Sains

Ilmuwan Temukan Virus Kuno Belum Pernah Diketahui Sebelumnya di Bawah Gletser Tibet

Temuan virus purba di bawah lapisan salju abadi ini kata ilmuwan fenomena lazim dan katanya sih tidak berbahaya.
29 Maret 2020, 7:00am
Ilmuwan Temukan Virus Kuno Belum Pernah Diketahui Sebelumnya di Bawah Gletser Tibet
Foto lapisan gletser di Pegunungan Himalaya via Getty Images 

15.000 tahun lalu, perairan di atas Dataran Tinggi Tibet membeku jadi gletser. Pada saat manusia sibuk mendomestikasi atau menjinakkan anjing, lapisan es menjerat jutaan organisme mikroskopis per inci persegi. Banyak makhluk hidup kecil mati karenanya, sedangkan genomnya—yang dapat membuktikan keberadaan mereka—perlahan berkurang. Pada 2015, para ilmuwan dari AS dan Tiongkok mengebor gletser sedalam 50 meter untuk menemukan hal-hal menarik yang mungkin terkubur di dalamnya.

Lima tahun kemudian, mereka menemukan bukti virus kuno di dalam lapisan es gletser, termasuk 28 kelompok virus baru dalam dunia sains. Penemuan ini dijelaskan dalam studi yang diterbitkan secara online awal Januari lalu dalam format pra-cetak.

Keberadaan mikroba kuno, seperti yang ditemukan dalam lapisan gletser, memberikan pandangan sekilas tentang sejarah evolusi dan perubahan iklim Bumi. Di saat planet ini mengalami perubahan iklim, catatan bekunya dapat memprediksi mikroorganisme mana saja yang akan bertahan dan seperti apa lingkungan yang tercipta.

“Es gletser mengandung beragam mikroba, tapi virus terkait dan dampaknya pada mikrobioma es belum dieksplorasi,” bunyi penelitiannya. Para penulis tak mau berkomentar, karena studi mereka belum ditelaah rekan sejawat. “Kami tertarik dengan bidang penelitian baru ini,” kata penulis Lonnie Thompson dalam email.

Scott O. Rogers, dosen besar Bowling Green State University dan penulis buku Defrosting Ancient Microbes: Emerging Genomes in a Warmer World, berujar virus yang diketahui sebagai inti es jarang diamati karena ukurannya terlalu kecil.

“Biomassa-nya sangat rendah sampai-sampai apa saja yang bagian luarnya terkontaminasi oleh virus akan berada pada konsentrasi jauh lebih tinggi daripada apa yang ada di bagian dalam inti esnya,” terang Scott. “Masalah dekontaminasi sangat penting, kalau kamu tidak mau cuma mendapatkan sampah.”

Menurut studi, tak ada prosedur khusus untuk menghindari kontaminasi saat pengeboran, penanganan, atau pengangkutan inti es. Penelitian ini mengutamakan perancangan dan pengujian proses tiga langkah untuk menghilangkan kontaminan permukaan. Dalam ruangan bersuhu -5ºC, para peneliti menggunakan gergaji pita untuk mengikis 0,5 centimeter dari keliling bagian es silinder. Setelah itu, mereka dua kali mencuci esnya. Pertama dengan etanol, kedua dengan air.

Mereka menguji protokolnya dengan menempelkan bakteri, virus, dan bahan genetik pada permukaan inti es yang sudah steril. Dalam semua kasus, prosedurnya berhasil membersihkan kontaminan.



Setelah menjalani prosedur pada dua inti es Dataran Tinggi Tibet, tim peneliti menggunakan teknik mikrobiologi untuk mencatat informasi sisa genetik yang tersimpan dalam es gletser. Mereka memperoleh informasi genetik dari 33 kelompok virus berbeda, yang mana 28 di antaranya tergolong baru.

Chantal Abergel, peneliti virologi lingkungan dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, berpendapat sama sekali tidak mengherankan jika virus-virus ini baru ditemukan sekarang.

“Kami belum mampu mengambil sampel seluruh keanekaragaman virus di Bumi,” ujar Chantal.

Dan kini, efek perubahan iklim bisa mempersulit ilmuwan dalam menemukan virus-virus kuno lainnya yang bersembunyi di dalam es gletser. Studinya menjelaskan pemanasan suhu dapat melelehkan gletser di seluruh dunia, lalu melepaskan mikroba dan virus yang telah terperangkap selama puluhan hingga ratusan ribu tahun.

“Setidaknya, ini bisa mengarah pada hilangnya arsip mikroba dan virus yang dapat menjadi diagnostik dan memberikan informasi tentang iklim Bumi di masa lalu. Akan tetapi, dalam skenario terburuk, pencairan es dapat melepaskan patogen ke lingkungan,” tulis peneliti.

Skenario terburuk itu tampaknya telah menjadi kenyataan pada 2016, ketika wabah antraks di Siberia membunuh 2.000 ekor rusa dan merumahsakitkan 96 orang. Spora antraks bisa hidup selama bertahun-tahun, dan pelelehan permafrost yang mencairkan bangkai rusa penuh bakteri diyakini menjadi penyebab wabah tersebut.

Virus beku dapat menyebabkan masalah serupa. Chantal dan suami memimpin tim peneliti yang menghidupkan kembali virus raksasa berusia 30.000 tahun dari permafrost. Hal ini menunjukkan virusnya masih bisa menyerang ameba bersel tunggal. Chantal menyampaikan kebangkitan virus purba bisa membawa masalah, tetapi manusia tak perlu parno berlebihan karena virus “ada di mana-mana” dan banyak yang lebih berbahaya terhadap bakteri daripada manusia.

Scott memiliki pandangan lebih buruk. Dalam bab Defrosting Ancient Microbes, dia dan penulis lainnya menggambarkan patogen dan bahaya apa saja yang terkait dengan penelitian es gletser.

Mereka menulis, “Bahaya yang ada di dalam es itu nyata. Semakin banyak lapisan es yang meleleh di seluruh dunia, maka semakin meningkat pula risiko lepasnya mikroba patogen.”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Iklan