Formula 1

Pangeran Abal-Abal Nigeria Sukses Menipu Banyak Orang Jadi Pemilik Tim F1

Pangeran Malik Ado Ibrahim mengguncang jagat balapan paling elit dunia, sesudah mengambil alih tim Arrows musim 1999. Peristiwa selanjutnya semakin membuat orang terpana.

oleh Jim Weeks
28 Maret 2017, 11:15am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Setelah bertahan selama lebih dari tujuh dekade, kompetisi balap Formula 1 menjadi saksi sejarah kemunculan individu-individu yang menarik dan aneh. Sebagian besar orang yang terlibat dalam olahraga mahal ini adalah pesohor, konglomerat, atlet yang memiliki kemampuan kognitif hebat, dan manusia-manusia sejenis itu. Tentu saja, sebagian orang yang berkecimpung di F1 sebetulnya jenis manusia yang tidak jujur dan punya masa lalu abu-abu.

Salah satu karakter paling unik dan mengundang kontroversi dalam sejarah perhelatan Grand Prix F1 adalah Pangeran Malik Ado Ibrahim. Dia sukses mengambil alih kepemilikan sebuah tim F1 dua dekade lalu. Sampai sekarang, orang-orang masih bingung sebenarnya dia itu siapa. 

Untuk memahami kisah ini, ada baiknya kita kembali dulu ke era 1999. Waktu itu pebalap juara dunia asal Inggris, Lewis Hamilton, masih bocah ingusan yang baru mengendarai gokar. Sementara bos besar F1 Bernie Ecclestone, yang kini semakin bangkotan, baru berusia 66 tahun, wajahnya masih enak dilihat, dan tetap playboy abis. 

Musim 1999 itulah, pebalap legendaris McLaren, Mika Hakkinen, memenangkan titel juara dunia keduanya, walau sebenarnya rekam satu timnya Eddie Irvine jauh lebih berhak. Tapi cerita lebih menarik muncu di balik lintasan balap. Di tengah sorotan yang jatuh pada McLaren saat itu, orang-orang cenderung mengabaikan kondisi tim lain yang sama-sama mengenakan seragam oranye hitam tapi mesin mobilnya sangat tidak kompetitif. Tim itu bernama Arrows.

Akhir dekade 90-an, Arrows berstatus sebagai tim yang sudah berpartisipasi lebih dari 20 tahun mengikuti Grand Prix. Terlepas dari usia panjang mereka, tim ini tidak pernah memenangkan balapan, serta mengalami kesulitan finansial dan berulang kali mengalami perubahan kepemilikan. Arrows bahkan pernah diambil alih perusahaan logistik Jepang. (Pada masa ini, pebalap Taki Inoue melakoni debut di F1. Taki menjadi salah satu pebalap F1 yang dikenal dengan reputasi buruk, dituding bisa masuk F1 hanya karena nepotisme perusahaan pemilik Arrows, serta terkenal berulang kali ditabrak mobil saat balapan pada kesempatan terpisah).

Pada 1996, saham mayoritas Arrows dibeli oleh Tom Walkinshaw, yang berhasil meyakinkan juara dunia Damon Hill musim 1997 untuk bergabung dengan timnya. Meski Hill sempat nyaris memenangi Grand Prix Hungaria pada musim 1998, keputusan mengontrak pebalap dengan gaji mahal seperti Damon Hill terbukti gagal total. Arrows makin gigit jari setelah semusim berikutnya Damon Hill pindah tim ke milik Eddie Jordan. Setelah ditinggal Damon Hill, Arrows kembali menjadi tim F1 semenjana, dijauhi pers, dan terus mengalami krisis finansial.

Keputusan Walkinshaw (kanan) mengontrak Damon Hill amat ambisius, berakhir dengan hasil tidak sepadan. Sumber gambar: PA Images

Pada akhir 1999, muncul investor baru yang sangat dibutuhkan Arrows. Sosok itu seorang bangsawan Afrika misterius. Dia memperkenalkan diri sebagai Pangeran Malik.

Malik menempuh pendidikan di Inggris, meski tidak ada yang tahu tepatnya di mana. Pada banyak orang, dia mengklaim memiliki darah keturunan pangeran bagi orang-orang Suku Igbira di Nigeria. Klaimnya itu bisa jadi benar, meski sebetulnya ada 75 keluarga bangsawan berbeda di Nigeria dan tidak semuanya berpengaruh. Jadi ketika pangeran Nigeria bilang ingin berinvestasi pada tim F1 yang kamu miliki, seharusnya manajemen Arrows melakukan pemeriksaan latar belakang calon investor. Tapi Arrows kadung kesengsem pada Malik. Sang pangeran gila balap itu mengklaim pernah berpartisipasi dalam kontes Le Mans 24 Hours. Sampai sekarang tidak ada bukti sahih yang menunjukkan dia pernah mengikuti kontes adu ketahanan mobil di Prancis itu.

Walaupun kurang meyakinkan, Malik menjanjikan investasi sebesar $125 juta (setara Rp1,6 triliun) yang segera membuat Arrows terpikat. Dana sebesar itu dapat mentransformasi tim menjadi semakin kompetitif, termasuk bisa merekrut pebalap paling berbakat masuk tim. Bahkan sebagian mekanik segera membayangkan Arrows bisa menjadi kandidat juara dunia konstruktor mendengar Malik akan menyuntikkan modal fantastis. Walkinshaw segera menyetujui tawaran Malik melepas saham mayoritas, mengajaknya resmi bergabung dalam jajaran direksi. Walkinshaw sampai mengajak bankir superkaya Morgan Grenfell menjadi penasehat penjualan saham Arrows kepada Malik. Walkinshaw bertahan dalam direksi dengan kepemilikan 10 hingga 30 persen saham, sisanya menjadi milik sang pangeran Nigeria (angka ini berbeda-beda dari setiap sumber). 

Tim Arrows 1999, setelah kedatangan Malik, menjadi sangat menonjol secara estetik. Bagian belakang mobil masih dipenuhi ciri khas warna hitam dan putih dari musim sebelumnya, tapi bagian depan dicat oranye terang sebagai bentuk rasa hormat terhadap Repsol yang menjadi sponsor pebalap rekrutan baru mereka: Pedro de la Rosa. Sekarang, desain Arrows musim itu dianggap sebagai desain klasik yang dipuji banyak pecinta F1. Sayang, desain mobil mereka tidak berpengaruh sedikitpun pada performa mesin di atas sirkuit.

Tim Arrow pada musim balap 1999 sedang mengalami paceklik prestasi. Sumber gambar: PA Images

Setelah resmi menjadi pemilik Arrows, Malik bergegas menyewa perusahaan kehumasan kondang di Inggris, yang ditugaskan memoles citranya "seterkenal Eddie Jordan". Sejak awal dia tanpa ragu menunjukkan karakter sebagai orang yang senang mencari perhatian. Malik tidak hanya akan berdiam diri di samping sirkuit dan menonton hasil investasinya. Dia segera berkoar-koar berhasil mendatangkan kontrak-kontrak iklan untuk memperkuat keuangan tim. Sebagai awalan, dia menggandeng merek tak dikenal T-Minus sebagai sponsor. Merek itu segera muncul di samping badan mobil pada debut balapan San Marino (sebelumnya, bagian mobil itu kosong tanpa logo merek apapun). T-Minus mengklaim dirinya sebagai perusahaan yang memproduksi minuman energi dan menjual produk brand ulang seperti pakaian dan sepeda motor. Sesuai laporan jurnalis veteran F1, Joe Saward, T-Minus adalah perusahaan abal-abal yang "tidak menghasilkan uang sama sekali."

Dalam waktu singkat, semua rencana bisnis Pangeran Malik gagal total: penampilan tim di sirkuit pun kacau balau. Untungnya, De La Rosa dalam beberapa seri grand prix mampu menampilkan performa yang layak diacung jempol, kendati mesinnya sangat tidak kompetitif. Gaya balap De La Rosa saat itu mengingatkan orang pada nama-nama yang kini menguasai jagat F1 seperti Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel. Sayangnya, pembalap asal Spanyol tersebut gagal mengulang hasil bagus di lintasan balap karena memang tidak didukung mesin bertenaga prima. Teman setimnya, pembalap asal Jepang misterius Toranosuke "Tiger" Takagi, lebih parah lagi performanya. Ujung-ujungnya mereka hanya berhasil mencetak satu poin sepanjang musim 1999.

Di akhir musim, ketika realita pahit mulai mendekap tim, Malik menghilang. Dia gagal melunasi pembelian sahamnya sesuai batas yang telah ditentukan pada September Tahun 2000. Tom Walkinshaw segera mengambil alih tim kembali. Sponspor T-Minus dihapus dari mobil balap (diganti oleh nama Morgan Grenfell yang membeli jatah saham Malik dan akhirnya menggugat Arrows ke pengadilan). Sang Pangeran meninggalkan lintasan balap begitu saja.

Yang menyedihkan dari rentetan kejadian ini, Arrows tidak pernah benar-benar pulih dari janji investasi penuh PHP dari sang Pangeran. Mereka mencoba bertahan selama dua setengah tahun, namun akhirnya tutup garasi sepenuhnya pada musim 2002. Bisnis sang pemilik yang tertipu janji manis Malik juga terpengaruh. Walkinshaw meninggal pada 2010 ketika berumur 64 tahun, dengan beberapa utang belum terlunasi.

Biarpun Arrows menghilang dari kancah balapan gara-gara ulahnya, Malik masih belum puas juga. Dia ternyata tetap ingin berkutat dalam bisnis balapan, tapi bukan lagi di F1. Pada 2008, dia diadili di Amerika Serikat atas tuduhan mencuri dana yang diberikan kepadanya dengan dalih pengembangan karir seorang pebalap NASCAR muda. Malik tidak terbukti bersalah untuk dakwaan penggelapan uang, namun dilarang meninggalkan penjara Texas. Selain tak bisa membayar jaminan senilai Rp465 juta, dia terbukti memberi pernyataan palsu pada sesi pengadilan sebelumnya.

Malik (kanan) mendatangi grid ditemani petinju legendaris Frank Bruno, menyapa Martin Brundle yang saat itu masih sangat muda. Foto oleh PA Images.

Januari 2010 Malik semakin nyaman menetap di AS. Dia merintis perusahaan energi terbarukan yang dia beri nama: The Bridge. Mendadak datang surat perintah penangkapan Malik. Jaksa penuntut umum Texas menuding Malik menggelapkan dana rekanan bisnis senilai Rp2,6 miliar. Tidak jelas, apakah dia dinyatakan bersalah dalam kasus tersebut. Kami kesulitan melacak jejaknya. Malik masih mondar-mandir di berbagai perusahaan lintas negara. Awal 2017, dia tercatat bekerja untuk Nigus Greenenergy, perusahaan energi terbarukan berbasis di Nigeria.

Sampai sekarang orang-orang masih bingung, untuk apa Malik dulu masuk ke dunia F1? Apakah dia ingin mendapat uang? Tapi nyatanya dia justru menghabiskan dana cukup besar, setidaknya untuk menyewa agen humas. Apakah dia benar-benar percaya sponsor T-Minus bisa sukses? Apa mungkin dia hanya sekedar ingin merasakan dunia glamor Formula 1, bercanda tawa dengan para keluarga kerajaan dan selebriti di Monaco Grand Prix? Atau mungkinkah dia punya motif yang lebih jahat?

Kita tidak akan pernah tahu, karena Malik tidak pernah bersedia diwawancarai dan bisa menghindari pengadilan pada kasus Arrows. Dia pun tak pernah lagi membahas keterlibatannya di dunia olahraga balap. Pelajaran bisa kita petik dari cerita ini adalah kebenaran dari peribahasa tua: janji yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, kemungkinan besar memang abal-abal.

Follow akun penulis artikel ini di @Jim_Weeks