urusan percintaan

Satu Tes Psikologi Ini Bisa Bikin Semua Pasangan Kekasih Merasa Insecure

Sebesar apapun rasa percaya diri seseorang, mereka pasti akan tetap ciut selama tes. Jadi, kalau ogah ribut sama kekasih, enggah usah ikutan deh.
15 Januari 2020, 10:16am
Pasangan bertengkar di sofa
Foto oleh PredragImages via Getty Images

Ceritanya kamu dan pacar sepakat berpartisipasi dalam penelitian ilmiah tentang hubungan manusia. Kalian berdua yakin bisa melaluinya, apalagi instruksi tes ini cukup mudah. Kamu hanya perlu menyebutkan hal-hal yang kurang kamu sukai dari si doi. Kamu langsung menulis: Mudah tersinggung kalau sedang capek. Kamu kembali berpikir keras, mencari kira-kira apalagi yang paling bikin kamu kesal darinya. Suka merasa paling benar sendiri saat bertengkar. Malas cuci piring.

Kamu menimbang kembali tulisanmu sebelum akhirnya puas dengan tiga sifat itu. Kamu meletakkan pensil dan pura-pura melirik ke arah jam, meski sebenarnya kamu ingin melihat apa yang sedang dilakukan pacar. Di situ, kamu memperhatikan dia dengan percaya diri menulis di kertas. Enggak pakai mikir-mikir lagi. Sebelum tes, penguji mengatakan kamu dan pacar akan mendapat pertanyaan yang sama. Jangan-jangan…

Kamu langsung memikirkan yang aneh-aneh. Kamu meraih pensilnya lagi, dan mulai menulis dengan perasaan emosi. Malas membaca. E nggak bisa masak. Suka nyuruh-nyuruh. Yang enggak kamu ketahui, pacarmu disuruh menyebutkan semua benda yang ada di rumah, jadi dia sedang asyik menulis lampu, bantal, karpet dan keset.

Di sisi lain, kamu malah mengingat-ingat kembali semua pertengkaran kalian di masa lalu. Dari sini, peneliti menyimpulkan tanggapanmu dipengaruhi rasa kurang percaya diri, terutama kalau skor kuesioner sebelumnya menunjukkan kamu orangnya insecure. Menurut mereka, hubungan kalian mudah retak jika kamu membiarkan kelemahan ini mengalahkan pikiran rasional.

Skenario di atas menggambarkan poin yang ingin ditekankan peneliti. “Tak ada gunanya berpikiran negatif,” kira-kira begitu isinya. Namun, seenggaknya ada yang berusaha mereplikasi temuan ini. Kesimpulannya reaksi seseorang dalam skenario ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rasa percaya diri; eksperimennya lah yang kejam.

Temuan ini digunakan untuk mendukung hubungan antara rasa kurang PD dan kualitas hubungan yang buruk dalam buku The Power of Bad: How the Negativity Effect Rules Us and How We Can Rule It ciptaan John Tierney dan Roy F. Baumeister. Buku psikologi terus baru diterbitkan, dan dikutip The Atlantic Kamis pekan lalu. Sementara itu, eksperimennya pertama kali dilakukan pada 2002 oleh John Holmes dan Sandra Murray. Kedua peneliti bertujuan membuktikan orang yang rendah diri cenderung memproyeksikan pikiran negatif mereka ke pasangan.

Dalam eksperimen ini, peserta yang hasil surveinya menandakan mereka rendah diri cenderung bereaksi negatif dalam situasi seperti di atas. Mereka akhirnya memperbanyak daftar, tak seperti peserta dengan rasa percaya diri tinggi yang enggak mengkhawatirkan jawaban pasangan. Orang-orang ini dikatakan berpegang teguh pada jawaban pribadi.

"Reaksi orang insecure tak pada tempatnya, karena kenyataannya mereka sama-sama dihargai pasangan seperti orang yang percaya diri," tulis pengarang Power of Bad. “Namun, mereka menebak-nebak apa yang ada di pikiran pasangan. Mereka berasumsi pasangan akan menilainya secara negatif seperti mereka memandang diri sendiri.”

Sangat sulit membayangkan ada orang yang bisa tetap tenang dalam skenario di atas, tak peduli seberapa besar rasa percaya diri mereka—apalagi mereka sudah terang-terangan dikelabui peneliti. Kecurigaan ini berdasar dan masuk akal, menurut replikasi independen penelitian pada 2017. Subjek bersikap negatif terhadap taktik percobaan tiruan. Para peneliti menemukan peserta yang “percaya diri” dan “insecure” memiliki reaksi serupa, sehingga temuannya enggak konsisten dengan penelitian awal.

Hasil-hasil ini enggak mengejutkan, mengingat penelitian psikologi sosial terkenal sulit direplikasi. Ketika ditanyakan pendapatnya, Baumeister mengaku belum membaca studinya sebelum mengutip eksperimen asli Holmes dan Murray.

“Ada banyak kegagalan seperti itu dengan berbagai fenomena,” bunyi emailnya. “Tapi ini menjadi yang paling mengganggu karena mereka mendapatkan perbedaan signifikan lewat manipulasi. (Sebagian besar kegagalan untuk mereplikasi berbagai hal tak memiliki manipulation check signifikan, yang berarti mereka tak benar-benar menguji hipotesis.)” Kesulitan replikasi menghasilkan temuan seperti Holmes dan Murray yang mengandalkan alasan lemah untuk mendasarkan pemahaman siapapun akan hubungan—apalagi dimasukkan ke dalam buku.

Hubungan percintaan tak sebatas nonton berdua di bioskop atau selfie di nikahan teman. Akan tetapi, penelitian yang menimbulkan perasaan bersalah ini dengan sembarangan mengambil kesimpulan untuk memperkuat argumen. Sudah jelas enggak menandakan kegagalan suatu hubungan. Sangat normal kalau kamu merasa gelisah ketika berhadapan dengan skenario seperti di atas, karena pada dasarnya penelitian itu sengaja membuatmu merasa bersalah!

Perasaan insecure dan pikiran negatif terkadang muncul akibat situasi yang benar-benar kacau, bukan karena kamu enggak bisa mengendalikan rasa ketidakpercayaan dirimu. Tak peduli kamu berhadapan dengan psikologis sosial atau pacar, bereaksi negatif dalam situasi seperti ini tak serta-merta membuatmu jahat. Yang ada justru menunjukkan kamu cepat tanggap. Jadi, jangan biarkan buku yang asal-asalan menarik kesimpulan meyakinkanmu kelemahan dalam diri adalah alasan hubungan kalian takkan bertahan lama atau apalah itu. Kehidupan percintaan jauh lebih kompleks daripada yang kita kira.

Follow Katie Way di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.