergambar semua, jadi saat pijat Bizen sambil mandangin gambarnya. Seneng dia, kadang jadi bahan obrolan nanya tatonya bikin di mana dan berapa duit. Udah gitu, badan anak band kalau kata Bizen mah banyak dakinya [tertawa].