Semua foto oleh Dwi Asrul Fajar, diunggah seizinnya untuk artikel ini.

Memotret Secara Harfiah Problem Kesehatan Mental di Indonesia

Fotografer Dwi Asrul Fajar menyelesaikan proyek bertajuk 'A Stream Under the Table', subyek fotonya para pengidap gangguan mental dalam pose-pose yang berkesan privat.

|
29 November 2017, 7:43am

Semua foto oleh Dwi Asrul Fajar, diunggah seizinnya untuk artikel ini.

Bagi Dwi Asrul Fajar, foto adalah medium terbaik buat menilik kesehatan mental di Indonesia. Sebab, foto adalah arsip personal, yang justru bisa membuat subyek fotonya jujur pada kondisi kesehatan mentalnya.

“Biasanya foto-foto gue temanya personal. Sebisa mungkin foto gue nggak cuma ngomong soal diri gue, tapi juga apa yang ada di sekitar gue,” kata Dwi kepada VICE Indonesia.

Foto-foto yang merupakan bagian dari seri terbarunya, A Stream Under the Table, memberi sudut pandang lain dalam melihat perkara kesehatan mental di Indonesia. Kebanyakan foto mengenai isu itu, gambar-gambarnya seram. “Gue pengen motret orang dengan mental health issue dari sudut pandang mereka sendiri, makanya pas kemarin gue ngambil potret mereka, gue selalu nanya ke subjeknya untuk nentuin gimana mereka mau difoto. Jadinya kayak karya kolaborasi deh.”

Agustus lalu, A Stream Under the Table dipamerkan di Obscura Festival Malaysia, bagian dari SouthEast Asian Masterclass. Untuk seri ini, para subyek difoto oleh Asrul di kamar masing-masing. Buku yang dikeluarkan oleh festival tersebut tidak hanya berisi potret yang terpampang di pameran, tapi juga foto-foto still-life maupun pemandangan kota yang ada di sekeliling subjek yang dijepret Asrul.

“Buat gue, [foto-foto kamar] ngasih gambaran yang lebih luas mengenai subjek gue, how they live, what they do, their mood," kata fotografer kelahiran Surabaya yang kini menetap di Jakarta itu. "[Foto kamar] Membantu gue dan orang yang liat karya gue untuk masuk lebih dalam ke dunia mereka. Familiaritas itu sih yang pengen gue foto juga, kalau orang lebih familiar dengan satu hal, gue rasa dia akan lebih gampang untuk membaca karya gue.”

Di luar seri-seri foto yang memiliki tema, pendekatan Asrul terhadap fotografi lumayan spontan dan intuitif. Biasanya dia selalu membawa kamera di tas, dan sesekali mengeluarkannya untuk menjepret hal-hal menarik yang ditemui saat jalan-jalan.

I love photographing something that’s strangely beautiful. Gue nggak tau ada pattern atau nggak dalam foto-foto yang gue ambil. Foto-foto gue mungkin jadi kayak cabinets of curiosities… Kumpulan hal-hal yang menarik buat gue pribadi, tapi biasanya buat orang lain ( at least temen-temen gue) apa yg gue foto nggak ada menarik-menariknya,” ujar Asrul. “Random banget sih sepertinya. Polanya ya mungkin keacakan itu.”

“Kota kayak Jakarta ini punya banyak hal yang menarik, tergantung sudut pandang orang yang liat," ujarnya. "Meskipun gue kadang masih ngerasa overwhelmed sama kota ini, buat gue foto ngasih kesempatan gue melihat Jakarta dengan cara lain. Gue bisa cuma lihat bagian-bagian yang ingin gue lihat aja. Campur aduknya Jakarta itu menarik, dan dengan foto gue bisa 'menata' Jakarta semau gue.”

Berikut beberapa hasil jepretan Asrul dari A Stream Under the Table yang terasa jujur mengungkap tabu gangguan mental di Tanah Air: