Iklan
Teman Tapi Bayar

Ongkos Menjaga Pertemanan di Negara Ini Kenapa Harus Mahal Banget Ya?!

Jahit seragam bridesmaid bisa habis Rp300 ribu sendiri, belum ngitung kado, traktiran gaji pertama, sampai pajak jadian. Kesannya kita harus siap bokek demi teman. Wajib kita lawan!

oleh Sattwika Duhita
28 Maret 2018, 10:30am

Ilustrasi oleh Adam Noor Iman.

Umur saya baru 23 tahun, masih merintis karir, tetapi lingkungan pertemanan saya belakangan mulai dipenuhi kawan yang masuk 'usia siap kawin’. Jadilah saya terjebak dalam lingkaran musim kawin satu tahun belakangan, dipusingkan serba-serbi perintilan kostum kondangan, dan…..seluruh ongkos yang mengiringinya.

Contohnya pekan lalu, ada kawan yang menikah. Sebulan sebelumnya, saya dikirimi bahan buat bikin seragam bridemaid—istilah trendi masa kini buat pagar ayu, walau jobdesc-nya juga podho wae. Intinya mejeng deket penganten. Saya sih seneng saja dapat kain seragam, tapi sayangnya masih ‘mentahan’. Alhasil, saya harus kembali merogoh kocek hingga Rp 300 ribu untuk menjahit kain seragam bridemaid tadi. Kok sama teman sendiri hitungan? Hehehe, santai bosque. Itu baru satu hal lho.

Belum usai urusan jahit-menjahit, tiba-tiba masuk pesan ajakan bikin bridal shower buat si kawan. Semua kawan satu circle ribut menyamakan jadwal, mengatur perintilan macam dekorasi, booking tempat, sampai memikirkan kado untuk si calon pengantin. Setelah dihitung-hitung, saya harus (kembali) mengeluarkan kocek Rp225 ribu untuk kado dan perintilan bridal shower. Wassalam, uangku yang tidak seberapa, sampai kita jumpa lagi!

Belum sempat bernapas, saya kembali ‘ditagih’ patungan ikut baby shower salah satu kawan lain yang akan melahirkan empat bulan lagi. Kami sepakat memberi kado yang isinya bantal dan selimut bayi, kami patungan Rp80 ribu per orang. Ah, lumayan lah, enggak mahal-mahal amat pikir saya. Hingga tiba-tiba...muncul tagihan lainnya. Untuk kebutuhan booking tempat, makan-makan, dan dekorasi pesta baby shower, masing-masing dikenakan Rp 200 ribu per orang.

Gusti nu Agung. Uang harian saja kerap saya batasi Rp 30 ribu buat dua kali makan.

‘Masalahnya’, ini baru biaya pertemanan dalam lingkup pertemanan yang dekat banget. Ini terjadi enggak cuma di Jabodetabek. Di kota-kota besar lain juga mulai ngetren. Itu belum menghitung biaya yang keluar kalau misalnya kita resign dari kantor lama. Akhir bulan lalu, saya punya ‘tanggung jawab’ traktir kawan-kawan kantor lama yang saya tinggal pindah kerja. Dengan total anggota tim sekitar 10 orang, pizza adalah pilihan terbaik daripada bikin makan-makan di restoran. Maka melayanglah uang kisaran Rp250 ribu untuk dua loyang pizza jumbo yang ludes hanya dalam waktu 15 menit. Aselik, cepet banget banget abisnya tuh pizza.

Resign ditagih traktiran, dapat kerjaan baru pun dibebani ongkos serupa sama teman-teman. Kalian barangkali juga pernah mengalami ‘tagihan’ saat memperoleh gaji pertama, dapet promosi, atau naik pangkat di kantor. Eits, jangan lupakan juga, kawan-kawanmu itu kadang selalu hadir untuk menuntut pajak jadian, apalagi kalau misalnya kamu sudah jomblo tahunan.

Bukan cuma saya ternyata yang misuh-misuh sendirian. Kawan lain, Maria Katarina (22) juga mengeluhkan hal serupa. Dia bekerja dengan status freelancer setelah lulus kuliah. Tapi dia kerap ditagih ongkos-ongkos ‘persahabatan’ yang angkanya bisa mepet gajinya sebulan.

“Aku pusing pada minta ditraktir terus. Bulan lalu aku keluar hampir Rp1,3 juta buat traktir ulang tahun, siapin bridal shower suprise party, sama jahit baju kawinan,” kata Katarina. FYI, dengan menyandang status magang dan freelancer, ia mengaku pendapatan bulanan enggak jauh dari angka Rp3,8 juta per bulan, tinggal tersisa Rp 2 juta untuk menyokong hidupnya sebulan. Hiks, tega...

Sekali lagi, mengangkat isu kayak gini bukan berarti kita-kita yang keberatan tuh pamrih. Cuman, kzzzzl enggak sih kalau kamu harus keluar duit hampir jutaan ‘demi persahabatan’? Seriusan deh, segitu mahalnya kah ongkos menjadi seorang teman? Ya, sebenarnya sih enggak masalah kalau teman diminta membeli kado fungsional untuk ia yang berbahagia, asal masih make sense. Tapi, buat apa coba mahal-mahal patungan beliin sash tulisan ‘bride to be’, balon-balon tulisan ‘yes I do’, plus pernak pernik mahkota, bando apalah apalah itu yang cuma bisa dipakai sekali sama si calon pengantin.

Sesudah melakukan identifikasi masalah, berangkat dari seluruh gerundelan dan fakta selalu nyaris bokek demi pertemanan, saya punya tips biar kamu jadi temen tanpa harus keluar duit ataupun memaksa sobatmu membelanjakan uang. Niscaya kamu akan disayang seluruh umat manusia.

Kalau Temanmu Ulang Tahun, Jangan Merengek-rengek Minta Ditraktir

Di negara-negara Barat, mereka yang tengah ulang tahun biasanya malah ditraktir—enggak kayak di Indonesia yang malah punya ‘kewajiban’ nraktir. Jadi, kalau misalnya ada teman kamu yang ulang tahun, berikan ucapan yang layak. Syukur-syukur kalau kamu mau kasih kado ke dia. Selain dia senang, lu juga gak nyusahin dia kan cuy. Jangan malah minta-minta ditraktir terus sok asik bilang, “kan buat temen”. Kalau yang ulang tahun ndilalah jadi kere gara-gara harus nraktir ulang tahun, kamu mau bantu bayarin makan siangnya?

Hindari Mentalitas Bikin Seragam

Kalau kamu kawin dan emang ngebujetin buat seragam bride atau groom maids, mending langsung kasih seragam yang udah jadi, disesuain sama ukuran masing-masing orang. Selain biaya yang sering kali lebih murah ketimbang sekadar beli kain, kamu juga enggak bikin teman kamu pusing mikirin ongkos jahit. Ada kok kebaya dan kain yang udah jadi yang bisa disewa atau dibeli untuk kebutuhan kawinan.

Oh iya, begitu juga sebaliknya untuk kamu, sahabatnya pengantin. Kalau emang misalnya dia enggak ngebujetin buat kasih seragam untuk kalian, jangan ribet ngomongin atau mempertanyakan sejauh mana kesetiakawanannya. Ya lagian daripada beliin elo seragam, mending duitnya ditabung buat kebutuhan dia abis nikah keleus.

Kalau Temanmu Resign, Plis Jangan Ribut Minta Ditraktir

Cuy, temen lu itu udah mau resign. Kita ga pernah tahu apakah dia bakal tetap berpendapatan atau enggak setelah cabut. Syukur-syukur kalau misalnya memang dia pindah ke kantor baru dengan gaji lebih tinggi. Coba bayangkan kalau dia ternyata resign karena harus ngurus rumah, jaga anggota keluarganya, atau ada masalah lain yang memaksanya lepas pekerjaan? Dan lu masih ngeribetin dia dengan traktiran setelah resign.

Jangan Hargai Pertemanan Hanya dari 'Absensi' Ngasih Kado atau Patungan

Kalau emang temen lu enggak bisa diajak patungan buat bridal shower-an, ya enggak papa. Cuman jangan langsung judge ‘tidak setia kawan’. Pikirkan juga pilihan terbaik dan termurah yang tidak memberatkan kawan-kawan yang terlibat, sehingga semuanya juga senang--nggak ada yang diam-diam mbrebes mili ngecek rekening tabungannya saat yang lain asyik berfoto ria sama calon pengantin.

Kasih Ucapan Tulus Kalau Teman Sedang Berbahagia. Beneran Ngasih Ucapan Doang Lho

Kalau ada temanmu yang baru dapat kerjaan baru atau dapat promosi, kasih ucapan selamat yang tulus dan simpan saja rengekan traktiranmu baik-baik. Gaji dia mungkin memang naik, tapi gimanapun juga dia enggak punya kewajiban buat ngasih elo makan gratis, cuy.

Menjaga tali persahabatan itu memang perlu dan wajib hukumnya, tetapi apa iya sampai-sampai harus memaksa sahabatmu itu mengeluarkan recehan terakhir dari dompetnya hanya untuk suapin ego ‘persahabatan’? Jadilah kawan yang baik untuk teman-temanmu yang punya duit maupun yang-uangnya-mepet-tiap-bulan. Berusahalah jadi sahabat dengan ongkos pertemanan yang tak kalah bersahabat. Jika ada tagihan ‘persahabatan’ yang memberatkan dan si kawan ternyata nggak pengertian kalau kita lagi enggak sanggup ya…..aku sih no. Kalau niatmu cuma minta traktiran, hubungi Mas Anang.

Tagged:
indonesia
Views My Own
Budaya
resign
baby shower
Pernikahan
Tradisi
Dunia Kerja
Opini
Anak Muda
Pertemanan
Kerja
Shit Indonesian Says
Persahabatan
Mahal
pajak jadian
traktiran
Ongkos
Bokek
Biaya
Bridal Shower