YG, Suara Kewarasan Amerika Di Jaman Edan

Rapper asal Bompton ini membeberkan album barunya 'Still Brazy' dan pentingnya melakukan perlawanan.

|
31 Juli 2016, 12:00am

Foto oleh Jason Favreau

Artikel ini pertama kali muncul di NOISEY US.

Rapper asli Compton ini bicara tentang album barunya "Still Brazy" dan betapa pentingnya menggunakan musik untuk menyampaikan pesan.

Awal minggu lalu, saya melihat YG masuk ruangan tempat kami dijadwalkan bertemu. Ia memeriksa penganan kecil yang disediakan, mengambil sebungkus jajanan buah dan melongok ke arah minuman soda sebelum meminta sebotol air putih. Ia berjalan dengan santai dan anggun, layaknya seekor singa.. Saya sering melihat orang berjalan santai,namun YG berjalan amat perlahan. Dia terlihat cuek namun sebetulnya "hadir."

Hari itu, ia mengenakan topi orang tua merah bertuliskan "4Hunnid," t-shirt putih polos, celana kargo pendek kotak-kotak, sepasang sneaker tanpa kaus kaki. Semua yang ia kenakan ini membuat terkesan seperti lelaki biasa yang nongkrong di coffee shop terdekat. Dua setengah tahun yang lalu, saat mempromosikan album debutnya, My Krazy Life, rapper asal Compton ini memproyeksikan dirinya sebagai rapper yang lesu namun sombong yang membuatnya dilihat sebagai rapper yang tengah naik daun. Kini, YG lebih dapat menguasai diri. Anda bisa merasakan karisma dan pengaruhnya tanpa pernah tahu apa yang membuatnya sukses. YG mungkin seorang entrepreneur, mungkin juga seorang aktor atau malah Gangster Rapper yang pernah dihasilkan LA di generasinya. Dan, memang YG-lah yang terbaik saat ini.

Album baru YG, Still Brazy, bukan album rap dengan segala diskursus musik yang dipacu meme ala album-album rap 2016. Ia juga bukan album yang gemerlap dengan beragam bintang tamu. Bahkan saat industri musik makin condong ke bentuk rilisan single, YG—yang bukan nama baru dalam bikin hit single dan sudah punya tempat di scene LA, sebagai seorang party rapper—malah mati-matian meramu album yang dari awal sampai akhir terdengar sebagai sebuah dunia sonik tersendiri. Album ini dengan mudah meringkas sound California Rap yang sudah berusia dua setengah dekade. Momen paling ngepop di album ini, "Twist My Fingaz," adalah merombak metafor-metafor G-funk klasik. Momen crossover paling nyata, yang mengejek dan menampilkan Drake "Why You Always Hatin'," bertumpu pada hook buatan rapper asal Oakland Kamaiyah yang terus melapisi style ngerap hangat ala California rap dekade 90an.

Still Brazy adalah narasi psikologis yang intense, penuh dengan acungan fuck-you, dan memiliki dosis kemarahan akan politik pragmatis yang tinggi. Still Brazy dengan kelam menyitir sebuah insiden penembakan YG di studio saat mengerjakan album ini (YG baru-baru ini ngobrol tentang insiden ini di VICELAND special "YG and the Therapist") di "Who Shot Ya," dan lagu terakhir di album ini, "Police Get Away with Murder". Lagu yang disebut terakhir ini menjejerkan pelbagai pembunuhan penduduk yang tak bersenjata oleh polisi seperti kasus Kimani Gray dan Laquan McDonald. Lagu ini diakhiri sebuah pernyataan "and they wonder why I live life looking over my shoulder." Still Brazy adalah sebuah ekplorasi susah payah akan sebuah dunia yang kelam.

Namun, momen yang paling menonjol dalam album ini adalah single tanpa omong kosong yang ia buat bersama Nipsey Hussle berjudul "Fuck Donald Trump." Anehnya — jangan lupa single ini dibuat oleh rapper yang jadi kondang gara-gara lagu "Toot It and Boot It"—lagu ini jadi lagu protes definitifdi tahun pemilihan umum yang kurang ajar absurdnya ini. Lagu ini adalah bentuk seni yang politis yang jelas-jelas badass. Ia punya modal hook ("fuck Donald Trump") yang gatel anda teriakan, meski dalam interval yang random. YG mengaku, etika Ia tengah keluyuran, orang-orang mulai berteriak "fuck Donald Trump" begitu mereka melihatnya. Ia telah sahih jadi seorang avatar bagi keberanian perlawanan atas demagog paling rasis di Amerika. Mengingat Trump memiliki platform publik yang luas, memiliki satu suara di sisi kita, di sisi rakyat Amerika, suara yang waras jadi sangat penting. YG memangselalu cool. Namun, tak pernah sekerenl akhir-akhir ini.

Noisey Beats1 ngobrol dengan YG tentang musiknya di set pembuatan video "Why You Always Hatin'" (Full Episode-nya bisa didengar di sini). Obrolan berlanjut, kini merambat ke situsasi politik saat ini, ketika baru-baru ini YG mampir ke kantor VICE offices in New York.

Noisey: Bagaimana rasanya merilis Still Brazy dan didengarkan oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia?
YG: Asik banget. Aku terjebak dalam dunia yang gelap untuk beberapa saat, jadi bisa menumpahkan beban di dadaku ini, merilisnya dan mulai bisa kembali wara-wiri rasanya luar biasa.

Bagaimana rasanya kerja bareng Terrace Martin di album ini?
Doi sohib gue. Dia sudah ada di album pertama tapi, dia mengerjakan lebih banyak hal di di album ini. Aku suka kerja bareng Terrace karena dia musisi sejati. Ia produser sejati. Aku bisa datang menemuinya dengan sebuah ide atau bilang 'coba deh ubah sample ini.' Terrace tahu cara melakukan semua itu. Ada banyak orang musik, namun mereka bukan produser. Mereka cuma beat maker. Jadi kalau kamu dekat dengan orang-orang spesial seperti ini, teruslah nongkrong dengan mereka. Mereka susah dicari.

Lagu apa yang menurut kamu paling menunjukkan kemampuan Terrace dalam menulis dan mengaransemen lagu?
'Bool, Balm & Bollective.'

Ngomong-ngomong tentang 'Bool Balm & Bollective.' Bagaimana proses pembuatannya?
Ia [Terrace] lagi asik bikin beat di bawah. Aku dengar dan langsung turun "gue suka nih, bentar gue punya sesuatu buat beat ini." Lalu, aku langsung ngerap. Kadang, begitulah rekaman terjadi dari sisiku: kalau aku dengar beat yang keren, aku langsung hajar saja secepatnya.

'Don't Come to LA' bicara tentang apa?
'Don't Come to LA' bicara tentang para pendatang yang tiba LA, lalu mereka mulai mengklaim budaya dan gaya hidup LA, padahal itu bukan milik mereka. Lagu itu tentang itu. Lagu ini tentang bagaimana kaum Afrika-Amerika harus mengakhiri fenomena ini. Ini bikin budaya kamijadi kurang greget. Banyak yang merasakan hal ini, tapi mereka ga punya suara dan sarana untuk bicara, menegaskan dan bilang ke pendatang itu, Bro ini ga keren. Jadi, biar aku saja yang melakukan itu.

Ada cerita di belakang keterlibatan Drake di 'Why You Always Hatin''?
Wah pertanyaan yang sering keluar nih. Banyak yang nanya tentang ini . Aku kirim lagunya ke Drake. Drake bilang dia suka lagunya dan ikut nyanyi. Drake kirim balik lagunya. Terus dirilis deh lagunya.

Bagaimana dengan Kamaiyah? Kalian sangat lekat. Apa sih yang bikin kamu tertarik pada musiknya?
Dia bakal terkenal. Dia punya gaya dan sound-nya sendiri. Aku ga pernah denger atau lihat artis perempuan dari Oakland yang terkenal dan sukses gara-gara ngerap. Kamaiyah punya ambisi yang besar. Di Oakland, sulit sekali untuk menembus industri musik. Oakland, bahkan mungkin seluruh Bay Area tidak mendapat banyak perhatian, Jadi, Kamaiyah harus melewati banyak hal ketika mencoba membuktikan dirinya sendiri.Dia keren banget.

Dalam urusan musik, bagaimana hubungan LA dan Bay area saat ini?
Kami saling menyukai satu sama lain. Bay Area sangat menyukaiku, suka banget! Aku sudah sering keluyuran ke sana dari tahun 2008, bersenang-senang, manggung di hood, di ghetto, bikin video dan urusan lainnya. Tapi ya, semua orang di dunia musik memang saling terlibat sekarang.

Apa banyak yang bertanya tentang masalah terapis yang kamu bahas di VICELAND?
Yeah, orang-orang suka banget tuh. Mereka bilang edisi itu kena banget. Mereka tersentuh. Aku bikin mereka menangis. Aku sudah dengar berbagai hal-hal yang gila. Teman-temanku bilang aku harus ketemu terapis, jadi saya pergi menemui terapis dan membiarkan Vice merekamnya. Kadang, kita perlu melakukan hal-hal yang berbeda.

Apa reaksi yang paling aneh?
Ayahku berkata, 'man, kita perlu ngobrol deh. Beberapa hal yang kamu sebut di acara itu, bikin aku sadar tentang beberapa hal. Beneran deh, kita perlu ngobrol.' Aku kaget, 'emangnya kita perlu ngobrolin apa? Ayah bikin takut aja.' Tapi okelah.

'Police Get Away with Murder,' itu topik yang besar sekarang. Apa pentingnya punya lagu itu di album barumu?
Ini hal yang sedang terjadi saat dan beneran deh, kita gak punya seorang pun di sisi musik rap yang benar-benar bicara, memprotes pemerintah, mewakili mereka di luar sana. Ini yang tengah terjadi ketika album ini dibuat. Aku, teman-temanku serta orang-orang di sekitar kami ngobrolin ini terus menerus: kasus Mike Brown, Eric Garner dan kasus pembunuhan orang-orang lain yang tak bersalah oleh polisi, kejadian di Baltimore serta kasus-kasus lainnya.

Jadi kita terus ngobrolin itu, dan aku bukan tipe orang yang omdo. Pilihannya cuma: kita melakukan sesuatu atau ya udah stop ngoceh. Ini kan terus diomongin, kamu bisa lihat di berita, masalahnya terus siapa yang bakal protes pada otoritas? orang-orang memang ngomel-ngomel, tapi efeknya tak terasa apalagi mengancam karena mereka melakukannya dengan halus. Jadi, kupikir aku yang harus mangambil peran itu. Lalu, aku rekam album ini, dan beberapa hal kemudian terjadi.

Teman-temanku memintaku untuk merilis album ini ketika kasus Baltimore sedang hangat-hangatnya, tapi aku jawab 'Enggak deh, aku ga mau rilis album ini sekarang karena kesannya aku cuma cari untung dari apa yang sedang terjadi, aku bakal simpan lagu ini karena pesannya real dan nampol.' Kejadian-kejadian lainnya terus terjadi, ini yang buat aku bikin 'Fuck Donald Trump' dan 'Blacks and Browns.' Lagu-lagu ini muncul karena aku merasakan hal yang sama saat mengerjakan album ini. Kami sering ngobrolin hal ini, jadi sekalian saja aku bikin album tentang itu.

Menurutmu ini saatnya para artis menulis hal-hal seperti ini?
Yeah, rapper-rappper itu harus melakukannya karena rap makin lama makin kacrut saja. Aku bosan melihat rapper-rapper yang dipuja-puji dan tidak melakukan apa-apa. Kalau anda adalah bagian dari kultur hip-hop, anda harus melihatnya sebagai sebuah kewajiban, titik. Ini yang awalnya membangun hip-hop. Hip-hop lahir ketika ada yang ngerap tentang apa yang terjadi di komunitas mereka, di kultur mereka. Mereka ngerap untuk membuat yang lain sadar dan bikin orang sadar eksistensi kita. Kita harus bersatu, kalau emang perlu. Dan akhir-akhir ini kenyataannya tidak seperti itu, jadi saya mau menggaris-bawahi masalah ini.

Awalnya musikmu sering ngomongin pesta, tapi sekarang kamu punya track 'Fuck Donald Trump,' kamu jadi muka dari ide itu. Gimana sih rasanya ditanyai banyak orang tentang politik?
Aku bukan politisi. Yang aku tahu ada yang gak bener, teman-temanku tahu ada yang gak bener, dan kami gak suka hal ini terjadi.. Aku bicara mewakili jalanan, untuk mereka yang ada di sana. Aku bisa jadi juru bicara mereka. Aku bukan politisi. Aku gak bisa ngoceh panjang lebar tentang hal itu. Tapi, aku tahu ada yang gak beres, Bro.

Justin Staple adalah produser untuk NOISEY. Bisa mem-folllow di Twitter.

Kyle Kramer adalah editor NOISEY. Bisa mem-follow di Twitter.